Profesi yang Paling Kuat Menghadapi Pandemi Ialah Petani

Esai

Hujan deras mengguyur Kota Gombong. Sepasang petani tua pulang dari ladangnya dengan basah kuyup di sekujur tubuhnya. Kaget buka kepalang menjumpai cucunya sedang tidur di ruang tamunya. Aku pun terbangun, karena dibangunkan oleh kedua orang tersebut. Aku tertidur karena terlalu capek setelah perjalanan mudik dari Jogja yang dilanjutkan dengan wajib lapor ke posko dan tentunya mandi sesampainya di rumah.

Sekilas kakek dan nenekku tidak ada kekhawatiran terkait wabah yang sedang merundung dunia ini. Antara tidak takut atau tidak tahu, pastinya aku tidak tahu. Mereka menjalankan aktivitas seperti biasanya, pergi ke ladang (tegalan) dan pulang membawa sayuran. Sehabis Isya kakekku memikul hasil pertanian yang sudah di ikat, ke para pedagang yang rumahnya tak jauh dari kediamannya. Pedagang inilah yang besok pagi akan membawa sayuran tersebut ke pasar.

baca juga: Menyemai Mimpi di Kapuas Hulu

Kakek dan nenekku ini adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku. Beliaulah yang merawat aku dari umur empat tahun, pasca orangtuaku bercerai. Dengan hasil pertaniannya beliau mampu membiayai sekolahku sampai sarjana. Hasil pertanian kakek dan nenekku sejatinya tidak banyak dan bukan komoditas yang berharga mahal. Hasil dari kebunnya hanya daun singkong, pepaya, lembayung, dan sejenisnya. Disekitar rumah tertanam gayong, irut, lumbu dan tanaman sejenisnya. Kendati tidak punya sawah, namun barokah dari lahan kecil yang dimiliki sangat dirasakan.

Ketenangan masih bersemayam di hati Mbah ku. Tidak perlu khawatir berlebihan akan pandemi yang merundung dunia. Interaksi yang terbatas hanya dengan kebun dan tetangga juga membuatku tidak khawatir akan keselamatannya. Tidak perlu masker untuk bekerja, dan juga tidak perlu menjaga kebersihan karena pasti kotor saat di ladang. Ketika berbagai sektor harus mengalami lockdown dan merumahkan para karyawannya bahkan sampai di PHK, Mbah ku masih beraktivitas seperti biasa. Banyak orang yang nekad mudik karena tidak lagi memiliki penghasilan tetapi Mbah ku masih bisa menghasilkan uang walaupun hanya rata – rata Rp30000,- per hari.

baca juga: Ketika Bisnis Lebih Ganas daripada Virus Corona

Sangatlah benar jika Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mengatakan petani adalah penolong negeri. Di masa pandemi seperti ini, maka tidak hanya dokter petani juga diperlukan untuk menjaga stok logistik nasional. Hasil pertanian yang ada di desa akan dikirim ke kota, memberi makan mereka yang kepanikan karena data pangan negara kita yang defisit. Mungkin mereka yang berteriak stok pangan defisit adalah orang – orang yang datang ke petani saat pemilu, baik hati sekali disaat pandemi petani ikhlas berbagi hasil buminya.

Syukur terus kami panjatkan ketika Mbah ku masih bisa menyediakan makan. Pendapatan yang mungkin sangat kecil bagi mereka yang bekerja di Jabodetabek masih mampu menghidangkan makanan empat sehat lima sempurna. Lauk ayam, ikan laut, telor, pindang sering terhidang di meja makan, walaupun sering kali lauk tahu dan tempe. Tidak perlu berebut bantuan seperti yang ditayangkan di televisi atau mengambil dari pagar rumah yang sengaja di berikan oleh para dermawan.

baca juga: Tumbuh Dewasa Dengan Tembang Ambyar Mas Didi Kempot

Masalah bantuan juga tidak lagi dirisaukan. Mbah ku tidak lagi mendapatkan beras atau PKH. Alasan dari perangkat desa adalah karena Mbah ku sudah mampu dibuktikan dengan mampu membiayai cucunya ini kuliah. Padahal Mbah ku sangat layak mendapatkan bantuan, tembok rumahnya masih bilik bambu dan atap untuk dapur masih memakai ilalang. Adapun aku bisa kuliah tidak murni biaya dari Mbah ku karena aku anak Bidikmisi. Usut punya usut alasan kenapa Mbah ku tidak lagi mendapatkan bantuan adalah karena sakit hati sang kades. Mbah ku bukanlah pemilih dari kades yang memimpin saat itu. Mungkin karma kades tersebut akhirnya digulingkan di akhir masa jabatan karena terbukti tidak amanah dalam mengelola dana desa. Maka, disaat banyak orang ribut bantuan seperti saat ini, Mbah ku tidak pernah khawatir tidak dapat bantuan, toh memang tidak akan pernah dapat.

Masih mampu memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan adalah bukti petani memang profesi yang paling mampu bertahan di masa pandemi ini. Tidak terganggunya aktivitas ditambah masih mampu menyediakan logistik untuk orang lain adalah hal yang perlu disyukuri. Harapannya perhatian untuk kaum tani harap ditingkatkan tidak hanya saat menjelang pemilu.

Sumber foto: https://nasional.kompas.com/read/2020/05/06/07222081/pengecekan-data-bantuan-untuk-petani-libatkan-tni-dan-polri