Menyemai Mimpi di Kapuas Hulu

EsaiTokoh

Hallo jamaah Tigongdoso.com pasti udah nggak sabar yah dengan tulisan Nyong sing anyar hehehhe. Kalau biasanya saya nulis sesuatu yang ndak berfaedah, kali ini saya mencoba menulis yang berfaedah. Tulisan saya ini merupakan hasil wawancara dari salah satu narasumber yang saat ini sedang mengabdi di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).

Beliau memiliki nama Apri Waidah atau akrab di sapa Mba Aping saat masih SMA. Kebetulan nih gaes, saya adalah adik tingkat Mba Aping saat SMA dan juga kita alumni kampus yang sama hehhehe. Beliau saat ini sedang mengabdi di Desa Keling Panggau, Kecamatan Empanang, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Mulai Tanggal 7 januari 2019 beliau mengajar dan mengabdi di situ nih gaes, waaaaaaah jauh banget yahhh. Mengajar di SD dan SMP TUNAS SEJAHTERA SUNGAI TAWANG mengampu mata pelajaran PKN dan IPS nih gaes. Waw multi talen banget yah, emang tuntutan seperti itu gaes, padahal dulu kuliahnya jurusan Pendidikan Geografi nih hehehe.

Mba Apri Waidah berfoto di depan SD Tunas Sejahtera Sungai Tawang

Biasanya kalau mereka yang mengajar di luar Jawa ikut program baik dari pemerintah maupun dari NGO (Non Government Organization), namun beda dengan Mba Aping yang tidak ada program khusus untuk mengabdi fisitu. Jadi benar – benar niat sendiri gaes, langsung mendaftar sekolah yang notabenenya milik swasta, jadi statusnya sekarang katanya sebagai guru tetap yayasan (GTY).

baca juga: Ketika “Scabies” Datang Menyerang

Ketika ditanya alasannya mengapa berkenan mengajar di daerah yang sulit dijangkau, beliau menjawab lebih pada cita-cita nya. Katanya sih waktu kuliah memiliki keinginan, ketika sudah dapat gelar sarjana pendidikan, akan digunakan ilmunya untuk mengajar di setiap pulau di Indonesia gaes. Ingin sekali melihat kondisi pendidikan di daerah-daerah tersebut secara langsung. Sekarang baru di Kalimantan, maka kata nya masih ada target empat pulau lagi yang akan di singgahi untuk berbagi ilmu.

Pembaca yang budiman pasti sudah membayangkan medan seperti apa yang di hadapi oleh Mba Aping. Iya pastinya tidak sebagus di Pulau Jawa. Tempat mengajar nya ini secara geografis lokasinya berada dilingkungan perkebunan sawit. Bagaimana sudah punya bayangan? Nah kalau hujan pasti lah berlumpur, kalau lagi kemarau sangat berdebu jadi susah sekali akses medannya.

Medan yang dilalui siswa setempat untuk sampai ke sekolah

Lokasi pengabdiannya saat ini dapat ditempuh melalui perjalanan udara jika dari Yogyakarta atau kapal dari Semarang menuju ke Pontianak, setelah sampai Pontianak dilanjutkan perjalanan darat selama 12 jam Ke Kapuas Hulu. Tentu aja perjalanan 12 jam itu tidak selalu mulus jalan yang ditempuh. Kalau sudah masuk daerah Kapuas Hulu tepatnya di Kecamatan Silat, dilanjutkan dengan nyebrang sungai Kapuas dengan Kapal Ponton. Pembaca jangan bayangkan kapal ini kapal besar kaya di film Titanic, kapalnya hanya sejenis kapal tempel aja, dan ditarik sama perahu. Setelah nyebrang, lanjut lagi perjalanan dengan medan yg sulit banget kalo musim hujan, berlumpur sama sekali tidak beraspal. Gimana nih, udah bisa bayangin? Kebayangkan gimana beratnya pengabdian Mba Aping, di lokasi dengan medan yang berat, dan untuk kesana sajah dari Jogja harus melewati medan yang berat juga.

baca juga: Ketika Bisnis Lebih Ganas daripada Virus Corona

Nah pastinya dong, budaya di Jawa dengan di Kalimantan beda, cerita nya saat di wawancara, Budaya di sekitar daerah ngajar nya masuk dalam permukiman orang – orang Dayak Iban. “Disini peraturan adat masih sangat kuat, aturan negara di nomor duakan, contoh nih kalo ada penyimpangan sosial di sini, harus diselesaikan secara adat dulu” kata Mba Aping. Pernah ada pengalaman pribadi nih, katanya pernah ikut penyelesaian masalah sosial adat Dayak Iban dua kali. Salah satunya Mba Aping sendiri yang mengalami nih gaes. Ceritanya gini, jadi Mba Aping tinggal di rumah berdua dengan temennya, suatu sore sehabis Isya rumahnya di intip sama orang yang tidak dikenal. Pelakunya lari karena teman Mba Aping teriak, akhirnya melapor ke petugas keamanan, dan ada yang melapor ke Pak Patih (Pemangku Adat). Keesokan harinya di rumah Mba Aping, diadakan pertemuan adat buat menyelesaikan masalah tersebut dan masalah tersebut selesai, Pak Patih menetapkan denda adat kepada si pelaku sebesar Rp 1.000.000,00.

