Saatnya Lembaga Pendidikan Ma’arif Terintegrasi Pesantren

Esai

Awal tahun pelajaran kemarin, bangsa kita digegerkan dengan sistem zonasi. Melihat fenomena zonasi saat ini yang cenderung kurang memuaskan publik, dan banyak keluhan tentang sekolah yang tidak terpenuhi kelasnya. Sistem ini yang diharapkan menjadi obat untuk pemerataan mutu pendidikan, malah menjadi permasalahan baru di dunia pendidikan. Ada fenomena yang menarik ketika sekolah-sekolah pesantren tidak terkena dampak zonasi dan malah tidak pernah kekurangan peminat. Nyatanya sekolah pesantren memiliki pangsa pasarnya sendiri, bahkan pangsa pasar itu semakin luas karena minat orang tua memondokan anak semakin tinggi.

Minat memondokan anak yang semakin tinggi ini, merupakan dampak dari beralihnya persepsi yang ada dimasyarakat. Dahulu yang dinamakan sekolah berhasil adalah yang sekolah di sekolah “favorit” lulus dengan nem yang tinggi dan kerja jadi PNS. Persepsi masyarakat sekarang beralih menjadi pendidikan yang dimana selain mendapatkan ilmu formal, anak juga mendapatkan ilmu agama, sehingga manfaatnya lebih banyak jika sudah kembali ke masyarakat.

Beralihnya persepsi ini sejalan dengan gejolak perkembangan zaman, dimana zaman berubah begitu cepat, namun tidak dibarengi dengan kesiapan masyarakatnya. Indonesia yang terkena arus globalisasi, selain berdampak positif juga berdampak negatif seperti degradasi moral yang sangat terlihat di generasi muda. Melihat hal ini tentunya masyarakat khawatir akan anak-anaknya, sehingga merasa pendidikan formal saja tidak cukup untuk bekal hidup anak.

Kebutuhan pendidikan orang tua akan anaknya menjadi lebih kompleks. Pendidikan agama menjadi sesuatu yang sesuatu yang sangat penting kali ini. Hal tersebutlah yang menjadikan orang tua memilih untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah berbasis agama. Selain menjadi orang yang berilmu, orang tua juga berharap anaknya menjadi orang yang berkarakter, dan memahami ilmu agama yang cukup untuk terjun ke masyarakat.

Tuntutan kebutuhan yang semakin meningkat membuat orang tua juga tidak punya waktu banyak bersama sang anak. Kewajiban orang tua dan keluarga sebagai agen sosialisasi yang pertama dan utama mulai kekurangan fungsinya. Orang tua yang seharusnya mengajarkan anak nilai dan norma, terutama tentang agama dan akhlak menjadi tidak bisa karena tuntutan kesibukan. Selain itu bekal untuk mengajarkan ilmu agama kepada anak juga sering tidak dimiliki oleh orang tua, sehingga memondokan anak nya menjadi alternatif pilihan yang cukup tepat dengan keadaan semacam ini.

Dengan fonomena ini, sudah selayaknya Lembaga Pendidikan Ma’arif NU sebagai ujung tombak NU dalam mencerdaskan kehidupan bangsa mengambil peran. NU yang erat dengan pesantren, sudah selayaknya memanfaatkan fenomena tersebut untuk berperan lebih aktif lagi untuk berkontribusi untuk negeri. Sehingga Lembaga Pendidikan Ma’arif NU memiliki daya tawar yang cukup kuat di masyarakat. Hal ini tentu bukan halangan bagi Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, karena NU punya segudang kader yang lulusan pesantren.

Sudah banyak sekolah Ma’arif NU yang terintegrasi dengan pesantren, nyatanya memiliki mutu yang sangat baik. Jadi pandangan masyarakat ketika menganggap sekolah Ma’arif sebagai sekolah “buangan” tidak terbukti. Sungguh sakit hatiku sebagai warga NU, ketika mendengar istilah buangan untuk merujuk sekolah Ma’arif NU. Nyatanya, seringkali saya melihat di masyarakat lulusan Ma’arif bisa unggul dan berguna bagi masyarakat. Memang masih banyak sekolah Ma’arif NU yang butuh perhatian dan perbaikan, ini adalah PR besar bagi kader NU untuk turut serta memajukan pendidikan di lembaga pendidikan Ma’arif.

Dengan integrasinya Pondok Pesantren dengan sekolah Ma’arif juga memiliki banyak efek multiplayer. Salah satunya adalah membuka lapangan pekerjaan bagi para alumni pondok pesantren agar bisa lebih luas manfaat ilmunya. Kendati tidak ada istilah nganggur bagi alumni pondok pesantren, nyatanya pekerjaan alumni pondok banyak yang serabutan. Tidak ada istilah nganggur ini berarti kebermanfaatan alumni pondok pesantren yang sangat tinggi di masyarakat. Kebermanfaatan ini kadang tidak diberengi dengan penghasilan, sehingga banyak juga alumni pondok pesantren yang hidup ala kadarnya. Maka dengan banyaknya sekolah yang terintegrasi pesantren ini diharapkan meningkatkan kesejahteraan para alumni pondok pesantren.

Dampak selanjutnya adalah pembimbingan masyarakat dalam kehidupan beragama. Dengan adanya sekolah berbasis pondok pesantren, maka dampaknya juga akan dirasakan masyarakat sekitar, terlebih jika pihak sekolah turut aktif melibatkan masyarakat dalam proses pembelajaran. Hal ini tentunya juga akan meningkatkan pola kehidupan beragama masyarakat sekitar, selain itu juga akan menjaga amaliyah kegiatan agama masyarakat disekitar sekolah.

Sekolah berbasis pondok pesantren juga dapat menjadi sarana untuk membumikan dan membudayakan pondok pesantren di masyarakat. Pondok pesantren sejatinya adalah sistem pendidikan yang murni milik Indonesia. Pondok pesantren banyak yang berdiri sebelum Indonesia merdeka sehingga kiprah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sudah sangat teruji. Ketika para pakar pendidikan sangat terobsesi dengan sistem pendidikan barat, sehingga seringkali memaksakan untuk menerapkan sistem tersebut di Indonesia, sejatinya bangsa Indonesia sudah memiliki sistem pendidikan yang tidak kalah dengan sistem pendidikan barat.  Sistem inilah yang disebut dengan pesantren, sehingga dengan banyaknya sekolah yang berbasis pesantren masyarakat menjadi lebih akrab dengan budaya pesantren yang luhur.

NB: Dari aku yang dulu tidak mau disekolahkan di lembaga pendidikan Ma’arif 🙈🙈🙈