Puisi Cinta Jalaluddin Rumi

Puisi


Puisi diterjemahkan oleh sebagaian orang sebagai bentuk pengungkapan ekspresi, perasaan, cinta, sedih, galau tergantung psikologi yang dirasakan oleh seseorang yang kemudian dituangkan kedalam bentuk syair atau tulisan. Penyair adalah mereka yang mendengar “musik rengeng-rengeng pada udara” dan menuliskan “nyanyian-nyanyian terpenting” yang dia dengar dan membagikannya kepada kita.

Salah satu tokoh Islam yang berpengaruh di dunia yaitu Jalaluddin Rumi atau sering disebut Rumi. Beliau lahir di kota Balkh, Afganistan, pada 30 September 1207 M.  Awal perkenalan saya dengan Rumi saat duduk sendiri di depan laptop jadulku yang sesekali bisa eror.  Saya dikenalkan dengan sosok Rumi lewat karya-karyanya yang dilantarkan oleh Dr. Fahrudin Faiz dosen Aqidah dan Filsafat Islam, Universitas Negeri Sunan Kalijaga saat mengisi ngaji Filsafat di Masjid Jenderal Soedirman, Sleman, Yogyakarta. Secara kebetulan tema yang disampaikan  di masjid saat itu adalah “Puisi Cinta Jalaluddin Rumi”. Walau tidak pernah bertatap muka langsung namun suara khasnya Pak Faiz bisa saya dengarkan.

Rumi belajar di bawah bimbingan ayahnya yang bernama Syeikh Bahaudin Walad seorang ulama besar saat itu, saat sang ayah meninggal pada tahun 1231 masehi. Setelah itu Rumi menjadi pengajar di Konya meneruskan perjuangan ayahnya, karena itulah kemudian di kenal tarekat Sufi yang dinisbatkan pada ajarannya yang biasa disebut sebagai Mawlawi.

Syeikh Syam Tabrizi merupakan salah satu tokoh yang paling dekat dengan Rumi sekaligus paling misterius. Rumi menulis syair yang sangat banyak juga dilatarbelakangi oleh gurunya Syam Tabrizi karena ditinggal pergi tanpa sepengetahuan Rumi. Beliau pun merasa galau karena ditinggal gurunya, yang bertujuan demi kematangan ilmunya melalui jalan perpisahan.

Berikut secuil dari syair Jalaludin Rumi yang dikutip dari buku “Matahari Diwan Syam Tabrizi”.
Kubutuhkan seorang pecinta dan seorang kawan
Seluruh perkawanan kau lebihi, tak terbandingkan
Dan tunadaya aku tetap jadinya
I need a lover and a friend
All friendship yau transcend
And impotent I  remain
Kau adalah hasrat dan kau adalah gusar
Kau adalah burung dan kau adalah sangkar
Dan tersesat dalam terbangku
Aku tetap jadinya
You are passion and are rage
You are the bird and the cage
Lost in flight I remain
Kau adalah anggur dan kau adalah pialanya
Kau adalah samudra dan kau adalah setetes tirta
Dan terapung aku tetap jadinya
You are the wine and the cup
You are the ocean and the drop
While afloat I remain.

Masih banyak puisi karya jalaludin Rumi. Sudah banyak buku dan artikel yang menulis tentang keagungan hidup beliau selama berabad-abad. Banyak sudah diskusi digelar untuk ‘menelanjangi’ karya-karya beliau. Ribuan orang sudah melintasi dunia sudah merasakan keuntungan dari karya-karya beliau yang sudah diterjemahkan kedalam banyak bahasa.