Kegiatan Belajar Mengajar di luar kelas

Mengajar di daerah seperti itu juga harus siap untuk menghadapi karakter murid yang berbeda dengan karakter anak – anak di Jawa. Tapi secara keseluruhan tetap ada kelebihan dan kekurangannya masing – masing. Banyak yang santun dengan guru, tapi juga ada yang kurang satun. Ada yang memang pintar, tapi ada yang masih ada yang masih butuh banyak belajar. selain itu kondisi orang tua yang masih sebagian belum sadar akan pentingnya pendidikan juga menjadi tantangan sendiri.

Kata Mba Aping nih, karakter dalam hal persaingan juga masih rendah, sama halnya dengan fasilitas pendidikan yang tersedia. Masih banyak tenaga pendidik di daerah tersebut yang butuh pelatihan dalam hal IPTEK. “Ada juga lhoo sekolah yang hanya punya satu guru aja, merangkap jadi semuanya, Ada juga yg satu sekolah hanya ada belasan siswa, ndak sampai dua puluh siswa” pungkas Mba Aping. Kondisi bangunan sekolah yang masih banyak yang belum permanen, bahkan banyak yang mengalami pelapukan. Tapi sebagian lagi katanya masih kuat bangunannya walaupun masih menggunakan kayu.

“Besok kalo aku lewat daerah desa tembaga, ku fotokan sekolahnya”. Kata Mba Aping. Okay Mbaaaaa, jangan lupa yah hehehehe.

“Sekolah yang saat ini ditempati untuk mengajar sudah lumayan bagus, bahkan paling bagus” kata Mba Aping. Karena ya itu gaess, sekolah ini milik yayasan jadi lebih diperhatikan oleh pihak yayasannya.

Proses belajar mengajar di dalam kelas

Saat Mba Aping ditanya kesan – kesanya waktu mengajar di sana katanya “Tentu sangat berkesan banget yaaa….. banyak sekali hal – hal baru yg kutemukan disini mulai dari keadaan fisik daerah dan kondisi sosial masyarakatnya”. Katanya Kalo kondisi fisik alam disana nih gaes, sering banget berbelanja kehidupan sehari – hari di alam, kaya mancing ikan, nyari jamur, pakis, kang – kang (sejenis akar tumbuhan yg bisa dimasak dan dimakan), mandi di sungai, dan segenap aktivitas yang lain gaes. Wah seru juga yahh, kaya kita nih generasi 90an pasti dulu ngalamin hal kaya gitu yah hehehe. “Oiyaaa daerahku juga dekat sama Taman Nasional danau sentarum. Jadi sesekali aku singgah ke danau melepas penat karena jauh dari hiburan seperti di kota. Disini ndak ada pusat perbelanjaan yaaa…. cuma ada toko – toko kelontong kecil” kata Mba Aping.

baca juga: Saat Pramuka Dibuli di Medsos

Kerja jauh dari keluarga pasti ada suka dukanya nih, dan apakah keluarga setuju dengan keputusan kerja jauh dari rumah? Jawabannya saat ditanya begitu “Agak ndak rela aku pergi jauh krn anak bungsu, tapi aku bersikukuh pengen berangkat, mumpung masih lajang, melanglang buana dulu” waw hebat yah Mba Aping, tekadnya kuat. Iya kita doakan yah gaes, semoga selamat di tempat pengabdian dan keluarga yang ditinggalkannya bisa tetep sehat, Aamiin.

Sementara aktivitas di sana baru ngajar ajah nih gaes. Selama pengabdian ini sih kata Mba Aping belum ada hambatan yang begitu berarti. Eh tau nggak nih, saat ini selain menjadi guru juga menjadi Waka Kesiswaan, waw mantuuulll yah gaes.

Foto Mba Apri, dkk bersama siswa

Nah, bagi pembaca yang budiman jika ingin mengikuti jejak Mba Aping, maka katanya sih suruh daftar ajah ke lembaga yang bersangkutan atau ke yayasannya karena setiap tahun pasti buka lowongan. Pesan Mba Aping untuk seluruh guru di Indonesia, katanya nih “Mengajarlah dengan hati, ajak utuk mereka merasa senang ketika belajar”.

Nah gitu dulu ya gaes, untuk cerita dari Mba Aping yang saat ini sedang mengajar dan mengabdi di Kalimantan Barat. Kita doakan semoga sukses dan senantiasa diberikan keselamatan, rezeki yang barokah, kesehatan dan kekuatan. Sekian dulu, saya selaku redaktur tigongdoso.com undur diri dulu, besok kita lanjut dengan orang – orang hebat yang berbagi pengalamannya. Oiya gaes, nih bonus dokumentasi, selain yang tadi yah, semoga menginspirasi 🙏🙏🙏❤