Santri Tulen Vs Tukang Cukur

Cerpen

Suatu siang dengan hawa yang cukup panas, ditempat cukur rambut terjadi obrolan si tukang cukur denga pelanggannya. Kebetulan yang dicukur itu Udin, yang kebetulan seorang alumni pondok tulen. 

Ngalor-ngidul obrolan mereka kian hangat saja, sudah sangat akrab, padahal baru beberapa kali kang Udin cukur di tempat itu. Dari tema yang mulanya hanya sebatas kehidupan biasa, si tukang cukur yang “abangan” itu tiba-tiba membawa ke obrolah seputar agama, yaitu akidah.

baca juga: Ketika Buruh Tani Meminta Barokah kepada Kaum Santri


“Kalau menurut saya, Tuhan itu tidak benar-benar ada” tukang cukur memulai.


“Lho kok bisa sampean mengatakan seperti itu?” kang Zaid mengejar pertanyaanya.


“Ya lihat saja kehidupan ini Kang, banyak orang yang hidupnya nelangsa, ruwet, semrawut, bahkan saking beratnya masalah yang dihadapi sampai-sampai bunuh diri. Loh katanya Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang yang akan menolong setiap hambanya. Buktinya mana coba? saya pun dari dulu masih seperti ini saja tidak ada perubahan, blass!” tukang cukung menimpali kang Udin.Hmm. Kang Udin terdiam. Dia tidak langsung menjawab. Bukan lantaran tak mampu menjawab pertanyaan si tukang cukur, tapi Kang Udin tengah mencari jawaban yang cocok buat si tukang cukur yang “abangan” itu. Setelah beberapa menit, Kang Udin teringat dengan pesan Kiainya saat mondok agar menjawab pertanyaan itu sesuai dengan tingkat pemahaman nalar lawan bicaranya.


baca juga: Soeharto Ikut NU Baru


Hingga beberapa lama Kang Udin masih saja belum angkat bicara. Tiba-tiba Kang Udin melihat seseorang yang tengah duduk santai diluar tempat ia bercukur. Tampang dan rambut orang itu  sungguh acak-acakan seperti orang yang masih jomblo, belum ada yang mengingatkan di rumah. Terbesit ide mengalir dari kepala Kang Udin.


“Nah begini Mas,  Anda kan mengatakan Tuhan itu tidak ada, maka saya katakan tukang cukur itu juga tidak ada.”


“Lho, bagaimana sih Kang, saya kan di sini” tukang cukur itu tak mengerti.


“Pokoknya, saya yakin kalau tukang cukur itu tidak ada” Kang Udin ngeyel.


“Kalau tukang cukur itu ada, lha kok masih ada orang yang rambutnya semrawut, gondrong dan acak-acakan,” jawab Kang Udin sambil menunjuk orang yang tak jauh dan tak dikenal itu.


“Anda ini gimana sih, dia yang disana itu maksudnya, kalau dia rambutnya berantakan, sebab tak mau datang ke tempat ini, coba kalau ke sini pasti saya rapikan” jawab si tukang cukur dengan gagah.


baca juga: Cara Makan Yang Benar Ala Kiai Kholil


“Nah, seperti itu juga Mas, kalau ada orang yang ditumpuk masalah dan hidupnya begitu ribet, bukan lantaran Tuhan itu tidak ada, tapi sebab  si pemilik masalah itu tak mau datang menghadap Tuhannya, Alloh. Coba kalau datang, berserah diri, memohon ampun dan pertolongan, Alloh pasti menolongnya,” jawab Kang Udin.


Si tukang cukur pun hanya terdiam seribu bahasa. Skak ster.


*Diadaptasi dengan perubahan seperlunya dari cerita Habib Novel bin Muhammad Alaydrus.