Surat (Cerita Pendek)

Cerpen

Kuambil secarik kertas yang bergambar love di pojok kiri bawah, aku persiapkan untuk menyalin setiap kata yang istimewa, bagiku begitu istimewa. Aku duduk, sambil meminum segelas kopi pahit di teras rumah, dan hanya ditemani oleh malam. Malam datang bersama angin, hembusannya menyapaku dan menyibakan tangannya ke ujung rambut sampai ke telingaku. Angin tahu, bahwa temanku hanyalah malam, karena dialah yang begitu setia menemani disetiap kesunyian.

Aku pun mengambil amplop coklat, dengan garis-garis berwarna ungu dan merah di tepi dengan kondisi kusut dimakan waktu.  Walau kusut, aku percaya amplop itu tidak akan berkhianat dan membocorkan kata-kata yang aku tulis. Bolpoint bermerek Snowman V5 dengan tinta berwarna biru tua siap menari diatas kertas yang lembut, selembut perkataannya.

Kami mulai berbincang ringan dengan malam, yang pada akhirnya menuju sampai persoalan yang aku perlu banyak pertimbangan. Berharap mendapatkan pencerahan darinya. Yah, walaupun malam pun butuh cahaya untuk menerangi dirinya. Aku mencoba untuk berprasangka baik saja, siapa tahu dia mempunyai jawaban yang aku butuhkan.

‘Malam, apa yang semestinya aku tulis di kertas ini? tanyaku. Aku bertanya karena untuk memulai kata yang aku tidak tahu dari mana.

‘Kopinya diminum dulu lah, tidak usah terburu-buru untuk menulisnya. Tenangkan hatimu.’ Jawab malam dengan santai.

‘Kamu tidak tau sih apa yang aku rasakan? Bagaimana aku bisa tenang coba, iya karena kamu tak pernah merasakan apa yang aku rasa?’ dengan kesal aku menimpali jawaban malam. Karena aku rasa malam tidak pernah tahu apa yang manusia rasakan ketika diguncang asmara.

‘Kata siapa, aku tidak tahu. Aku juga merasakan apa yang kamu rasa. Asal kamu tahu, seluruh isi alam ini mempunyai pasangannya masing-masing. Jauh berpasangan dengan dekat, senja berpasangan dengan fajar, dan Adam punya istri Hawa. Begitu pun Aku. Selama ini aku hanya mendapatkan salam saja dari siang. Belum pernah sedikit pun kami bertemu.’ Kali ini malam menjawabnya dengan intonasi ngegas.

Aku tertegun mendengar apa yang disampaikan oleh malam. Sedikit pun tidak pernah terlintas di benakku kalau malam akan mengatakan seperti itu. Aku baru sadar bahwa segala sesuatu di alam ini sejatinya hidup itu sudah berpasang-pasangan.

‘Iya lah, maaf.’ kataku.

Akhirnya aku pun menuruti apa yang malam sampaikan, meneguk sesekali kopi pahit yang mulai dingin,  seperti agar-agar di warung. Sementara Angin hanya diam saja, mengamati perbincangan kami berdua.

Keheningan malam itu sempat mewarnai kami bertiga.

‘Aku bingung, apa yang harus aku tulis?’Aku pun mencoba memberanikan kembali untuk melontarkan pertanyaan ke mereka. Sengaja tidak aku tujukan ke salah satu dari mereka agar siapa saja bisa menjawab kebingungan yang kupendam selama ini. Karena seumur-umur aku belum pernah menyusun kata sekaligus aku kirimkan secara khusus kepada orang yang aku cinta.

‘Wanita itu suka keindahan, jadi buatlah kalimat dalam suratmu yang puitis.’ celetukan angin, tanpa dinyana sebelumnya olehku.

‘Coba bagaimana? percuma kalau memberi masukan tanpa memberikan contohnya. Aku pernah mendengar dari mulut wanita jika ucapan tanpa tindakan adalah penipuan. Aku tidak ingin dicap sebagai penipu.’ Aku sedikit kesal kepada angin.

‘Yaelah, pantesan setiap kamu punya pacar hanya bertahan seumur jagung, nulis kata romantis aja tidak bisa. Halah payah!’ jawab angin dengan sombongnya.

