Misteri Foto Keluarga, dan Foto Wisuda

Esai


Keluarga adalah harta paling berharga, itulah kata dalam film keluarga Cend*n* eh maksudku keluarga Cemara hehehehe. Bagi semua orang pasti sudah menjadi hal yang biasa dengan adanya foto keluarga di dinding rumah masing – masing. Cerita berbeda mungkin hanya dialami oleh diriku yang baru sajah foto keluarga waktu wisuda kemarin.


Berawal dari tahun 2014 ketika kesibukan sebagai siswa kelas XII, yang ingin dapat beasiswa Bidikmisi, sayapun sibuk dengan upload data diri dan keluarga. Ada bagian dimana saya sangat bingung ketika harus meng-upload foto keluarga. Waktu itu saya sudah tidak bertemu dengan ibu selama 2 tahun, dan dengan bapak sudah 3 tahun. Jangan untuk foto keluarga, ketemu  sajah sangat jarang, dan baru saat itu  saya sadar kalau foto keluarga itu penting dan dibutuhkan. Ketikakan demikian, teman – teman SMA malah ketawa, dan ada yang menawarkan jasa nya agar foto keluargaku diedit sajah hehehehe. Tapi guru BP saya sangat sabar waktu itu, beliau menyarankan agar foto yang diupload yang apa adanya sajah, jadilah yang aku upload foto keluarga tanpa adanya diriku. Sungguh sabar luar biasa Bapak Yoga Purnama waktu itu, beribu terima kasih saya haturkan, dengan senyum yang manis dan sifat sabar nya mungkin itulah yang membuat ibu Indri tidak bisa menolak ajakan Pak Yoga untuk membangun rumah tangga. 


Setelah perjuangan panjang akhirnya tanggal 23 Februari 2019 saya diwisuda. Jauh hari sebelum hari wisuda saya sudah konfirmasi dengan keluarga tentang kesanggupan untuk hadir atau tidak. Saya sih slow ajah, kalau hadir ya ayoo, kalau Ndak juga nggak masalah bagi saya, sudah biasa dengan hal demikian. Kepastian hadirnya orang tua ku tepat satu minggu sebelum hari wisuda, namun belum jelas siapa sajah personel yang hadir. Hal ini yang membuat diriku bingung untuk cari penginapan, akhirnya saya disuruh boking dua kamar penginapan oleh ibuku. Personel yang hadir cukup banyak waktu itu, mulai dari bapak ibu, bibi dan anaknya (sepupuku) adek ku, kakek dan nenek yang merawat diriku dari kecil, perangkat desa, adek ipar nenekku dan satu sopir. Sungguh hal yang luar biasa bagi diriku ketika ketemu bapak ibu, ibu baru sajah operasi mata dan saya kurang tau penyakit apa yang membuat ibu operasi mata. Sedangkan bapak belum lama terkena struk dan tidak bisa bekerja seperti dulu lagi. Ketika kemarin ketemu baru sadar kalau bapak dan ibu sudah tua, terlebih bapak yang ramputnya sudah putih, namun tekat yang kuat ingin lihat anak Lanang sing paling nakal nganggo toga terus di wisuda hehehehe.


Wisuda berjalan lancar seperti biasanya, namun hal jadi kacau ketika ibuku sadar telah kehilangan dompet. Waduh kacau ini teriakku dalam batin. Akhirnya aku dan ibuku disibukkan dengan lapor satpam dan polisi untuk membuat surat keterangan kehilangan. Tiga buah kartu ATM, dua buah KTP, dua buah kartu BPJS dan sedikit nominal uang hilang dalam acara wisuda kemarin. Ketika kami harus mengurus barang yang hilang, rombongan ternyata sudah sepakat untuk segera pulang, saya juga tidak tau ternyata alasannya macam – macam, mulai dari panas, capek, kasian bapak sopirnya, sampai alasan hujan dari bapakku yang bikin saya bingung, kan pakai mobil kalau hujan Ndak papa to, pikirku heran. Namun apalah dayaku kesepakatan pulang tersebut sudah seperti paduan suara, dan akhirnya saya tidak bisa melarang padahal belum foto bareng. Akhirnya saya pun foto apa adanya dengan keluarga, ya buat formalitas lah. Setelah itu merekapun pulang dan meninggalkan aku di GOR UNY. Oiya terima kasih untuk teman-teman yang kemarin foto – foto, membantu mengurus kehilangan dan memberikan hadiah, terima kasih sekali, tanpa kalian mungkin aku sudah pulang ke kos tanpa adanya kenangan dalam wisuda kemarin. 


Berita tentang aku wisuda dan ibuku yang kehilangan dompet pasti jadi bahan perbincangan hangat di kampung ku. Hal inilah yang membuat aku untuk memutuskan tidak pulang dulu dan tetap di Jogja sampai isu selesai berhembus hehehehe. Desaku memang masih jarang yang bisa kuliah, kalaupun kuliah ya pakai beasiswa Bidikmisi. Makanya saya sering jadi bahan perbincangan dikampung, hal yang buat saya Ndak enak ketika isu tersebut harus ditanyakan kepada diriku saat aku mudik. Iya masa aku harus klarifikasi satu – satu setiap pertanyaan. Mungkin masyarakat desa terlalu menganggap diriku hebat, padahal diriku kebalikannya, diriku bukanlah orang hebat, ataupun istimewa, ngerti ku mung sebates klungsu, udu ahli ilmu. Tapi apalah dayaku ketika ada tetangga yang tanya, ya aku cuman bisa senyum, tidak mau banyak berkomentar takutnya juga jadi bahan obrolan lagi, terlebih saat ini yang baru sajah wisuda dan kehilangan dompet, harus hati – hati sekali aku dalam memberikan statement. Dah iya curhat nya segini dulu besok tak sambung lagi, anggap sajah ini hal yang biasa nggak usah hehehehe, oiya sekali lagi untuk teman-teman yang kemarin membantu mulai dari foto sampai mengurus barang hilang, terima kasih sekali, sukses buat kita semua. aaamiin 😊

baca juga: