Sensasi Menjadi Tukang Nderep

EsaiNgapak

Momen yang paling ditunggu-tunggu oleh para petani adalah ketika tanaman padi yang mereka tanam bisa dipanen dan menghasilkan padi yang melimpah. Tidak hanya seorang petani namun tukang Nderep pun menyambut gembira saat panen padi tiba. Tukang nderep adalah sesorang yang menawarkan jasanya atau sengaja diperintah oleh orang yang mempunyai sawah untuk diminta bantuan tenaganya memanen padi di sawah. Dan, setelah semua selesai dilakukan dari proses ngerit damen, nggepyok, madaih, ngungsungi, menimbang padi tukang nderep akan mendapat persenan dari pemilik sawah berupa gabah atau bentuk lain. Namun yang palih lumrah berlaku di masyarakat adalah dalam bentuk gabah.

Rizki Faturahman (kiri), Saya (tengah), Rohani (kiri), jangan salah fokus sama seseorang yang sedang merokok di bawah pohon pisang.hehe

Berbeda dengan saya saat itu. Karena saya asli orang nggunung minang-minung (nggunung banget) yaitu dari wilayah pegunungan Kebumen kidul, desa Karangduwur jarang sekali menemukan sawah yang luas, mayoritas penduduknya mencari mata pencahariannya dengan Nderes (membuat gula merah) dan nelayan. Selain itu juga karena kondisi geografisnya yang kurang mendukung untuk bertani padi, berbeda dengan didataran rendah sumber airnya melimpah. Termasuk Bapak saya juga nderes, dulu saat saya masih kecil Bapak  pernah menjadi nelayan di Pantai Pedalen, Argopeni, Ayah. Entah, kenapa bapak saya berhenti menjadi nelayan. Nggak tahu saya.hehe. Alhasil saya pun tidak mempunyai keahlian menjadi tukang nderep.

Ketika disuruh nderep oleh guru saya yaitu Bapak Ma’muri saya pun agak kaku karena belum pernah ikut saat itu. Kali pertama menjadi tukang nderep ketika saya duduk di kelas dua belas SMK Ma’arif 5 Gombong pada tahun 2015. Berbeda dengan temenku Ahmad Rohani dan Rizky Faturahman yang sudah terbiasa nderep. Maka untuk urusan nderep mereka tidak perlu diuyaih karena sudah berpengalaman. Saya pun belajar banyak dengan mereka.

Ditengah panas teriknya matahari. Salah seorang senior tukang nderep dikelompokku menginstruksikan untuk istirahat. Inilah waktu yang ditunggu-tunggu. Mbatinku. Pasti bekal yang sudah dibawa siap-siap untuk dilahap. Dengan kondisi badan yang cukup lelah, saya pun mencari tempat yang nyaman untuk berteduh sambil menunggu belaian angin sepoi-sepoi. Pohon pisang salah satunya. Bukan beringin ya, dikira saya setan,hehe.

Tukang nderep amatiran seperti saya ini momen yang paling ditunggu adalah waktu makan siang,  ditengah sawah dengan disambut kicauan burung emprit, gemriciknya sungai, dan lambaian angin sepoi-sepoi yang menambah nafsu makan, disisi lain memang sudah sangat kencot. Hee. Kubuka bekal yang dibawa oleh Bapak Ma’muri yang berisi sayur gandul (pepaya), gorengan tempe, sop dan sambel. Nah, sambel ini menu yang sangat wajib. Setuju nggak?

Ternyata makan ditengah sawah lebih nikmat dibandingkan makan di restoran atau rumah makan dengan suasana yang lebih formal. Masa iya makan di rumah makan kakinya sambil cethathangan kan nggak luwes juga. Selain itu tidak akan menemukan suasana seperti ditengah sawah. Makan di tengah sawah dengan nasi dan lauk yang seadanya akan lebih terasa nikmat. Ternyata nikmat dan bahagia itu bisa ditemukan dimana saja termasuk di tengah sawah, tidak melulu di tempat yang mewah. Di tengah sawah pun bisa makan sambil cekrekan (selfi). Jika gengsi yang kita cari untuk makan di tempat mewah yang didapatkan hanya kenikmatan sesaat, setelah itu pun terkena penyakit kangker (kantor kering), baru deh menyesal.

Baca juga :
Kebahagian itu sebenarnya mudah didapatkan, dengan melakukan hal yang sederhana pun bisa. Tidak hanya soal makan, bermain, aktifitas apapun disekitar kita yang sederhana pun bisa mengundang kebahagiaan dan tidak menguras dompet. Kuncinya adalah kita bisa peka memahami keadaan dengan mencari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang, bahkan urusan selfi pun akan tetap merasa percaya diri. Sekali lagi, nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan.

Salam telungpuluh!