Tebak- tebakkan yang Berakhir dengan Antem-Anteman

Esai



Besi sekilo dengan kapas sekilo berat mana ? Hayooo ? Pembaca budiman pasti pernah mendengar tebak-tebakkan ini. Tebak-tebakkan yang pernah masyur beberapa tahun lalu ternyata pernah memakan korban. 

Kejadian ini terjadi ketika itu Basuki habis belanja di Galeria Matahari Yogyakarta tanggal 6 November tahun 2002. Sehabis belanja sekitar pukul 23.30 WIB Basuki diajak oleh Sigit dan tiga pemuda lainya untuk minum-minum di sebuah wartel dikomplek rumahnya di Padukuhan Pringgodani, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Wartel tersebut merupakan tempat tongkrongan biasa pemuda komplek tersebut sering kumpul dan minum-minum. 

Obrolan malam itu cukup gayeng, sampe Basuki pun melontarkan tebak-tebakkan “besi sekilo dengan kapas sekilo berat mana ?”. Pertanyaan itu langsung disambar Sigit dengan jawaban “ya besi lah!”. Basuki agak kesal dan mengulangi pertanyaannya, Sigit pun tidak berubah jawabannya. Setelah pertanyaan diulang lima kali, akhirnya Basuki angkat bicara, “bodoh, ya sama sajah beratnya, yang beda hanya masa nya”. 

Sigit tidak mau disalahkan, eyel-eyellan terjadi diantara keduanya. Sampai Sigit dan Basuki bertaruh jika jawaban Basuki yang benar Sigit rela membayar satu juta, jumlah yang cukup besar pada saat itu. Demikian juga dengan Basuki yang rela memberikan motor Supra nya jika Sigit menang, dimana Supra adalah kendaraan yang cukup bagus pada saat itu.

Eyel-eyellan diantara keduanya berakhir dengan adu jotos. Mungkin daripada cuman adu mulut, lebih baik adu jotos karena Tuhan telah menciptakan dua tangan. Akhirnya Sigit di K.O Basuki dan pertarungan malam itu pun dilerai oleh Triono agar tidak berlanjut dan menyuruh Sigit pulang dimana rumah Sigit hanya berjarak 100 meter dari lokasi kejadian.

baca juga: 

  • Puisi Cinta Jalaluddin Rumi
  • Jaman Edan, Menurut Ronggowarsito di Serat Kalatidha
Sekitar setengah jam Sigit muncul lagi, entah maksudnya apa yang jelas Basuki menonjoknya lagi. Darah segar pun mengalir dari dagu dan pelipis Sigit. Triono pun menjadi korban mendapat pukulan dan tendangan karena melerai kedua belah pihak.

Esok harinya Sigit didampingi ayahnya mengadu ke Polsek Depok. Sore harinya sejumlah pemuda dan tokoh masyarakat mengadakan rapat di rumah Sigit. Isi kesepakatannya Sigit mencabut laporan tersebut dan menyelesaikan perkara ini secara kekeluargaan.

Basuki juga sepakat untuk menanggung sebagian biaya pengobatan Sigit. Selain itu Basuki juga sepakat untuk menandatangani surat permintaan maaf kepada Sigit, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Jika suatu saat mengulangi perbuatannya Basuki siap untuk di hajar masyarakat dan dan diusir dari kampung nya. 

Intinya satu lur, jangan main tebak – tebakkan sambil minum-minum hehehehe

Sumber : Gatra News Gatrasiana

Selain Tugu Lawet, Tugu Ini Juga Harus Ada di Kebumen