Sudrun Diruqyah

CerpenEsai

Ketika masih remaja, Sudrun ini gampang sekali tersentuh hatinya. Mendengar lantunan adzan, dia bisa meneteskan air mata. Melihat ada kulit pisang di jalan, tanpa perintah ia langsung membuangnya, karena takut ada orang yang terpeleset.

Akhir-akhir ini, ia merasa ada yang berbeda dengan dirinya. Boro-boro nangis ketika mendengar lantunan adzan, bahkan dia sama sekali tidak beranjak untuk segera mengambil air wudhu.

Sudrun pun galau, “Ana apa kie karo awakku ya, kok rasane beda temen, ora kaya bien“. Pikiran Sudrun sudah tak karuan, apalagi ketika ia melihat orang-orang yang kerasukan jin di tayangan televisi. Sudrun sampai punya pikiran bahwa “Wah, jangan-jangan banyak jin juga yang masuk ke tubuhku!”.

Pikiran itu membawa Sudrun untuk membuka kitabnya yang berjudul “Al-Fesbukiyah”. Di situ ditemukan pengobatan non medis melalui ruqyah. Kebetulan Sudrun juga mempunyai teman yang gurunya seorang peruqyah.

Sudrun langsung menghubungi temannya, ketemu dan akhirnya sowan ke gurunya untuk meruqyah Sudrun. Sesampainya di sana, Sudrun tidak ketemu dengan Kyai yang iya maksud, tetapi ia ketemu dengan anaknya (Gus).

Baca Juga : Godaan di Hari Jum’at

Beliau ngendika “Pak Kyai seg tindakan mas, mboten dangu malih kondur”. Oo…nggih Gus, jawab Sudrun. Tetapi ada yang janggal di pikiran Sudrun. Sepertinya Sudrun pernah datang ke tempat ini. Entah satu atau dua tahun yang lalu. Benar saja, Sudrun teringat “Ooo…mbien aku tau meng ngeneh, ngaji qiroah”. Tepatnya bukan di ndalem Pak Kyai, tetapi di masjid depan ndalem Pak Kyai.

Karena terlalu lama menunggu Pak Kyai yang tidak kondur-kondur. Akhirnya, Gus tersebut yang meruqyah Sudrun. Bacaan-bacaan ayat suci Al-Quran dilantunkan, satu ayat, dua ayat, sampai puluhan ayat. Tetapi tidak ada hal-hal aneh yang dirasakan Sudrun.

Gus tersebut langsung berkata “Kamu tidak ada gangguan jin ataupun yang lainnya Mas, apa yang membuat kamu malas, gundah, berasal dari hatimu sendiri. Maka perbaikilah hatimu dan perilakumu. Kamu juga lagi suka sama cewe kan Mas?”

Gus tersebut bertanya. “Waduh, kok njenengan ngertos Gus,hehehe“jawab Sudrun. “Wanita yang kamu sukai, pasti umurnya sedikit agak tua dari umurmu”. Lah, kok njenengan ngertos Malih Gus!” jawab Sudrun agak malu dan ketakutan.

Di sela-sela obrolan Sudrun, Pak Kyai pun kondur. Masuk ke rumah sembari mengucapkan salam dan bersalaman dengan Sudrun.

Tiba-tiba Pak Kyai langsung ngendika “Ohh njenengan… kok ngajine mboten diterasaken Mas?” Sudrun yang sedang nyeruput kopi kaget tak karuan. “Anu, anu, mboten Pak Kyai..” jawab Sudrun terbata-bata.

Baca Juga: Flash Kamera Simpel Tetapi Memalukan

Sudrun berkata dalam hati. Lah, kok bisa-bisanya orang yang baru pertama kali ketemu bisa tau kalau saya pernah ngaji di masjid sini, Padahal dulu itu saya ngaji qiroah bukan sama Pak Kyai, tapi beliau kok bisa tau ya?

Bersambung…