Orang Dewasa Lebih Penakut dari Anak SD

Esai


Ekspresi ketika perut lapar
Entah kenapa saya ingin menulis dengan judul demikian, setelah saya mengamati anak Sekolah Dasar dalam melakukan segala hal ternyata jauh lebih berani dibandingkan dengan orang dewasa. Bukan berarti saya merendahkan orang dewasa ya, tidak. Saya pun termasuk kategori sebagai orang kawak-kawak (sudah besar), berjenggot dan berkumis arang-arang. Menurut teman saya kumisku mirip pagar kabupaten. Terserah lah yang penting kamu bahagia. Asyeeek.

Oke, mengapa bisa anak SD jauh lebih berani? Coba kita amati saat dulu kita masih unyu-unyu dan umbel nempel dimana-mana; dibaju, di lengan baju. Bahkan lengan baju sampai bermotif abstrak, pokoknya kita tidak peduli dengan keadaan tersebut dan tetap percaya diri. Apa yang kita lakukan saat kecil jika ingin menjadi Superman cukup hanya mengambil jarit (selendang) di ikat di leher dan dibentangkan seolah-olah menjadi sayap untuk terbang. Saat itu merasa sangat percaya diri betul dan yakin, bahwa kita sudah menjadi Superhero untuk menyelamatkan banyak orang.

Ketika kita ingin membangun rumah cukup mencari dahan ranting dan daun pisang di kebun untuk membuat rumah-rumahan. Begitulah masa kecil kita, sungguh sangat yakin dan optimis, seolah-olah semua tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Saat kecil kita mempunyai banyak gagasan , dan mudah merealisasikannya karena kita begitu sangat yakin. Percaya menjadi Superhero, percaya bahwa kita bisa melakukan hal apa saja yang kita inginkan. Disitulan momen dimana puncak kekreatifan dimiliki oleh seseorang. Tanpa memikirkan resiko dan hasil.

Baca Juga:


Akan tetapi ketika kita beranjak kumisen dan brei, kondisi dan situasi sudah sangat berbeda. Karena kita dipaksa untuk mentaati segala aturan yang ada. Melakukan kesalahan siap-siap telinga kita di slentik, kalau yang paling parah mungkin di hukum. Jika salah mengerjakan nilainya jelek, jika benar nilainya bagus.

Berabad-abad kita diajarkan untuk menjawab pertanyaan dengan benar sesuai jawaban yang sudah di tentukan. Banyak kita temukan generasi milenial yang lebih banyak menyempatkan masuk ke bimbel hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus. Seolah-olah kita robot. Mau jadi robot? Nggak makan lo, siap diremot untuk melakukan apa saja sesuai pemegang kendali remot.

Takut salah, khawatir nilainya jelek. Boleh berfikir hal yang demikian, namun sebenarnya yang paling penting adalah proses berfikir kreatifnya. Di masa produktif saat ini sebagian besar di doktrin untuk takut salah, harus benar, harus perfect maka lambat laun otak kita untuk berfikir jendel takut untuk melakukan out of the box.

Rasa takutlah yang menumpulkan daya kreatifitas seseorang. Sepertinya mereka berada pada alam yang kurang tepat. Bukan alam ghoib ya.hehe.

Ada beberapa opsi yang perlu kita lakukan. Tetap berada pada posisi saat ini atau berada di dunia yang kita cintai dengan mengeksplorasi apa yang kita bisa.

Ikan tidak bisa hidup di darat. Sebaliknya kucing pun tidak bisa hidup di air. Jadi agar kita tetap eksis adalah dengan mencari dimanakah dunia kita sebenarnya.