Pandanganku Setelah Musibah di SMPN 1 Turi

Esai

Gerakan Pramuka kali ini sekali lagi mendapatkan ujian. Bukan ujian salam pramuka yang viral di internet (tolong jangan di cari di google) melainkan kecelakaan saat adanya kegiatan susur sungai yang dilakukan oleh Gugus Depan SMPN 1 Turi. Kecelakaan yang terjadi di Sungai Sempor, Dukuh Donokerto, Turi Sleman, ketika melakukan susur sungai hari Jumat 21 Februari 2020. Sebanyak 10 korban meninggal dunia dan pencarian korban dinyatakan di hentikan pada tanggal 23 Februari 2020. Kita patut turut berbelasungkawa atas musibah yang menimpa adek-adek kita ini, dan berdoa semoga para petugas yang berjuang di berikan kesehatan dan keselamatan serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

baca juga: Untuk Jomblo, Tips Memilih Wanita Yang Baik

Kecelakaan dalam dunia pendidikan, khususnya Gerakan Pramuka ini mengingatkanku pada pengalaman sekitar 8 tahun lalu. Mungkin dunia kerja ku belum tau kalau dulu aku seorang Pramuka sejati (cie cie cie) dan juga kawan-kawanku satu pondok mungkin juga belum tau. Iya dulu saat Pak Amin (Guru BK sekaligus pembina Pramuka) datang ke kelasku dan bertanya “cita-citamu ingin jadi apa, Ko?” Dengan tegas aku pun menjawab “ingin jadi pembina Pramuka Pak” lantas Pak Amin pun tertawa bersama kawan seisi kelas. Kalau saya main ke sekolah pasti para guru bertanya, sudah siap jadi pembina Pramuka belum? Sana gantiin pak Amin hehehehe.

baca juga: Anak SMK Wajib Baca!

Saya aktif di Pramuka sejak SD, mungkin karena aku adalah orang desa yang minim pengetahuan organisasi dan sedikit sekali organisasi yang bisa digunakan sebagai tempat berekspresi maka Pramuka lah yang menjadi tempat aku bernaung dan berlindung. Saat SD kegiatan Pramuka semua saya ikuti mulai dari latihan rutin sampai lomba, begitu juga waktu SMP malah intensitas kegiatan Pramuka lebih sering lagi, bahkan aku menemukan cinta pertamaku juga di Pramuka. Eh …… Bukan di Pramuka ding, kebetulan ajah beliau dewan penggalan saat aku kelas VII hehehehe.

baca juga: Ketika “Scabies” Datang Menyerang

Sejak SMA kegiatan Pramuka juga menjadi lebih intensif lagi. Walaupun sekolahku jauh bgt, bisa sampai 20 kilo naik bis 2 kali tidak menjadikan aku patah semangat. Setiap kali hati jumat aku berangkat lebih awal membawa bekal makan siang dan menyiapkan amunisinya. Rutinitas setiap hari Jumat adalah aku sampai di rumah saat Magrib, pernah kehabisan bis sampai harus jadi kaya anak “PUNK” melambaikan tangan memohon truk berhenti dan meminta tumpangan. Sampai-sampai Mbah Kakung sudah menunggu di jalan, padahal jalan raya dengan rumahku yang pelosok lumayan jauh sekitar 1KM.

Maklum saya adalah siswa miskin yang dipelihara oleh negara hehehe. Nah di kelas X SMA inilah aku juga harus patah hati karena Pramuka, perempuan yang aku sukai lebih memilih cowo lain dari gugus depan lain. Mungkin cowo ini lebih tangguh dalam Pramuka dan lebih Istiqomah dalam mengamalkan Tri Satya dan Dasa Dharma. Hancur hati ini saat mengetahui harus ada kejujuran semacam ini, namun apa daya mungkin cinta hanya sebatas pathok tenda, tenda terbongkar sayonara cinta. Lebih sakit lagi ketika bus yang aku tumpangi melintasi gang rumah si gadis ini, melihat gadis yang aku impikan dengan tas besar mau kemah di jemput pacarnya yang gagah dengan motor besar, aku hanya bisa tersenyum bergelantungan di bis yang membawaku dengan cepat karena kejar setoran. Huhuhuhuhuhuhu ambyar gaes.

