Semua Murid, Semua Guru

Esai

Guru? Apa sih yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata ‘Guru’? Seseorang yang bertugas mendidik murid atau seorang pengajar di sekolah, atau lebih dari itu?

Menurut Wikipedia Guru (bahasa Sansekerta yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah “berat”) adalah seorang pengajar suatu ilmu. Sebagian orang mungkin mengetahui bahwa tanggal 25 November adalah peringatan hari guru nasional. Memang tanggalnya tidak sepopuler tanggal 14 Februari, kalian pasti tahu kan hari apa itu? Bahkan mungkin ada juga guru yang tidak tahu bahwa tanggal 25 November adalah hari guru, kemungkinan ada ya? padahal itu hari kebesarannya. Contohnya saya sendiri juga belum lama ini mengetahui jika ditanggal itu adalah hari guru nasional. Dasar Enyong!.

Sudah menjadi hal yang lumrah jika peringatan hari guru nasional diperingati dengan cara upacara bendera yang petugasnya adalah guru, kalau hari Kartini (21 April) ya petugasnya khusus Ibu-ibu, bukan begitu? Selain itu biasanya juga ada ritual basuh muka, eh maksud saya basuh kaki guru yang dilakukan oleh siswanya, banyak lah cara yang biasanya dilakukan untuk memperingati hari guru nasioanal. Apakah hanya dengan cara itu memperingati hari guru? Ya sudahlah bebas, yang terpenting sih positif, kira-kira kalau dangdutan bagaimana ya? hoa hoe…

Oke, menjadi seorang guru memang profesi yang begitu mulia. Bagaimana tidak, seorang guru dijadikan figur panutan untuk anak didik, bahkan guru juga ditiru dari segi moral dan tindak-tanduknya. Kesehariannya diamati dan dicontoh oleh banyak orang. Jika dibandingkan dengan profesi lain, benar-benar istimewa menjadi seorang guru. Sampai-sampai seorang guru dilabeli ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’ karena dengan kegigihan, semangat dan jiwa tulusnya tanpa pamrih seorang guru ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Walaupun saat ini guru sudah mulai mendapat perhatian dari pemerentintah dalam hal kesejahteraan sosialnya seperti sertifiksasi dll. Sebagian juga ada guru yang belum mendapat kesejahteraan sosial dengan baik, fokus mengabdi untuk mencerdaskan generasi bangsa, contohnya guru honorer dan guru yang bertugas mengajar di pelosok negeri jauh dari fasilitas penunjang pendidikan, namun tetap semangat dan gigih untuk mendidik generasi bangsa.

Tumpuan SDM bangsa juga berada di pundak seorang guru, karena guru sebagai subjek yang mentransfer ilmu kepada murid. Jelas, guru berperan penting dalam kemajuan SDM bangsa. Selaras dengan tema HUT ke-74 Republik Indonesia yang mengusung tema “SDM Unggul, Indonesia Maju” yang terinspirasi dari visi Presiden Jokowi periode 2019-2024. Artinya pemerintah sadar betul bahwa kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas SDM rakyatnya. Tidak hanya pidato saat HUT RI ke-74 saja, pidato yang sempat viral di media sosial yang ditulis oleh Bapak Menteri Pendidikan Nasional RI yaitu Bapak Gojek, eh maksud saya Bapak Nadiem Makarim yang juga CEO Gojek juga sarat akan makna. Pidatonya saya rasa berbeda dari pidato menteri-menteri yang lain, kalau biasanya formal, normatif dan retorik, kali ini berbeda; singkat, jelas, bahasanya apa adanya, berpihak kepada guru (asyeek dapat pembelaan) dan mengerti betul kondisi batin yang di alami oleh guru-guru se-Indonesia. Saya rasa Pak Menteri ingin menggiring cara berfikir kita untuk keluar dari birokrasi yang rumit dan adat yang terkesan formal, mungkin yang beliau ingin tekankan adalah pentingnya esensi bukan bungkus saja.

