Oh Asmara

EsaiUncategorized

Sampai detik ini saya masih konsisten menjaga pola makan agar postur saya tetap ngganteng, seperti dulu. Pola hidup yang saya lakukan adalah makan seadanya. Tinggal di asrama sekolah saat itu, menuntut saya untuk hidup priatin dan memprihatinkan. Dengan berat badan yang stagnan, tak pernah lebih dari 54 kg. Alhmadulillah saya masih waras dan trengginas.

baca juga: Untuk Jomblo, Tips Memilih Wanita Yang Baik

Di momen wisuda SMK (2015) saya terlihat jelas dari lesung pipi yang menjorok kedalam (saking kurusnya), dengan tangan sedikit bergetar, jas hitam hasil pinjaman teman, dan dasi yang sudah tak betah lagi melingkar di leher, saya masih berdiri tegap dengan tatapan tajam ke audiens.

Soal perpisahan, awalnya saya khawatir. Kenangan yg sudah dilalui akan terlewatkan begitu saja, akan terganti dengan kenangan yg lain. Seolah-olah tidak akan pernah terulang kembali kenangan yg indah seperti dulu. Ternyata memang benar, masa SMK adalah masa emas. Masa dimana saya bebas menembak cewe yg disukai atau hanya iseng nembak cewe yg pada akhirnya diterima, tanpa berfikir panjang tentang hubungan kedepan. Alhasil memang menyenangkan… wkwk.

baca juga: Rekomendasi Tempat Ngopi dan Nongkrong di Gombong

Bahkan soal asmara saat itu, saya rasa tidak ada bedanya dengan kredit di dealer motor, jangka waktunya hanya bulanan paling lama ya tahunan. Saat tak ada kecocokan dgn pasngan, status berubah menjadi sitaan, bukan milik saya lagi.

Dengan kondisi sekarang yang sudah jenggotan dan kumisan, saya sadar ternyata bukan soal mengutarakan perasaan yang utama. Terkadang perihal mengutarakan perasaan dan menahannya sama pentingnya.

Urusan asmara memang rumit. Dianggap gampang juga nggak, dirasa sulit juga nggak. Hanya perlu waktu saja agar keadaan yang menentukan.