Wanita Bergaun Merah

Cerpen

Cerita ini bermula ketika aku masih duduk di bangku SD. Aku tinggal di sebuah desa yang masih asri, udaranya sejuk, dan masih banyak ditemukan pohon yang besar, mungkin usianya pepohonan tersebut sama seperti kakekku saat ini. Terlihat dari pohonnya yang menjulang tinggi, daun-daun kering juga berserakan di bawahnya. Setiap matahari menampakan sinarnya, burung-burung berkicau bersahutan tak beraturan. Suaranya seperti saat berada di pasar, siapa yang suaranya paling keras itulah yang paling terdengar jelas. Memang desaku masih sangat alami, tidak seperti suasana saat di kota.

Dulu kami di desa mempunyai kebiasaan berangkat bersama ke sekolah. Nah, untuk sampai di sekolah kami harus melewati sebuah pemakaman umum dengan jembatan tua yang cukup menegangkan. Suara riam aliran sungai, menambah aura mistis lokasi itu.

Rute tersebut juga sama kami lalui ketika hendak mengaji di masjid. Aku berangkat dari rumah sekitar jam 3 sore, perjalanan hanya membutuhkan waktu 10 menit saja dari rumah. Dan sudah menjadi jadwal rutin, kami biasanya pulang hampir maghrib tiba. Entah mengapa saat itu kami pulang mengaji agak sedikit telat. Tanpa aku sadari, ternyata hari itu adalah hari Kamis, otomatis malam Jum’at dong.

Hari sudah hampir gelap, aku dan temanku pulang seperti biasa melewati kuburan itu. Untuk menghilangkan kesunyian saat itu, aku reflek nyanyi “pada malam Jum’at Kliwon, aku pulang lewat kuburan”. Karena lagu itu lagi viral waktu itu. Setelah itu, aku diam. Aku melihat ada seorang wanita yang sedang menggendong bayi, tepat di depan pintu masuk kuburan.

Logikanya ya kan, ngapain ada emak-emak nggendong bayinya di kuburan, udah mau Maghrib juga. Dan anehnya lagi, dari rombongan itu cuma aku yang lihat. Teman-temanku gak ada yang lihat wanita itu.

Nah, ketika sampai rumah. Masih parno kan aku, rasanya campur aduk deh, ya takut, ya gak jelas deh pokoknya. Satu sisi aku memang gak terlalu percaya sama hal kek gituan sih, tapi kok aku mengalaminya hari itu. Ahhh, udah ah!!

Hari berlalu, dan keesokan harinya setelah pulang sekolah salah satu temenku yang kebetulan kemaren satu rombongan. Tiba tiba dia ngomong ke aku.

“Sist, kemaren lu liat ada wanita bergaun merah terus nggendong bayi di pintu masuk kuburan yah??” tanya ke aku.

“Eh, kok lu bisa tahu sih?” tanyaku.

“Tahu lah. Tadi malam dia datangin gue, dan dia bilang, ‘kalau lewat situ gak usah pada nyanyi-nyanyi, lebih baik baca doa aja!’ gitu.” ujar temanku.

“Oh,iya maaf, soalnya kemaren refleks aja pengen nyanyi kek gitu!” kataku, dengan merasa bersalah.

Usut punya usut, temenku yang satu ini ternyata punya kepekaan yang tinggi, atau biasa disebut sebagai anak indigo. Akhirnya, setelah kejadian itu, kami selalu berdoa terlebih saat melewati kuburan itu agar mereka tenang di alamnya, dan berharap sosok perempuan itu tidak muncul lagi dihadapanku.

Hiii….aakuuuttt…!!