Polisi Samijo dan Pengendara Berpeci

Cerpen

Berawal ketika seorang polisi lalu lintas yang bernama Samijo bertugas di depan pos lantas Pasar Minggu sedang melakukan razia kendaraan bermotor. Pak Samijo adalah polisi yang baru dipindah tugaskan di daerah pasar Minggu. Sebelumnya ia bertugas di daerah yang jauh dari Pasar Minggu. Dengan status kepindahannya yang sekarang tentu Pak Samijo dalam bertugas lebih disiplin karena masih baru.
Beberapa pengendara motor melintasi jalan pasar Minggu dengan memakai perlengkapan berkendara. Pak Samijo lebih fokus pada pelanggaran lalu lintas yang tidak memakai helm dan atribut pada sepeda motor; seperti spion, bodi motor, lampu dan lain sebagainya. Pengendara sepeda motor kebanyakan sudah memakai perlengkapan pengendara. Alhasil, Pak Samijo pun hanya mengatur kondisi lalu lintas saja agar berjalan lancar.
baca juga: Fatwa Dari Televisi

Ditengah keramaian pengendara, Pak Samijo melihat salah satu pengendara yang hendak berbelanja tidak memakai helm, pengendara itu seorang pria dewasa yang berboncengan dengan seorang wanita. Pak Samijo pun memberikan perintah kepada pengendara itu untuk menepi di pinggir jalan. Setelah itu Pak Samijo bermaksud untuk menilang pengendara tersebut.

“Selamat Siang Bapak!” tanya Pak Polisi.
“Selamat Siang!” jawab pengendara motor itu.
“Mohon maaf, Bapak saya tilang, karena Bapak dan Ibu tidak memakai helm!” imbuh polisi.
“Kan saya sudah memakai peci Pak, kok masih ditilang.hehe” seloroh pria tersebut dengan bercanda.
“Ya kan, untuk kemaanan Bapak dan Ibu. Bisa ditunjukan surat-suratnya Pak” lanjut Pak Polisi.
“Saya tidak bawa dompet Pak, jadi semua surat-surat (SIM/STNK) di rumah semua.” pria tersebut pun tidak bisa menunjukan surat-surat. 
“Loh kok bisa! Jangan-jangan ini motor mencurigakan” terus diintrograsi. Motor yang dipakai pria tersebut kebetulan motor Prima jadul. Jadi Pak Samijo menganggap motor itu baleng (tanpa surat-surat).
“Ya sudah, kalau Bapak tidak percaya saya tak pulang dulu ambil surat-surat. Saya tinggal istri saya disini ya. Awas loh! kalau sampai diapa-apain.” jawab pria tersebut dengan penuh bercanda. Tanpa ada raut wajah marah sedikit pun.

baca juga:Santri Tulen Vs Tukang Cukur

Akhirnya pria tersebut pulang dengan mengendarai motor itu untuk mengambil surat-surat. Karena istri pengendara tersebut ditinggal, Pak Samijo berinisiatif untuk ngobrol dengan ibu itu.

“Ibu rumahnya dimana?” tanya Samijo.
“Disitu Mas deket, di Jalan Wahid Hasyim.” jawab itu tersebut.
“Oh, jalan Wahid Hasyim. Di daerah itu ada pondok pesantrennya apa ya Bu? Namanya pengasuhnya kalau nggak salah Kiai Haji Ahmad.” menimpali ibu itu dengan penuh penasaran. Karena Pak Samijo pernah diberitahu oleh kawannya kalau di daerah itu ada Kiai yang cukup terkenal dan disegani oleh masyakat.
“Loh, itu suami saya  Pak Polisi!” jawab ibu itu dengan santai.

Mendengar jawaban itu Pak Samijo pun seperti mendengar suara petir di siang bolong karena terkejut. Ternyata pria yang akan ditilang itu seorang kiai tersohor. Akhirnya Pak Samijo pun meminta maaf ke Ibu itu.
“Aduh, mohon maaf ya Bu? saya tidak tahu kalau tadi ternyata Pak Kyai Ahmad” dengan sedikit malu.
Tak berselang lama akhirnya Kiai Ahmad kembali setelah mengambil surat-surat kendaraan yang tertinggal di rumahnya. 
Ngengg…. jlegedeg” suara motor Pak Kyai Ahmad. Kemudian beliau turun dari motor.
“Mohon maaf sekali Pak, saya tidak tahu kalau panjenengan itu Pak Kyai Ahmad. Monggo, motornya langsung dibawa saja”. Tanpa basa-basi Pak Sumijo langsung meminta maaf dan mempersilahkan Pak Kyai untuk melanjutkan perjalanannya. 

“Loh…katanya saya ditilang Pak, tidak apa-apa santai saja.” jawab Pak Kyai Ahmad dengan sedikit tersenyum.

“Tidak Pak, monggo diteruskan saja Pak Kyai” jawab Pak Sumijo dengan rasa penuh malu karena sudah membuat bolak-balik Pak Kyai.
“Ya sudah, saya manut njenengan.” jawab Pak Kyai.
Akhirnya Pak Kyai Ahmad dan istrinya naik motor dan pulang. Rasa bersalah menyelimuti polisi itu karena menaruh rasa hormat yang tinggi kepada kiai Ahmad.