Tumbuh Dewasa Dengan Tembang Ambyar Mas Didi Kempot

Esai

Lagu - lagu beliau sudah menemaniku sedari kecil. Aku yang tinggal bersama Mbah ku di kampung, sangatlah tidak asing dengan lagu - lagu beliau. Saat aku masih SD ketika TV yang ada hanya nyaut Channel TVRI lagu beliau sering diputer sore. Tidak hanya beliau, banyak artis atau penyanyi campur sari yang lain, tapi beliaulah yang paling bisa menarik hatiku.

baca juga: Menyemai Mimpi di Kapuas Hulu

Mungkin sudah 30 tahun beliau melalang buana di blantika musik campur sari Indonesia. Lagu Sewu Kuto adalah lagu yang paling fenomenal di zaman aku masih SD. Hampir setiap rumah, setiap mendendangkan lagu tersebut.

Lagu yang pertama berkesan untuk diriku adalah lagunya yang berjudul kuncung. Hal tersebut sesuai dengan kondisi diriku yang memang kecil dicukur kuncung. Kalau mandi cukup menggunakan sarung sebagai handuk. Makan nasi jagung atau nasi tiwul sudah biasa. Baju yang aku pakai adalah warisan dari Mbah Kakung. Hampir semua lirik di lagu tersebut sesuai dengan keadaanku zaman itu.

baca juga: Ketika Bisnis Lebih Ganas daripada Virus Corona

Lagu - lagu beliau juga menemani diriku dalam belajar. Dengan radio jadul di kamar pemberian pamanku, nyanyian Didi Kempot selalu memacu diriku belajar. Kadang ketika lagunya di puter, aku hanya merebahkan badanku sambil berfikir tentang masa depan.

Ketika persiapan masuk ke perguruan tinggi lagu beliau selalu aku tunggu diputer di radio kesayangan ku. Melalui SKB POP FM Gombong yang sekarang juga sudah tinggal nama, beliau menemani aku dalam belajar. Lagunya yang berjudul "Ketaman Asmara" sangat kental karena aku yang belum bisa move on dari orang yang aku cinta sejak SMP.

Sejak kuliah lagu beliau yang baru mulai muncul. Banyu langit, dalan anyar, pantai klayar, suket teki, adalah lagu yang aku kenal waktu kuliah di Jogja. Secara kualitas sangat bagus hingga aku sangat menyukainya. Lagu - lagu beliau adalah teman belajar dan teman mengerjakan tugas. Via YouTube aku selalu mendengarkan lagu beliau.

baca juga: Kebaikan Orang Watukelir di Bandung

Pengalaman nonton konser Didi Kempot jujur baru dua kali. Pertama adalah di UGM ketika para UKM mengadakan konser sebagai penutupan salah satu prokernya. Ditemani sahabatku Syahri Damas Sutrisno itu adalah konser yang luar biasa. Konser kedua yang aku tonton adalah di Petulu Indah Kebumen. Jauhnya jarak rumah ku dengan lokasi konser tidak menjadi masalah. Lagi - lagi aku ditemani Damas dalam nonton konser. Beliau berangkat dari Jogja naik kereta Prameks yang disambung naik bis dari Kutoarjo. Selesainya nonton konser kami menginap di gedung PC NU Kebumen dan bertemu dengan Anwar serta Lurah tigongdoso.com Trio Agustin.

Hampir satu tahun yang lalu Didi Kempot viral karena penonton yang dramatis. Agus Mulyadi pun membuat Thread di Twitter tentang pujian kepada Didi Kempot. Cuitan Agus Mulyadi di Twitter juga tidak kalah viral hingga menaikan follower nya mencapai ribuan. Thread nya di Twitter kemudian ia pindahkan ke mojok.co yang akhirnya aku juga pernah menggunakan tulisan tersebut untuk materi vokasi jurnalistik di tempat saya mengajar. Sejak saat itulah booming istilah sobat ambyar.

baca juga: Pentinge Paguyuban Nang Mangsa Corona

Kini lord of broken heart sudah benar - benar pergi. Sungguh sakit hati bagi kami tidak akan ada yang bisa menghiburnya lagi. Selamat jalan mas Didi dari mu aku belajar kalau sakit hati bukan ditangisi tapi dijogeti.

[/pl_text]
[/pl_col]
[/pl_row]