Tentang Pertanyaan “Kapan Kamu Nikah dan Punya Anak?”

Esai


Sebagai seorang yang masih lajang, dalam pergaulan sehari-hari saya sering mendapati pertanyaan “kapan kamu nikah?” yang dilontarkan oleh saudara, teman, dan tetangga. Sebenarnya bukan hal yang susah untuk menjawab pertanyaan ini. Yang menjadi masalah, jika si penanya melontarkan pertanyaan itu hanya untuk mengejek, menertawakan diri kita yang notabenya masih lajang.

Kadang saya juga sering mendapati pasangan suami istri yang sudah berumah tangga beberapa tahun tapi belum di karunia momongan. Tak jarang, banyak orang bertanya pada Pasutri tersebut dengan pertanyaan yang sensitif dihadapan orang banyak. “Kapan Kalian Punya Anak? wong nikahnya sudah lama koh..”. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Pasutri tersebut setelah mendapatkan pertanyaan seperti itu.

Sebenarnya yang jadi masalah bukan soal pertanyaan tersebut, tapi soal apa tujuan orang menanyakan tersebut. Jika pertanyaan itu dilontarkan untuk tujuan benar-benar ingin tau dan akan memberi solusi atau minimal mendoakan supaya mendapat jodoh atau keturunan sih malah bagus. Tapi faktanya banyak orang yang menanyakan hal tersebut hanya untuk bahan candaan semata di depan orang banyak. Bayangkang bagaimana jika hal ini berbalik ditujukan kepada kalian yang gemar bertanya seperti itu?

Perlu kita pahami bersama. Terkait jodoh dan keturunan bukanlah kehendak kita sendiri, tapi disitu ada ketetapan Tuhan yang tak bisa kita terjang. Walaupun sudah berbagai cara kita usahakan, kadang hasilnya tidak seperti yang kita harapkan.

Kita pasti sering melihat banyak orang yang sudah lama pacaran atau bahkan sudah bertunangan tapi tiba-tiba gagal hanya karna suatu masalah yang sepele. Sebaliknya, ada beberapa orang yang hanya beberapa hari bertemu malah dengan cepat mereka melaksanakan pernikahan.

Tak jarang, banyak pasutri yang sudah lama menikah juga belum kunjung di karuniai keturunan walaupun berbagai pengobatan, terapi sudah mereka lakukan, tapi hasilnya masih nihil. Juga ada yang baru beberapa minggu menikah, dengar-dengar pengantin wanitanya sudah nyidam.

Dari fakta-fakta tersebut, seharusnya kalian yang sering bertanya terkait jodoh dan keturunan secara berlebihan, hendaknya berfikir dan lebih melihat keadaan, sebelum mengajukan pertanyaan tersebut. Apakah pertanyaan kalian akan menyinggung orang yang ditanya atau tidak? akan menjadikan malu orang yang ditanya apa tidak?

Bisa jadi, pertanyaan kalian tentang hal jodoh dan keturunan yang kalian ajukan hanya untuk bercada, bahan ejekan, atau olok-olokan adalah suatu hal yang benar-benar sedang diusahakan dan sangat di inginkan oleh orang yang kalian tanya. Bukan mendapat jawaban, yang ada malah pertanyaan kalian hanya akan menjadikan orang yang kalian tanya menjadi tersinggung, merasa terluka, dan menjadi sebab tumbuhnya rasa benci dalam hatinya kepada kalian.

Kesimpulannya; Jika kita sebagai manusia masih mengaku sebagai hambaNya, dan percaya dengan ketetapanNya terkait jodoh dan keturunan. Mari saling menjaga rasa antar sesama manusia.