‘Ya udah gimana? kasih contohnya donk.’ Aku terus merayu angin agar berkenan memberikan tutorial perbucinannya untuk meluluhkan hati wanita.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

‘Ini contoh kalimat yang sangat indah dari aku’ ucap angin dengan sombongnya.

‘Eh, angin semprul….jangan mengaku-ngaku itu karyamu yah! Pelanggaran hak cipta aja, yang kamu baca tadi itu puisinya Sapardi Djoko Damono, kamu sudah bosan hidup di alam bebas ya?’ Malam sedikit kesal dengan contoh kalimat romantis yang diberikan angin kepada ku.

‘Bosan hidup di alam bebas gimana maksudnya?’ tanya angin, penasaran.

‘Ya, pengen hidup dipenjara. Kan plagiat kamu.’ Jawab malam, singkat.

‘Sudah, sudah…kok kalian berdua malah jadi ribut sih, bukannya memberikan solusi yang tepat, eh malah bikin tambah runyam pikiran aja.’ dengan sangat kesal saya memotong perseteruan mereka berdua.

‘Sekarang mendingan kamu tulis sendiri saja kata-kata itu, tidak usah terpengaruh denganku dan angin. Aku yakin, jika kamu menulisnya murni dari lubuk hati yang paling dalam fill kata yang ingin kamu sampaikan akan lebih nyampai dia. Lagi pula, aku kan tidak tahu sepenuhnya apa yang kamu rasa. Alangkah baiknya jika kamu tulis sendiri saja.’ Kali ini aku merasa nasihat dari malam dapat diterima oleh akal.

‘Baiklah, untuk kali ini aku percaya sama kalian.’ Jawabku.

Kertas bergaris yang berukuran A5 itu aku letakan diatas meja santai, di teras rumah. Nuansa malam berubah menjadi lebih lebih sunyi, seolah sedang memperhatikan apa yang hendak aku gores di permukaan kertas itu. Aku tidak cukup yakin tulisanku bisa dibaca dengan baik oleh seseorang yang aku tuju, karena model tulisanku bergaya latin seperti tulisan bapak-bapak jaman dulu, dan itu sudah mendarah daging di tanganku. Sebetulnya aku heran sih, kok bisa gitu ya? Ah, bodo amat lah.

Saat kuambil pucuk dan kulepaskan tutup bolpoint itu, tanganku mendadak bergetar hebat tak terkendali.  Dag..dig…dug denyut nadi semakin kencang. Sementara itu angin dan malam sedang ngobrol asik aja, aku mendengar dengan sayup-sayup mereka juga sedang resah dalam mengarungi perjalanan cintanya selama ini.

Aku pun memulainya dengan menulis tanggal surat dipojok kanan atas.

“Gombong, 30 September 2020”

Dear; Engkau yang selalu menyelip di pikiranku.

Aku harus panggil engkau apa? Apakah aku panggil engkau dengan nama udara, karena engkau yang merasuk di setiap hirup nafas di dada. Tanpa engkau apalah daya, tubuhku akan jatuh akibat sesak yang kurasa.

Aku harus panggil engkau apa? Apakah aku panggil engkau dengan nama Air, yang mengalir di setiap sendi dan rongga jiwa. Tanpa engkau apalah daya, jiwaku kering kerontang akibat dahaga yang menyiksa.

Aku harus panggil engkau apa? Apakah aku panggil engkau dengan nama Api, yang berkobar cinta di relung hati. Tanpa engkau apalah daya, hasrat hidup padam tak membara.

Aku harus panggil engkau apa? Apakah aku panggil engkau dengan nama Tanah, sebagai pijakan cinta disetiap langkah asa. Tanpa engkau apalah daya, langkahku hampa tak berpijak.

Apa, aku harus panggil engkau dengan sebutan Naba? Yang berarti kabar baik, karena apa yang keluar dari mulutmu adalah pengobat rindu untukku.

Ataukah, aku harus panggil engkau dengan sebutan lain yaitu Dewi? Yang berarti tabah, karena bayangmu adalah obat dikala gundah.

Entah mengapa ditengah-tengah menulis surat aku merasa bingung. Mentok. Aku letakan bolpointnya. Meminum kopi secukupnya. Akhirnya, aku putuskan untuk berhenti menulis, berfikir dan terus berfikir. Aku hendak panggil engkau apa?