Stasiun Gombong

Esai

Lelaki tua itu duduk disebelah ku dan tidak berhenti mengamati kiri kanannya. Baju batik yang ia kenakan dibalut dengan jaket abu – abu tidak mampu menutupi lekuk tubuhnya yang begitu kurus. Wajah keriputnya dengan tulang pipi menonjol seakan tidak lagi memiliki daging. Tatapan matanya seakan menyadari betul bahwa setiap sudut dari stasiun ini telah berubah. Perubahan yang sudah terlampau jauh, memberikan isyarat bahwa usia nya sudah tidak muda lagi. Ia menarik nafas dalam – dalam, aku yakin pikirannya menyiapkan kata – kata yang tepat untuk disampaikan kepadaku.

“Dulu aku mengantar ibumu sampai di stasiun ini, dan sekarang aku mengantarkan dirimu untuk pergi dariku.” Katanya sambil berkaca – kaca.

“Benarkah?” Tanyaku balik padanya.

“Sekitar tahun 1994, dulu udah beli tiket, ehh malah tidak dapat tempat duduk.

“Lalu?”

“Aku dan ibumu pulang jalan kaki, angkot, ojek, tukang becak sudah tidak ada, hampir tengah malam kami sampai di rumah.”

“Terus bagaimana ibuku bisa sampai ke Jakarta?”

“Hari berikutnya aku antar lagi ibumu ke sini, semangat merantau ibumu luar biasa, mungkin sama seperti dirimu saat ini. Ia berhasil naik ke kereta lewat jendela gerbong dan sampai ke Jakarta.” 

“Harapan ku, kamu tidak usah merantau. Tinggal di desa saja bersama kami.” Ucapan yang sangat jujur akhirnya keluar dari bibirnya.

“Aku butuh pekerjaan Mbah, aku juga butuh mengamalkan ilmuku.” Jawabku pelan.

“Di desa juga banyak pekerjaan, menggarap sawah, nderes, atau pelihara ternak. Itu kalau kamu tidak gengsi.”

“Aku lulusan SMK TKR, harusnya pekerjaanku di pabrik otomotif bukan di sawah.” Jawabku ketus.

“Iya ilmu mu memang harusnya disitu, tapi kalau kamu mau belajar di desa pun banyak ilmu baru yang bisa kamu pelajari.”

Ia kembali diam, hening pun menyelimuti kami berdua di tengah ramainya Stasiun Gombong. Sejatinya bukan hanya dia yang rindu, aku pun sudah mulai merasakan rindu. Memang ia bukanlah ayahku, tapi kasih sayang nya sudah melebihi ayah kandungku. Ia dan istrinya yang merawatku sedari kecil, ketika ayah dan ibuku memilih merantau untuk menyambung hidup. Kasih sayangnya terus mengalir, tapi yang aku lakukan hari ini adalah meninggalkan dirinya.

Berat memang meninggalkan Gombong untuk merantau. Mungkin kota ini tidak seindah kota dibelahan bumi yang lain, tapi hatiku sangat berat meninggalkannya. Entah karena apa, mungkin deretan pantai di Pesisir Selatan, atau goa – goa di Gunung Kars Gombong, mungkin juga Waduk Sempor yang berdiri gagah, atau Benteng Van Der Wijk yang menyimpan sejuta sejarah. Suasana Gombong yang selalu ramai, terlebih Pasar Wonokriyo dan Jalan Yos Sudarsono dengan deretan toko milik cina yang sibuk menawarkan dagangannya.

“Tenang saja, kamu besok tidak akan kesepian.” Ucapnya sambil menengok ke arahku.

“Mbah mau menjenguk aku besok? Ke Jakarta?” Tanyaku.

“Tidak, besok kamu bakalan ketemu banyak orang Gombong di Perantauan. Coba kalau kamu tidak percaya, hitungan lah berapa kawanmu satu sekolah yang besok satu pabrik.”

“Oiya, benar juga yah?”

“Bagaimana Gombong mau maju ya? Kalau orang – orang terbaiknya harus diambil untuk kepentingan industri di kota. Pantas saja penduduk miskinnya terbanyak se Jawa Tengah.” Terangnya kepadaku.

“Kring ……. Kring……. Kring…..” Handphone ku berbunyi. Kujawab panggilan tersebut yang berasal dari Ibuku.

Hallo Yung.”
“Hallo Nang, wis mangkat urung?”
“Urung Yung, esih Nang stasiun paling seprapat jam maning.”
“Ngesuk nek wis Nang Jakarta, aja klalen mampir nggon kerjane Biyung nek libur.”
“Ngih Yung.”
“Oiya ati – ati, aja klalen ndonga mugi waras slamet.”
“Nggih Yung.

Kereta yang aku tunggu akhirnya tiba. Penumpang langsung berjibun mendekati loket keberangkatan. Aku segera menggendong tas ku dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Aku bersalaman dengan Mbah ku, mencium tangan serta memeluknya. Pelukanku tidak ia balas, atau mungkin tubuhku yang tidak bisa merasakan pelukannya yang sudah lemah. Aku melihat matanya, air matanya mengalir tanpa disertai suara tangis.

Pamit lunga kerja Mbah, ati – ati balik e.” Pamitku sambil melepaskan genggaman tanganku.

Aku segera masuk, melewati loket dan mencari di gerbong mana aku duduk. Aku duduk di sebelah selatan menghadap ke barat. Kereta berjalan dengan lambat, tak henti aku melihat ke luar jendela. Sesampainya di Palang Pintu Semanda, aku melihat Mbah ku sedang di bonceng tukang ojek. Segera ku ambil handphone ku, berusaha memotretnya, tapi usahaku sia – sia. Kereta terus berjalan ke arah barat, seperti mengejar rindu. Semakin cepat, meninggalkan semua yang ada sejak aku lahir, menuju kehidupanku yang baru.

Eko Siam Muwardi 

siameko88@gmail.com

Senin, 13 Juli 2020
PP Assalafiyyah Terpadu II
Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman
Ditulis saat masa karantina santri yang akan kembali ke pondok.