Perihal Lomba Tujuh Belasan Di Masa Pandemi

Esai

Memasuki bulan Agustus tanpa adanya perlombaan untuk menyambut dan memeriahkan hari kemerdekaan seperti yang biasanya diadakan, bagiku rasanya hampa. Maklum, aku bukan atlit profesional. Kalau bukan di turnamen tujuh belasan yang diadakan oleh panitia desa, lantas di mana lagi aku bisa bergaya seperti Ronaldo setelah mencetak gol? Sedih.

Bukan cuma orang dewasa, anak-anak yang masih sekolah juga pasti merasa kangen dengan beberapa lomba yang lazim dilakukan tiap tujuh belasan. Kalau tahun lalu ada anak yang bangga karena juara lomba balap karung atau memakan kerupuk, di tahun ini sulit untuk terulang. Mau gimana lagi? Sekolah saja harus online.

Efek pandemi memang begitu nyata. Sebagai seorang awam, aku sepakat sih untuk tidak mengadakan perlombaan yang sudah lazim diadakan untuk menyambut tujuh belasan. Lebih baik sami’na wa atho’na dengan himbauan pemerintah, agar situasinya tidak semakin memburuk. Toh, perlombaan itu sifatnya untuk memeriahkan, bukan sesuatu yang wajib.

Lain halnya kalau isi perlombaan itu diganti. Misal, mengadakan lomba rumah dengan protokol kesehatan terbaik, lomba rumah dengan taman terbaik, lomba lingkungan RT terbersih, lomba tertib memakai masker atau lomba lainnya yang semuanya bertujuan untuk meminimalisir penyebaran pandemi. Yang penting bukan lomba mahal-mahalan harga sepeda. Hehe

Bagiku sih menarik, kalau kita bisa mengambil momentum tujuh belasan untuk kembali memperbarui semangat melawan pandemi dengan membuat alternatif lomba sepeti yang aku sebutkan di atas. Anggap saja mengisi kekosongan untuk sesuatu yang ada manfaatnya. Kan sedih, kalau setiap hari harus memilhat saudara kita semakin banyak yang terjangkit pandemi. Dokter dan tenaga medis yang gugur juga semakin banyak.

Tetapi semuanya tergantung kesadaran diri kita masing-masing. Di desaku saja, ada beberapa dusun yang warganya ngotot ingin mengadakan turnamen tujuh belasan seperti tahun-tahun yang lalu. Alasannya, katanya corona sudah selesai lah, masih aman lah, padahal di wilayah tempatku tinggal sudah ada beberapa kasus orang yang positif corona. Kalau orang-orang semacam ini dituruti kehendaknya, efeknya bisa bahaya. Alih-alih ingin meriah, yang didapat malah musibah.

Pesanku untuk kepala desa, para pengurus karang taruna desa atau orang yang biasa menjadi panitia lomba tujuh belasan: Pliss….kalau nggak punya alternatif lomba yang aman, kalian nggak usah mengadakan lomba tujuh belasan!