Setelah Bercerai Dengan Mellinda, Bill Gates Ingin Belajar Bahasa Arab

Esai

Oleh : Muhammad Nasif Abdurrohman

Dalam dialognya di sebuah forum online Reddit, AMA, semacam acara tanya jawab dengan komunitas internet dunia, Bill Gates atau William Henry Gates III, mengungangkapkan penyesalan terbesarnya “Saya merasa cukup bodoh karena tidak mempelajari beragam bahasa asing,” kata Gates, seperti dilansir Business Insider. Orang terkaya di dunia yang juga dikenal sebagai The Grand Syaikh of Microsoft Corporation ini menyatakan sangat menyesal tidak dapat menguasai bahasa Asing yang salah satunya adalah bahasa Arab.

Cukup beralasan memang, mengingat perputaran uang dan bisnis serta pusaran arus politik dunia berada di negara-negara timur tengah yang notabene merupakan negara-negara berbahasa Arab. Dan saya kira ucapan Bill Gates tersebut juga sudah cukup untuk dijadikan dalil pentingnya belajar bahasa arab di zaman modern saat ini, terlebih lagi penduduk Indonesia. Tapi sayangnya pembelajaran bahasa Arab di Indonesia seperti kurang mendapatkan perhatian dibandingkan dengan pembelajaran bahasa lainnya. Ada beberapa bukti yang bisa kita paparkan disini, seperti misalnya jumlah jam belajar bahasa Arab yang sangat sedikit, hanya dua jam pelajaran atau 80 menit setiap minggunya.

Jumlah jam belajar ini adalah yang paling sedikit dibandingkan dengan jumlah jam mata pelajaran bahasa lainnya, seperti bahasa Inggris yang mencapai 4 jam per minggu, dan pelajaran bahasa Indonesia yang mencapai 6 jam per minggunya. Belum lagi ditambah fakta dari ketiga pembelajaran bahasa tersebut hanya pelajaran bahasa Arab yang tidak di UN kan.
Untuk masalah UN ini sebagian orang mungkin akan berkata bahasa Indonesia adalah bahasa Nasional, sedangkan bahasa Inggris adalah bahasa Internasional sehingga keduanya layak mendapatkan perhatian lebih. Okelah kalo begitu, tapi yang sangat disayangkan, kurangnya perhatian terhadap bahasa Arab bukan hanya dalam hal UN saja. Dalam masalah materi dan metodologi misalnya, pelajaran bahasa Arab sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan pelajaran bahasa Indonesia dan pelajaran bahasa Inggris.

Sebagai seorang pendidik yang mempunyai pengalaman mengajar pada tiga pelajaran bahasa tersebut, saya mengerti dan bisa membandingkan ketiganya dengan jelas. Ketika kurikulum 2013 diterapkan berikut dengan segala pernak-pernik kecanggihannya yang serba baru seperti Saintific Approach atau pendekatan saintifik, model pembelajaran discovery learning, problem based learning, project based learning, dan yang juga diterapkan dalam pembelajaran bahasa adalah Genre Based Approach, semua itu hampir mengubah total materi pembelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dan menjadikan keduanya lebih canggih dan revolusioner, tapi hal ini tidak terjadi pada bahasa Arab.

Pembelajaran bahasa Arab seolah macet dan berjalan di tempat. Pendekatan dan metodologinya seolah hanya ‘itu-itu saja’ tidak mengalami perkembangan. Ini bisa kita lihat dari buku-buku mata pelajaran bahasa Arab yang dicetak resmi oleh Kementrian Agama. Apalagi jika kita tengok pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Diniyah dan pondok pesantren materinya tidak jauh dari “Dhoroba Zaidun Amron”, Zaid memukul Amar, materi ini bertahan sejak puluhan tahun bahkan mungkin sejak zamannya Imam Sibaweh. Bukan apa-apa, saya hanya kasihan sama si Amar yang selalu dipukul sama si Zaid, bisa bonyok dan babak belur jika terus-terusan dihajar seperti itu dan tidak segera mendapatkan perhatian.

Fakta yang saya beberkan ini adalah fakta yang terjadi di Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah yang berada di bawah kementrian Agama. Bagaimana halnya yang terjadi di SMP dan SMA yang berada di bawah Kementrian Pendidikan Nasional? Blasss.., tidak akan kita temui pembelajaran bahasa Arab di sana. Kalaupun ada celah untuk pembelajaran bahasa Asing selain bahasa Inggris, umumnya SMP dan SMA akan memilih selain pelajaran bahasa Arab seperti misalnya bahasa Mandarin, bahasa Jepang, bahasa Korea, bahasa Jerman, bahasa Spanyol, dll.

Padahal, seperti yang sering saya katakan di depan murid-murid saya, bahwa kita penduduk Indonesia yang notabene adalah mayoritas beragama Islam, mempunyai kedekatan dengan bahasa Arab dibandingkan dengan bahasa asing lainnya. Bagaimana tidak? Dalam sehari kita diwajibkan mengucapkan bahasa Arab sebanyak 5 waktu. Mau tidak mau. Karena sebagai Ummat Islam kita dituntut berbahasa Arab sebagai syarat rukun melaksanakan shalat 5 waktu. Kefasihan dan kelancaran dalam mengucapkan bahasa Arab adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar. Dan rasanya tidak pernah saya melihat ada jama’ah yang melaksanakan shalat dengan menggunakan bahasa Inggris, atau Spanyol, atau Jerman, apalagi bahasa Mandarin bahasanya orang asing. Bisa digeruduk pasukan Aksi Bela “ini itu” nanti.., oh, maaf maksudnya yaa yang begitu-begitu lah pokoknya.

Salah satu faktor yang menyebabkan sungkannya belajar bahasa Arab adalah anggapan sementara orang bahwa bahasa Arab hanya boleh dipelajari oleh ustadz dan kyai saja. Ada juga yang mengatakan bahwa bahasa Arab adalah bahasanya Ahlul Jannah atau penduduk syurga, padahal Ahlunnar atau penduduk neraka juga boleh mempelajari bahasa Arab, tidak ada yang melarang. Bahasa Arab milik seluruh ummat manusia bukan hanya milik orang Arab, golongan atau partai tertentu. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa tokoh-tokoh besar ilmu bahasa Arab adalah bukan orang Arab asli, seperti Imam Sibaweh yang berasal dari Persia, Imam Ibnu Hisyam yang berasal dari Mesir, dan Imam Muhammad bin Malik penulis nadzom fenomenal Alfiyah ibnu Malik yang berasal dari negara Spanyol, Eropa.

Jika saja pembelajaran bahasa Arab mendapatkan perhatian lebih, bukan tidak mungkin suatu saat nanti masyarakat umum, mahasiswa-mahasiswi, bahkan siswa-siswi SMP atau SMA mampu meredam keresahan masyarakat dengan mengkoreksi kesalahan khutbah “ujaran kebencian” yang dibacakan di hari Jum’at, yang dalilnya baru disalin sesaat sebelum naik ke mimbar menggunakan buku terjemahan.

Kualitas da’i di televisi nasional pun akan naik, wawasan dan dalil mereka akan lebih berkualitas karen mampu merujuk ilmu-ilmu syari’at langsung dari sumber aslinya, tidak hanya melalui terjemahan yang membodohkan. Agar para da’i itu jangan cuma bisa bilang “Akhi-ukhti” saja, atau sekedar mampu mengulang-ulang dalil Arab yang sangat terkenal, “Jama’aah…. Ooh Jama’aah, Alhamduu Lillaah…..” Ups, maaf itu bukan dalil yaa….?!