Puisiku Kalah “Ampuh” dari Puisinya Cak Nun

Esai

Buku puisi karya Emha Ainun Nadjib
Ada banyak kegiatan untuk memperingati Hari Santri Nasional ,salah satu acaranya Ngaji Budaya Santri yang digagas oleh anak-anak IPNU-IPPNU SMK Ma’arif 5 Gombong. Saat itu posisi saya adalah pendamping anak IPNU-IPPNU dari mulainya acara sampai selesai. Banyak sekali jadwal acara yang akan dipentaskan di acara tersebut salah satunya adalah membaca puisi. Saya pun tertarik untuk ikut.  Membaca puisi di panggung yang cukup luas, seumur-umur belum pernah saya lakukan apalagi membuatnya. Termasuk puisi cinta yang khusus dibuat untuk perempuan pun belum pernah juga.
Membuat puisi ternyata sangat njrimetdan ruwet maklum lah masih amatiran. Alhamdulillah, dalam waktu satu malam pun puisinya jadi. Yah, walau nggak tahu menurut orang bagus atau ndak yang terpenting menurutku sudah sangar. Setelah melewati proses mumetjadilah puisiku yang berjudul “Gitar Negeri”. Puisinya tentang keprihatinan yang saya rasakan dengan kondisi bangsa ini (sok-sokan).
Yang akan membaca puisi ada dua orang yaitu Saya dan Sartika. Sartika adalah siswa kelas X yang sudah terbiasa bahkan sering mengikuti lomba membaca puisi. Mbatinku pasti dia yang lebih bagus membacanya saya pun berusaha untuk menghibur diri walaupun masih sedih.hee
“Mba, nanti malem kamu ikut baca puisi ya?” kataku.
“Baca puisi apa Mas?” jawabnya.
“Terserah kamu, kamu biasanya suka baca puisinya siapa? Puisinya Gus Mus atau siapa, yang terpenting temanya tentang Ke-Indonesia-an” tambahku.
“Siap Mas” jawab Sartika dengan  penuh semangat.
Selain membaca puisi dia pun ikut dalam tim paduan suara  acara tersebut. Saat itu acara pembukaan akan segera dimulai. Saya pun mengecek tentang puisi yang akan dibacanya.
“Gimana Mba, sudah dapet puisinya?” tanyaku.
“Belum Mas” jawabnya.
“Ya sudah, nanti kamu baca puisi dari buku saya saja. Nanti kamu baca sebentar ya untuk latihan” kataku.
“Iya Mas” jawab dia dengan ekspresi datar.
Kuambilkan buku karya dari Emha Ainun Nadjib yang berjudul “Sesobek Buku Harian Indonesia” di perpustakaanku. Yah, walaupun koleksi bukunya belum banyak, hanya beberapa saja.
Yang hadir dalam acara itu pun cukup banyak karena yang diundang juga dari beberapa kecamatan di wilayah Kebumen bagian barat. Saya merasa bersyukur karena cuaca malam itu cukup mendukung. Setelah beberapa acara sudah dilaksanakan tiba lah waktu untuk pembacaan puisi. Semua sudah kupersiapkan dengan baik termasuk print out puisi yang akan kubaca. Kulipat kertas itu dengan hati-hati dan kumasukan ke saku jasku. Sartika sengaja untuk membaca puisi yang pertama dan saya minta untuk giliran yang terakhir agar aku sedikit bisa  meniru cara membacanya.
Perasaanku campur aduk karena belum pernah membaca puisi di depan orang banyak. Apalagi setelah mendengarkan Sartika membaca puisi dengan penuh penghayatan, intonasi yang menurutku sudah bagus. Membuatku tambah gugup.
Puisi karya Emha Ainun Nadjib atau yang sering disapa Cak Nun itu lumayan panjang dan butuh durasi yang cukup lama untuk membacanya. Tiba-tiba saat Sartika membacakan puisi dengan intonasi yang sedih, tanpa disangka turunlah hujan yang cukup deras. Akhirnya semua yang hadir dilapangan pun berlarian mencari tempat berteduh. Termasuk saya pun berlarian mengambil klasa dilapangan agar tetap kering. Saya berharap hujannya hanya sebentar, eh malah semakin lama semakin deras. Kalau begini terus bisa gagal, pikirku.
Ini puisi yang gagal aku baca klik disini.
Baca juga: 

Akhirnya saya pun memutuskan untuk tidak mebacakan puisi yang sudah kupersiapkan dari hari sebelumnya karena suasana sudah tidak mendukung. Semua peserta kemudian dialihkan ke ruang kelas oleh panitia. Sambil mengkondisikan peserta untuk masuk ruangan, saya masih memikirkan nasib tentang puisiku. Dalam hati aku berkata “Jancuk”.hee.
Setelah aku renungkan dalam hati, sambil mendengarkan syahdunya suara rintik-rintik hujan muncul dalam benakku. Apakah karena puisi yang dibacakan adalah puisinya Cak Nun? Ataukah memang puisinya Cak Nun lebih ampuh? Atau Cuaca? Bisa juga. Tetapi yang pasti hanya Alloh SWT yang tahu.
Semenjak itu belum pernah saya baca puisiku didepan orang banyak.
Saya rasa butuh waktu yang tepat untuk membacanya, untuk sementara ini saya biarkan agar menjadi setumpuk kenangan.hehe

Oleh: Tigongdoso