Saya Bukan Warga Kebumen Yang Misquen

Esai

Akhir-akhir ini, jagat Dunia Maya Kebumen sedang dihebohkan oleh berita yang menunjukan Kebumen peringkat pertama kabupaten termiskin se Jawa tengah. Berita ini kemudian ditanggapi secara bergama oleh netizen Kebumen. Dengan logat ngapaknya ada yang menyindir dengan komen sedikit “nylekit” ada yang mengolok-olok kinerja pemerintah daerah dan ada yang bersyukur karena dengan jadi kabupaten termiskin berarti kesempatan masuk syurga lebih banyak.

Sebenarnya, kata kabupaten termiskin ini masih ambigu sebab apa? Yang di ukur dari data tersebut adalah hanya jumlah penduduk miskin. Jadi Kebumen memiliki jumlah penduduk miskin dengan prosentase 16 sekian persen, terbanyak se Jawa Tengah. Dengan data tersebut layaknya kurang pas kalau disebut sebagai kabupaten termiskin, lebih layak jika disebut dengan kabupaten dengan penduduk miskin terbanyak se Jawa Tengah.

Kalau menimbang-nimbang sakjane Kebumen punya banyak potensi. Kebumen juga banyak aset dan kekayaan yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat Kebumen. Lihat sajah pariwisatanya misalnya, sampai kondang saat saya kuliah di Jogja beberapa obejk wisata dan makanan khas daerahnya, bahkan sampai saat ini ketika saya kerja dan mondok di Jogja. Banyak pula potensi aset daerah, terlebih potensi sumber daya manusianya, banyak dari anak Kebumen yang berhasil dengan keilmuannya. Mulai dari Dosen, Rektor, Guru, pejabat – pejabat di kementerian.

Ngomong-ngomong masalah Misquen, Alhamdulillah saya tidak termasuk dalam 16% masyarakat Kebumen yang tergolong miskin. Jujur bae sebagai warga Kebumen asli, lahir nang kebumen, cilik tekan SMA nang Kebumen kuliah Nang Jogja tekan siki urung balik hehehehe. Waktu umur kurang lebih tiga tahun, ayah dan ibuku bercerai sehingga aku harus dititipkan ke Mbah ku di Kebumen, tepatnya di Desa Karangsari Kecamatan Buayan Kabupaten Kebumen, aku di titipkan di rumah dengan dinding bilik bambu dan atap dapur yang masih pakai Alang – Alang, rumah inilah dulu yang menjadi tempat kelahiran, dan rumah yang menjadi bukti kalau aku bukan warga Misquen.

Rumah itu di pucuk bukit, dengan air yang lumayan jauh, sehingga kami sekeluarga harus “ngangsu”. Tiap hari Mbah ku ke ladang, ke kebun dan ke sawah, walaupun bukan lahan milik sendiri. Apapun di tanam mulai dari irut, ganyong, lumbu (talas) singkong, ketela, uwi, gadung, gembili, dan hasil pertanian lainya. Hasil bumi itu yang nantinya membantu saya mendapat pendidikan, dari mulai TK sampai saya lulus sarjana awal tahun ini, yang disaksikan Mbah saya seakan tidak percaya cucunya yang paling nakal ini bisa lulus kuliah.

Rumah yang berdindingkan bilik bambu dan beratapkan alang -alang itu hampir tiap bulan dapat beras dari pemerintah. Ya dulu kami dianggap sebagai warga misqin. SPP ku saat SD juga di bantu dana bos dan BSM sehingga bisa gratis, SMP juga mendapatkan bos dan BSM sampai SMA. Beruntung mungkin inilah istilah Tuhan bersemayam di gubuk di miskin bahwa saya mendapat beasiswa Bidikmisi, dimana bisa kuliah gratis dan mendapatkan uang saku tiap bulannya.

Mendapat beasiswa Bidikmisi memang menjadi eskalator derajat saya di kampung. Saya sangat di hargai di mata orang desa, orang – orang yang dulu manggil saya “oncom” jadi manggil saya “Mas Eko” memang benar – benar mengubah derajat. Namun, hal tersebut juga terjadi di keluarga contohnya, dulu yang keluarga kami dengan dinding bilik bambu dan atap Alang – Alang mendapat bantuan baik beras dll, sekarang kami di cap sebagai keluarga mampu. Semua bantuan dari pemerintah tidak lagi diterima oleh keluargaku, ya itulah. Banyak desas – desus yang terdengar karena keluarga saya tidak memilih kades yang sekarang menjabat sehingga bantuan dihentikan, karena ada pula keluarga yang mampu dan dekat dengan kades terpilih masih menerima bantuan, yaaa gitu lah tapi ya itu cuman desas desus, keluarga kami cuman bisa ikhlas dan bersyukur, serta tidak ambil pusing dengan desas – desus tsb. Makanya cek dulu deh pemerintah, program yang bagus di atas di akar rumput berjalan Ndak heheehehe, atau data rakyat miskin bgaimana? Halah itu urusan sana, sekarang saya santri tugas saya itu mengaji, dan bersyukur saya bukan warga Kebumen yang MISKIN