Wayang Islamkah?

BudayaEsai


Islam datang tidak dengan kosong tetapi dengan budaya yang telah ada, Islam tidak menghapus atau menghilangkan budaya tetapi mengakomodasi, memodifikasi merekontruksi, lebih tepatnya Islam berusaha menyelaraskan budaya dengan nilai Islam itu sendiri, jadi wajarlah jika dalam penyebaran agama Islam di Nusantara ditemukan  banyak peninggalan budaya yang sangat sesuai dengan Islam.

Salah satunya adalah wayang, wayang bentuk nyata dari hubungan agama dan budaya yang di buat oleh Walisongo untuk sarana dakwah Islam. Dalam sejarahnya saat itu wayang yang ada tidaklah seperti wayang yang kita kenal sekarang ini. Wayang dulu tidak menggunakan kulit melainkan menggunakan beber, sehingga pada waktu itu wayang yang dikenal adalah wayang purwa beber dan wayang wong. Semula pakem cerita wayang beberapa ada yang bertentangan yang kemudian oleh Sunan Kalijaga digubah sejalan dengan Islam, contohnya ; wayang yang tadinya berbentuk seperti manusia dalam kesatuan gambar diubah menjadi beberapa satuan gambar yang kemudian disempurnakan lagi oleh Sunan Kalijaga. Tangan wayang bisa juga bisa di gerakan seperti halnya gerkanan tubuh manusia. 

Dari pakem cerita  pewayangan misalnya cerita tentang Dewi Drupadadi yang poliandri istri dari pandawa digubah menjadi Dewi Drupadi merupakan hanya istri Yudhistira putra Pandu yang pertama, seperti juga Azimat kerajaan Amarta yang kekuatannya luar biasaa di  duniawi diubah namanya oleh Walisongo menjadi jimat Kalimosodo yang isinya dua kalimat syahadat.

Yang  dilakukan Walisongo tidak berhenti sampai disitu dari segi wayang untuk menarik masa juga diperhatikan maka adalah kelir, debog, blencong, gunungan yang itu menambah nilai estetik yang bisa menarik banyak masa. Walisongo juga melahirkan penafsiran yang sejalan dengan konteks Islam.

Baca juga:

Puisi Cinta Jalaluddin Rumi
Jaman Edan, Menurut Ronggowarsito di Serat Kalatidha

Banyangkan betapa indahnya kesenian tersebut di mana wayang telah bertransformasi menjadi seni  pertunjukan yang komplit, unsur musik, gambar, drama semua ada dan dipadupadankan menjadi sarana dakwah Islam.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa gerakan dakwah Islam  yang dilakukan Sunan  Kalijaga  memiliki cakupan ilmu yang luas. Sunan Kalijaga tidak sekadar menggarap bidang pendidikan melalui tembang-tembang namun juga menggarap bidang seni wayang yang penuh dengan nilai-nilai ruhani yang bersumber dari ilmu tasawuf.

Namun sekarang kesenian wayang sudah banyak di salah artikan. Banyak yang mengartikan hanya sebagai hiburan saja. Namun sejatinya wayang lebih dari sekadar tontonan namun juga menjadi tuntunan dalam berkehidupan. Sayangnya wayang perlahan-lahan mulai ditinggalkan oleh generasi muda sekarang. Sedikit yang tahu mengenai cerita, sejarah dan tujuannya. Apalagi dengan munculnya golongan Islam garis keras yang menganggap bahwa seni wayang adalah bid’ah, tidak baik dan tidak ada tuntunannya.

Yang jelas kita sebagai generasi muda sebaiknya bisa meneladani, mengambil contoh dalam berdakwah mengajak kebaikan. Bahwasannya menularkan kebaikan tidak selalu harus dibungkus dengan ceramah mimbar, kultum, pengajian tapi juga bisa menggunakan sarana lain yang itu dapat menjadi lebih efektif dan mudah diterima di berbagai kalangan.

M. Syakur