Susahnya Menikah dengan Orang Bugis

BudayaEsai

Pembaca yang budiman, pasti sudah banyak beredar kalau menikah dengan perempuan dari suku Bugis memang memerlukan syarat yang tidak mudah. Bukan berarti saya menjelekkan salah satu suku dengan keunikan budayanya, namun kadang pelaksanaan budaya itu memberatkan bagi masyarakat.Sebenarnya bukan hanya dengan orang Bugis sajah menikah dengan syarat yang seabreg, yang jelas nikah beda suku dan budaya memang memerlukan perjuangan yang besar. Seringkali yang menjadi hambatan adalah perbedaan budaya, terlebih bagi masing-masing orang yang bersikukuh dengan budayanya. Terlebih, perbedaan budaya itu yang memberatkan bagi salah satu calon. Tak jarang jika kisah cinta yang begitu manis harus berujung perpisahan.

Hal ini termasuk juga berlaku bagi kawan saya ini, kawan karib waktu kuliah, waktu berjuang di kampus, baik lomba maupun mewarnai politik kampus. Iya nasib baik beliau mendapatkan hati orang Bugis, cantik dengan kulit putih dan keturan ningrat suku Bugis. Sungguh keberuntungan yang luar biasa teman saya ini yang asli South Mountain bisa mendapatkan cintanya.

Kisah cinta mereka memang serasi. Berbagai hal sudah mereka lalui bersama di bangku kuliah. Mulai dari belajar bersama sampai melalui kegiatan lain yang menjadi bumbu kisah cinta mereka. Pasca lulus kedua teman saya ini merantau ke Jakarta, mengadu nasib di kota yang katanya bisa menggaji orang dengan angka yang cukup.

Baca Juga: Kebumen Termiskin di Jateng dan Beragam Respon dari Netizen Plat AA

Perjalanan hidup memang harus dilaluinya, dan nasib baik masih mengikuti kawan saya ini. Beliau kerja di sebuah kantor kontraktor sebagai seorang akuntan, sedangkan pacarnya kerja di kantor konsultan pajak. Sungguh nasib baik, masa depan cerah seharusnya secerah masa depan kisah cinta mereka. Berbeda dengan saya, saya berjuang dan menunggu beberapa bulan dulu baru bisa lulus dan melanjutkan belajar di pesantren sambil mengabdi di lembaga pendidikannya.

Libur natal ini, saat malam ke 7 hari meninggalkan Mbah Kyai, teman saya ini mampir ke pondok saya, kebetulan beliau sedang libur natal. Setelah acara selesai, dan saya selesai tugas Laden saya hampiri temen saya yang menunggu di pintu belakang pesantren. Kita akhirnya ngobrol-ngobrol dengan ditemani kopi dan semangkok Indomie, yahh lumayan bisa buat menghangatkan badan.

Kami pun saling melempar cerita, pengalaman kami masing-masing. Bagaimana hidup temen saya di Jakarta dan bagaimana saya hidup di pesantren. Cerita mulai dari biaya hidup minimal di Jakarta temen saya yang habis 3 juta, sampai akhirnya terpaksa ikut gabung tinggal di masjid untuk menghemat biaya hidup. Memang hidup di Jakarta itu keras, sekeras dulu kita bolak-balik lomba sampai nginep di masjid kampus hehehe.

Cerita anak muda seperti kami kurang afdol kalau belum membahas masalah ciwi-ciwi. Nah akhirnya cerita kami bersambung ke cerita bagaimana nasib hubungannya dengan anak Bugis itu. Akhirnya dia pun cerita kalau hubungannya harus kandas. Bukan cinta yang kurang dalam, tapi terbentur syarat untuk menjadi menantu orang Bugis. Teman saya yang orang biasa-biasa ini harus membayar kurang lebih Rp. 300 juta juga agar bisa meminang pujaan hatinya.

Baca Juga: Saya Bukan Warga Kebumen Yang Misquen

Konon katanya kalau mau menikah dengan orang Bugis, kita harus membayar uang panai’. Sosiolog dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Rahmat Muhammad, menjelaskan uang panai dikenal dalam tradisi pernikahan masyarakat Bugis-Makassar. Sejatinya, uang panai adalah perlambang penghormatan suku Bugis-Makassar terhadap kaum perempuan, diwujudkan secara spesifik sebagai penghormatan calon suami terhadap calon istri.

Uang panai’ juga disebut sebagai perlambang keseriusan seorang laki-laki dalam meminang pujaan hatinya. Bagaimana sang calon suami bisa memenuhi uang panai’ adalah bukti keseriusan dan bukti bahwa sang calon laki-laki menghormati perempuan terlebih calon istrinya. Dapat menjadi masalah kalau uang panai’ tidak bisa dipenuhi, bisa jadi masalah. Kisah cinta bisa putus gara-gara kantong cekak. Hal inilah yang terjadi pula pada kawanku ini.

Kisah cintanya inipun kandas, ya apa mau dibuat halangan untuk itu sangatlah tinggi. Sang mempelai perempuan meminta temen saya untuk menemui papahnya dulu, namun temen saya tidak mau dan tidak berani. Iya mungkin terlalu beresiko kalau bertemu dengan orang tuanya. Akhirnya sang perempuan pun bilang, “dengan gaji sekian, maka butuh waktu bertaun-taun kamu bisa menikah denganku, kelamaan, kita sudahi saya hubungan ini.” Waduhhh aku yang mendengar ceritanya koq juga ikut nelangsa. Nah akhirnya temen saya inipun bertekat, ya udah lah besok cari orang Jawa sajah hehehhehee

Iya gini nih lur, kadang cinta kandas bukan karena tidak cinta lagi. Nah dari kisah cinta itu kita jadi tau, bahwa banyak “barrier to entry”  untuk menikah dengan orang lain suku, terutama dengan suku Bugis.

Baca Juga: Jamu Simbol Keagungan Peradaban