Saya ini katanya guru. Mengatakan sepenuhnya bahwa ‘saya ini guru’ saya kurang percaya diri. Entah apa yang merasukiku (bukan merasukimu) saya ini guru beneran atau kebeneran menjadi guru. Ini pertanyaan yang sulit saya jawab, dan masih berfikir sebenarnya saya itu apa? Okelah saya ini guru beneran, anggap saja begitu. Terkadang saya pun merasa berbangga menjadi seorang guru, terkadang juga tidak. Mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia memang susah-susah gampang. Susahnya karena pelajaran bahasa bukan ilmu yang pasti, segala penafsiran makna bisa dimiliki oleh masing-masing orang. Sehingga perlu referensi bacaan yang banyak agar mampu mendekati jawaban orang umum. Mudahnya, karena bahasa Indonesia menjadi bahasa keseharian yang kita gunakan, jadi kemana-mana tidak perlu bawa kamus untuk menerjemahkan bahasa. Terkecuali saat kita menemukan kata asing yang belum pernah kita dengar sebelumnya, barulah senjata pusaka KBBI dikeluarkan dari kantong ajaib.

Menjadi seorang guru awalnya tidak pernah terlintas di pikiran saya. Anggapan saya sosok guru harus ideal; disiplin, rapi, bertutur baik, dan berwibawa. Lah, saya tidak punya pawakan blasss dengan sederet kriteria yang harus dimilki oleh seorang tenaga pendidik. Plus dengan segala pelabelan positif yang dimiliki oleh seorang guru, disisi lain juga menjadi beban moral yang harus diterima dan dijaga oleh seorang guru terlebih saat berada di tengah-tengah masyarakat karena status sosialnya cukup diperhitungkan. Sehingga ada beberapa ruang gerak untuk ekspresi yang merasa perlu dibatasi untuk tidak dilakukan oleh seorang guru. Jujur saja, saya tidak menyukai itu. Semua guru boleh berekspresi sesuai apa yang diinginkan. Mungkin karena semua orang mempunyai passion yang berbeda tentang bagaimana cara dia berekspresi.

Belum cukup satu tahun menjadi guru, rasanya sudah begitu lama. Menjadi guru menurutku itu rasanya nano-nano, terkadang enak begitu pun sebaliknya. Enaknya kalau gajian, haha. Nggak juga sih, saya rasakan masih banyak yang lain. Misal, saat pikiran sedang ruwet seketika bertemu anak didik jadi terlupakan, dan 70 persen tambah ruwet. Bercanda. Ndak…ndak.. Astagfirulloh…

Tugas seorang guru memang berat. Di sisi lain harus fokus dengan profesinya mendidik, seorang guru (sudah berkeluarga) juga dituntut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jadi kita tidak bisa menyalahkan kepada guru dalam hal mengajar kurang fokus, karena di belakang masih banyak hal yang harus dipikirkan. Karena fokus itu sejajar dengan kenyamanan dan kecukupan. Tetap berikan penghargaan setinggi-tingginya kepada guru.

Sekali lagi di momen yang sudah telat ini saya ucapkan “Selamat Hari Guru Nasional” kepada guru-guruku, dan siapa pun yang telah memberikan saya ilmu, termasuk kepada rekan belajar di kelas yaitu peserta didik, bagaimana pun mereka juga mengajarkan saya tentang cara untuk menjadi guru yang baik. Tidak ada perbuatan dan kata yang indah kuberikan kepada guruku melainkan doa yang terbaik. Saya rasa kebahagian seorang guru dirasakan ketika anak didiknya menjadi seseorang yang berguna dan sukses melebihi dari pada dirinya.

Oiya, kepada calon guru bagaimana perasaan Anda, sudah siapkah menjadi guru seperti saya? hehe

Ditulis oleh Aku yang mencoba menjadi guru yang baik.