Santri Itu Makhluk Yang Aneh, Walaupun Nakal Tetapi Serba Bisa

Esai


Menjadi seorang santri yang tinggal di Pondok Pesantren atau di asrama mempunyai nilai tersendiri dalam kehidupannya. Tempaan diri yang dialami secara lahir batin membuat seorang santri menjadi sosok yang tahan banting. Siap ditempatkan dimana saja. Entah, di tempat yang bersih ataupun kotor seorang santri sudah biasa. Mau kaya siap, miskin pun siap (terkecuali yang tidak). Begitulah paparan yang disampaikan teman saya yang pernah nyantri di pondok pesantren.

Hal yang lumrah dibicarakan sesama alumni ketika sudah tidak mondok adalah flesbek kenangan selama mondok. Saya sebagai seorang pendengar yang begitu memperhatikan pembicaraan mereka hanya mlongo saja, mau ikut nimbrung ngobrol nggak punya pengalaman. Ya sudah lah, diam. Menurut pepatah ‘diam itu emas’, karena dengan diam kebodohan kita akan tertutupi. Agar kelihatan cerdas sedikit maka tindakan yang paling pas adalah diam. Selain itu juga agar dikira saya paham dengan apa yang mereka obrolkan. Hee. 

baca juga : Sejarah Lanting, Sing Marekna Rika Pada Eling

Pernah saya baca salah satu meme di mbah google yaitu kuotnya almarhum Mbah KH. Sahal Mahfudz, mantan ketua MUI dan Rois Aam PBNU, beliau menyampaikan bahwa “Menjadi baik itu mudah, dengan hanya diam maka yang tampak adalah kebaikan. Yang sulit adalah menjadi bermanfaat karena itu butuh perjuangan”. Begitulah wejangan dari Mbah Sahal, yang selama ini saya ganduli kepsen itu erat-erat.hehe.

Oiya, saya punya teman namanya Ahmad. Dia masih mondok di daerah Purworejo. Orangnya aneh sekaligus ekstrim, kurang kerjaan pula. Bagaimana tidak ekstrim dan kurang kerjaan, pulang dari Purworejo ke Kebumen ujung barat dengan mengayuh sepeda, pinjam lagi. Padahal dia mampu untuk naik kendaraan umum. Ngapain coba? Kurang kerjaan kan, memang Ahmad itu aneh.

Tetapi disisi lain Ahmad memang seseorang yang begitu priatin (mandiri) dan tak pernah gengsi dengan apa yang selalu dia lakukan. Melakukan hal yang sederhana yang belum tentu semua orang bisa lakukan. Saya mulai berteman dengan dia saat di SMK. Kebiasaan Ahmad itu saat berangkat ke sekolah selalu mengontel sepedanya, tak pernah merasa malu. Selalu hepi.

baca juga: Bob Sadino: Semoga Saya Masuk Neraka

Paling males lagi saat mendengarkan perbincangan Ahmad dan Ma’ruf yang sama-sama anak pesantren, selalu ada saja yang mereka bicarakan tak pernah serius lagi, pokoknya unfaedah deh. Yang mereka obrolkan dari hal keseharian di pondok yang tidak penting sampai ke masalah yang cukup prinsip, yaitu mereka jarang sekali mengenakan celana dalam saat beraktifitas di pondok. Padahal di pondok memakai sarung itu perkara yang di wajibkan, terlebih untuk urusan ibadah dan kegiatan lainnya. Kalau saya bisa bahaya, bayangkan saja saat melakukan aktifitas di pondok kalau sarungnya mlorod bagaimana? muka mau ditaruh di mana coba. Belum lagi kalau lihat dedek gemes, aduh. Malu lah. Ternyata yang mengherankan teman lainnya di pondok pun sama jarang ada yang memakai semp*k. Waduhh….

Tidak hanya soal semp*k, sandal pun sering dijadikan perkara di pondok. Tidak jarang tamu atau orang yang baru pertama kali ke pondok sering kehilangan sandalnya. Memang sih sandal hal sepele, tetapi sangat mengganggu di pikiran. Apalagi kalau sandalnya bermerek Eiger atau Ardilles, bisa-bisa menghantui ibadahmu karena khawatir sandalmu hilang dighosob. Maka, solusi yang paling tepat adalah saat berkunjung ke pondok atau asrama sekalian membawa rantai yang ada gemboknya. Biar aman.  Selain itu, memakai sandal yang gincengan juga bisa dijadikan solusi ampuh. Siapapun tidak akan doyan dengan sandalmu. Lagi-lagi memang sangat aneh. Banyak kelakuan-kelakuan jail santri di pondok.

Ngobrol dengan teman yang pernah mondok ada sensasi yang berbeda, pembawaannya tenang dan tidak kaku dan tentu saja humoris. Terkadang juga ngeselin sih. Anehnya lagi saat santri selesai menempuh pendidikannya di pondok, bisa berbalik 360 derajat dengan kondisi saat dia berada di tengah-tengah masyarakat. Di pondok berperilaku jail dan terkesan sedingaeh tetapi kebanyaak saat sudah di masyarakat biasa dijadikan rujukan dan panutan bagi masyarakat, terkhusus untuk masalah agama.

Memang seorang santri adalah makhluk yang aneh. Walaupun di pondok nakal, kesan santri di masyarakat dianggap selalu baik dan serba bisa. Memang mempunyai teman santri begitu spesial. Menurut Gus Mus “santri itu tidak hanya yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren saja, tetapi seseorang yang mempunyai akhlak seperti santri dan tawadlu’ kepada Gusti Alloh, tawadlu’ kepada orang alim-alim juga namanya santri.” Kurang lebih demikian apa yang pernah disampaikan Gus Mus.

Santri memang aneh. Walaupun aneh, saya ingin menjadi santri…
Salam aneh…!!