Yang Penting Makan, Urusan Lain Belakangan

Cerpen

Soal kuliner saya termasuk orang yang tidak ribet atau pilah-pilih. Kebiasaan itu terbentuk sejak kali pertama tinggal di asrama sekolah sekitar tahun 2012 sampai sekarang ini. Terus apa hubungannya? Karena tinggal di asrama itu, soal makan kurang begitu terjamin. Makan selalu apa adanya, justru berbanding terbalik ketika tinggal di rumah. Kalau di rumah makanan biasanya sudah cemawis di meja, kalau di asrama harus masak sendiri kalau tak sempat ya biasanya beli. Tidak jarang jika pagi, siang dan malam ketemunya pasti kalau ndak sayur kangkung ya kubis. Sudah itu-itu saja. Namun sensasi masakan sendiri dan makan bersama-sama dengan kawan yang lain ternyata lebih gurih, padahal kalau dicicipi rasanya kongslet, ngalor-ngidul ra nggenah. Maka dalil yang shahih adalah sing penting wareg.

Awalnya, ada beberapa menu makanan khusus yang tidak saya sukai sedari kecil, yaitu terong dan tomat. Wahhh kalau sudah menjumpai sayur terong di meja makan mendadak libur, nafsu makan beralih jadi pengen makan orang. Tekstur terong dan tomat itu aneh, kenyal-kenyal mblegidig, kalau makan terong terus nanti dikira ‘terong-terongan’ deh.wkwk.

Tidak hanya terong dan tomat yang menjadi pantangan untuk dimakan, Sea Food kelas elit seperti lobster, kepiting, udang jerbung pun tak sanggup melawan nafsu makan saya. Sebenarnya mulut dan perut mau menampung mereka semua. Yang menjadi persoalan adalah tubuhku yang six pack ini tidak berkenan jika gizi yang ada dalam lobster mengalir di darahku, efeknya  bisa  alergi (gatal-gatal) jadi repot urusannya.

Padahal udang laut dan sekutunya sangat mudah saya dapatkan. Lah wong Bapak saya dulunya nelayan di pantai Pedalen, Argopeni, Ayah. Setiap pulang melaut pasti membawa berbagai jenis ikan untuk dimasak di rumah, misal ikan ketombol, layur, ikan Pe (pari-pari) dll. Itulah sebabnya saya tidak goblok-goblok amat karena untuk menyantap ikan laut tidak perlu menunggu satu bulan atau satu minggu sekali. Hampir setiap hari. Coba saja kalau saya makan udang dari kecil, wah pasti Albert Enstein IQ-nya kalah jauh dengan saya, hahaha. Ngimpiiiii…….

Walaupun saya geram dengan udang dan sebangsanya namun saya tetap perhatian dengan makhluk seperti mereka. Saya punya kisah yang tidak pernah saya lupakan. Kurang lebih 2 bulan saya bekerja mengurusi lobster di pantai Menganti mulai dari perawatan, packing sampai dikirim ke bosnya. Penghasilannya sangat lumayan lah, kalau sekadar untuk membeli kuota Telkomsel unlimited dan gincu merk Pixy Lip Cream untuk pacar jangka waktu dua bulan ya masih cukup lah. Itu saya lakukan setelah lulus SMP, mau bekerja karena efek jadi pengangguran padahal teman-teman yang lain mayoritas melanjutkan sekolah di SMK. Bagiku ora masalah. Ben ora dadi omongane tonggo maka saya inisiatif untuk bekerja “Bocah ko ngalor-ngidul ora nggenah, ora sekolah, mbok ya kerja!”  paling seperti itu. Alhasil, selama satu tahun saya memanfaatkan waktu itu untuk bekerja dan ndekem di rumah. Wenakkk lurr….. Setelah itu saya melanjutkan sekolah.

Oh iya, kembali ke udang dan sebangsanya. Kemarin di sela-sela waktu ngoreksi Penilaian Akhir Semester karena kegiatan belajar mengajar sudah tidak efektif beberapa guru yang dimotori oleh Pak Komarudin atau biasa saya panggil Pak Maruling (haram untuk siswa) dan Pak Gendro berinisiatif masak besar-besaran di sekolah. Tentu ini kesempatan yang begitu langka dan buket. Karena Pak Komar asli orang pantai (tentu juga saya) maka cara yang ampuh untuk memprovokasi guru-guru yang lain adalah mengiming-iming mereka untuk memasak ala sea food. Maklum lah, orang-orang kota kan jarang makan sea food.gkgk. Lobster, cumi-cumi monster, ikan jahanam (ikan manyung) dan kakap putih dibawanya dari rumah. Suasananya boleh dibilang mirip pesta rakyat.

Semuanya pun sibuk mencincang dan memasak sea food-nya. Setelah sekian jam, semua masakan pun sudah terhidangkan dengan sajian yang menggoda, ada ikan bakar, sayur kangkung, cumi petai, lobster saus tiram, sop ikan kakap, dan tidak lupa sambal krosak bikinan Mas Jebud. Komplitlah….

“Yuh Mad, madang!” Pak Komar mengajak!

“Ayuh, disit!” sahut saya. Saya pun bergegas mengambil piring.

“Kie lobstere dijajal, enakeeee……!” Pak Komar menghasut saya agar mau memakan udang lobster. Dalam hati sedikit memberontak, karena sudah bertahun-tahun saya ngilari sea food seperti udang. Pikiran masih kacau, antara mencoba makan lobster atau mengurungkan niat tersebut.

“Ora papa….dijajal bae, mangane pas kerian nggo penutup. Kan wetengmu wis keisinan sega karo iwak, dadi ora papa. Kecuali nek sing dipangan pertama kue urange, kue gelem gatel mengko.” kata Pak Anjar. Wah, rayuan maut muncul dari guru yang satu ini. Saya jadi ingat dalil orang makan ‘Sing penting madang, wareg’ soal alergi urusan belakangan. Naluri saya sebagai anak pantai pun tertantang, saya pun mbatin “walahh kur lobster be, soal kaya kue aman”.

Akhirnya saya mantap, tanpa berfikir panjang saya pun mengambil segluntung lobster di wajan. Aromanya sangat menggoda, tetapi masih menggoda senyumannya Dian Sastro,wkwk.

Dengan diawali basmallah, saya pun mencabik-cabik daging empuk tanpa ampun ikan kakap tak lupa dengan lobsternya. Yoo…ma men, rasanya memang mantapppp. Piring pun bersih tanpa sisa, kecuali tulang ikan. Karena seret, saya pun mengethorkan minuman, eh maksudnya mengiling minuman legendaris yaitu es teh ke dalam gelas yang berukuran jumbo. Glegek…glegekk….sueger…!!

Selesai lah petualangan saya dengan lobster dan sebangsanya.

Setelah berselang lama, rasa kantuk dan sedikit puyeng hinggap di kepalaku. Saya mencoba berjalan mencari tempat duduk dan sandaran yang tepat, ternyata sandaran yang tepat itu tidak saya temukan. Saya baru sadar, ternyata sandaran itu tidak ada dimana-mana melainkan berada di pundak lelaki. Mengapa? Karena pundak lelaki diciptakan untuk bersandarnya kekasih hati. Awokawok… Lelaki itu harus kuat, Men.

Setelah saya pikir dan saya rasakan, ternyata pusingnya bukan karena makan lobster, tetapi karena makan hati.

Begitulah petualanganku……..mana petualanganmu!