Tradisi Ramadan, Berburu Tanda Tangan

Esai

Di bulan Ramadan, mengingatkan tempo dulu saat mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD). Pasti tahu dengan yang namanya “Buku Ramadan” kan? Yaps betul, yaitu buku yang berisi tentang laporan seputar kegiatan selama bulan Ramadan yang harus diisi oleh setiap siswa. Saya masih ingat betul dengan buku tipis yang seakan tak berharga, tetapi wajib di miliki oleh setiap siswa. Sampul bukunya bergambar masjid Agung Kebumen sekitar tahun 2000-an. Tentu sangat legendaris.

Buku yang berisi daftar kegiatan bulan Ramadan itu meliputi rajin dan tidaknya menunaikan ibadah puasa, salat wajib, salat tarawih, tadarus bahkan sampai mencatat laporan ceramah salat Jum’at di masjid tempat saya tinggal.

baca juga: Santri Tulen Vs Tukang Cukur


Buku Ramadan itu dulu dianggap bak senjata yang harus dibawa kemana-mana. Sampai-sampai buku yang awalnya klimis berubah wujud menjadi seperti kaprok (lusuh) tak karuan. Memang sih dengan kondisi buku yang demikian bisa menambah keabsahan laporan kegiatan selama Ramadan, cukup menjadi bukti bahwa buku itu diisi dengan sungguh-sungguh dan jujur. Sebenarnya buku laporan itu bisa diisi dengan laporan palsu. Hanya  saja ada beberapa kolom yang mungkin tidak dapat dipalsukan karena harus dibubuhi tanda tangan oleh kiai sebagai imam salat. Salah satu yang harus ditandantangani adalah kolom salat tarawih. 


Selain menjadi tolak ukur keaktifan siswa di mata guru, buku ini tampaknya juga menjadi ajang pamer kesholehan bagi pemiliknya dalam menjalankan ritual di bulan suci Ramadan. Yang rajin ikut salat tarawih biasanya petenthengan memamerkan buku laporannya yang penuh dengan paraf imam salat. “Jel nggonmu endi, absen ping pira? Conto nggon aku, rajin!” begitulah kesombongan yang ditunjukan anak SD saat itu dengan menunjukan paraf sang kiai.


baca juga: Ketika Buruh Tani Meminta Barokah kepada Kaum Santri


Nah, sialnya bagi yang sering bolong salat tarawihnya mau tak mau hanya bisa diam dan pasrah. Dan saya termasuk golongan yang nrimo karena jarang berangkat salat tarawih.hee


Dengan kondisi yang demikian, jangan heran bila waktu SD dulu paraf sang kiai  menjadi sesuatu yang berharga. Karena saking banyaknya yang ingin minta tanda tangan sang kiai tidak jarang saling berebut ingin duluan, bahkan ada yang sampai nangis kakinya diinjak teman yang lain. Yang sering berebut  tanda tangan itu termasuk golongan anak yang rajin. Sementara golongan yang pemalas cukup dititipkan kepada temannya. Ada juga yang awal puasa bukunya masih kosong barulah setelah Ramadan seketika full. Begitulah kelucuan zaman old dulu.


baca juga: Cara Makan Yang Benar Ala Kiai Kholil


Paling sial pernah di alami teman satu kelas karena buku laporan kegiatan Ramadannya hilang. Sudah capek-capek minta tanda tangan kiai eh hilang. Yo wis……


Heee…. mungkin hanya di momen bulan Ramadan yang bisa membuat tanda tangan imam salat menjadi begitu so sweet ketimbang bungan mawar atau pun coklat merek silver queen. Romantisnya sebelas dua belas dengan tanda tangan yang tertera di buku nikah. Katanya……wkwk.