baca juga: Oh, Asmara

Kelas XI menjadi tahun paling sibuk bagiku dalam kegiatan Pramuka. Rapat sana-sini, ikut kegiatan sana sini, terlebih aku ikut Saka Bhayangkara (gerakan Pramuka di bawah naungan kepolisian) seragam Saka Bhayangkara ini sering tak pakai kerja bakti di Pondok. namun mungkin tidak ada yang menyadari dan mengira seragam yang saya kenakan itu seragam Banser wadu…duh. Nah lomba yang saya ikuti banyak, tertinggi sih hanya tingkat provinsi tapi itu sudah cukup bukti buat aku tersenyum bahwa aku dulu anak Pramuka. Waktu di kampus aku nggak jadi ikut Pramuka, walaupun secara seleksi penerimaan saya lolos, saya tergoda dengan BEM organisasi yang bagi saya lumayan keren dan banyak melahirkan orang hebat.

Nah kembali ke kasus kecelakaan di Gudep SMPN 1 Turi, mari kita semua berfikir lebih dewasa. Kita tidak usah ribut di dunia maya, atau menyebarkan luaskan foto/vidio korban. Kita perlu melakukan evaluasi yang besar dalam kegiatan ini, semoga kecelakaan seperti ini cukup ini yang terjadi dan menjadi yang terakhir. Hal ini tentu mengingat kan ku pada kejadian waktu masih menjadi DK. Ambalan waktu SMA. Dulu zaman saya ketika menjadi DKA memiliki ego yang tinggi begitu juga dengan kawan satu angkatan. Ketika kita mendesain suatu acara mau tidak mau tidak mau acara harus lancar, tanpa kecuali. Disinilah fungsi pembina itu hadir, pembina datang untuk mengendalikan ego. Jadi acara Pramuka yang ada bisa berjalan dengan lancar dan yang penting keselamatan peserta.

baca juga: Rekomendasi Tempat Ngopi dan Nongkrong di Gombong

DKA akan merasa bangga dengan agenda yang seru dan menarik. Harga diri di mata andik juga akan meningkat. Tapi Pramuka bukanlah tempat untuk gagah-gagahan, Pramuka merupakan wadah dimana kita dilatih menjadi pribadi yang tangguh, sabar, riang dan gembira serta berguna dalam kondisi dan situasi apapun. Untuk mencapai tujuan itu tentu kegiatan yang dilakukan harus sesuai dengan porsinya, tingkatan dan kemampuan Andik.

Pesan dari pembina Pramuka SMA ku yang dulu adalah kita harus belajar dari kasus yang pernah ada. Dulu SMA ku ada pasukan khusus yang terdiri dari DKA dimana dewan kerja yang sudah ada itu diseleksi lagi dan dilatih secara khusus sehingga memiliki kemampuan yang lebih. Tentu ini sangat berguna karena pasukan ini memiliki kecakapan yang lebih sehingga jika ada lomba atau apapun bisa mudah dimenangkan. Di sekolah anggota ini juga menjadi teladan, terlebih ketika lulus banyak yang masuk ke Dinas militer baik kepolisan maupun TNI sehingga memotivasi juniornya untuk terus meningkatkan kecakapan nya.

Nah dulu latihan khusus untuk calon pasukan khusus ini pernah dilakukan pasca kegiatan Pramuka dilakukan. Sekitar pukul 16.00 WIB dan tanpa sepengetahuan pembina. Entah kegiatan atau hanya mencuci kaki di sungai karena kabar yang beredar simpang siur dari pembina atau dan dari senior. Maka akhirnya tiga orang menjadi korban karena ketika di sungai ada banjir kiriman dari atas gunung dan hujan ternyata terjadi di puncak gunung. Kejadian inipun viral, mungkin seviral kejadian di SMPN 1 Turi. Maka pesan inilah yang senantiasa hadir kepada kami jika ingin melakukan kegiatan.

baca juga: Mak, Anak-anakmu Masih di Negeri Ini

Maka pembina lah yang patutnya jadi pengarah dan pengendali anggota dalam kegiatan. Jangan sampai ada kegiatan ketika hujan koq pembina nya malah berteduh atau kembali ke sekolah, atau bahkan ketika diperingati warga malah menjawab dengan kalimat tidak baik. Maka dari peristiwa tersebut pembina merupakan ujung tombak dari terlaksana kegiatan yang sesuai dengan arah dan koridor sehingga tercapai kegiatan yang sesuai dengan harapan.