Menjalin Rasa dengan Berbalas Esai

Esai

Bagi seorang insomnia seperti saya hari Minggu adalah hari pembalasan untuk tidur ges, karena dihari-hari biasa hanya tidur paling lama 4 jam. Jadi, kesempatan untuk menambah jam tidur yang pada akhirnya bangun tidur pun kesiangan. Seperti biasa bangun tidur langsung sholat Duha namun pakai spion (menadahkan tangan) sambil baca doa Qunut, soal diterima atau tidaknya itu hak prerogatif Gusti Alloh kita sebagai manusia hanya berusaha. Hehe. “Setelah semua beres serasa ada yang kurang, apa ya yang belum saya lakukan?” Sambil mengumpulkan nyawa dan mlonga-mlongo baru ingat kalau saya belum buka HP. Maklum karena saya termasuk orang penting maka tidak boleh jauh dari HP nanti orang-orang pada klaprakan (kebingungan) menghubungi saya. Gkgk..
Kubuka HP ada WhatsApp dari Mas Eko Siam yang berisi tulisan “Kamu orang hebat Gus, jangan baper, sedikit tulisan untuk membuat dirimu tenang dalam pikiran dan hati, mohon di baca, salam takdzim dari aku. Gambar hanya pemanis” begitu pesannya. Saya membaca pun sambil ketawa gidro-gidro.hehe Awalnya, WA-nya cuma saya read  saja, tidak saya balas. Salah satu cara untuk meminimalisir kesalah pahaman adalah ngejorke. hehe. Ya, karena tulisan di gadget itu tanpa intonasi, dan gimik wajah, sehingga kalimat dalam chattingan pun bisa multi tafsir. Bisa saja, menulis tujuannya A bisa dimaknai B. Solusi terbaik memang face to face.  Begitupun Al-Qur’an juga multi tafsir, banyak ulama yang mengartikan ayat dalam al Qur’an pun bisa berbeda-berbeda. 
Maksud hati mungkin untuk mendinginkan suasana hati saya. Padahal hati saya sudah dingin, soalnya tidur aja di keramik, alasnya cuma pakai sajadah.hehe. Bahkan Gus yang satu ini sengaja menuliskan esai khusus buat saya. Waduh, perhatian banget si, saya jadi terharu, seumur-umur belum ada yang bikinin esai buat saya. Makasih banget luh mas Eko,hehe. Karena beliau sudah sangat romantis dan perhatian kepada saya, seyogyanya saya pun membalas esainya. 
Kisah ini mirip dengan Puthut EA kepala suku Mojok.co yang mana dalam pernikahannya sengaja membuat buku yang ditulis sendiri dan dicetak khusus sebagai souvenir pernikahannya. Selain itu menurut senior saya Agus Mulyadi “Kawan saya yang lain, Irwan Bajang, malah lebih syahdu. Ia menulis buku yang ia cetak khusus sebagai mas kawin pernikahannya dengan sang pujaan hati. Sungguh sangat romantis” dikutip dari buku Bergumul dengan Gus Mul. Pekan lalu saya pun menyusul ke Jogja untuk bertemu dengan beliau sambil membawa buku karya Agus Mulyadi, sengaja saya bawa agar beliau membaca buku tersebut khusus di kolom yang berjudul “Kasmaran”. Di kolom kasmaran sedikit cara bagi kaum jomblo untuk mengungkapkan perasaan cinta kepada wanita yang dicintainya, dengan cara yang elegan dan out of the box tentunya. Tetapi beliaunya kurang tertarik untuk membacanya. Ini yang menyebabkan sampai saat ini masih saja jomblo.wkwk.
Gus Eko sengaja menulis esai buat saya ditengah ruwetnya sidang calon mertua. Eh, maksud saya sidang skripsi di UNY. hehe. Tulisannya begitu ilmiah dan terstruktur. Mulai dari sejarah bangsa ini, sampai pengalaman pribadinya saat kuliah. Semuanya beliau tulis semata-mata untuk sharing pengalaman agar saya tidak mengulangi peristiwa yang sama. Terimakasih ya bosku.
Maka berbanding 180 derajat dengan saya, karena saya mengikuti tarikat Jancukiyah, yang mana tarikat tersebut lebih sedingaeh yang kadang-kadang bener tetapi juga bisa salah. Bagi pengikutnya Jancukiyah bebas  mengekspresikan apa saja yang terpenting masih dalam koridor yang benar. Menurut republik Jancukers yang lebih penting adalah konteks bukan teks, dzat bukan nama. Tetapi tidak menganggap  simbol itu tidak penting. Begitulah pemikiran ala Republik Jancukers. Jancukers berasal dari kata “Jancuk”, kata tersebut dipungut dari idiom Jawa Timur yang mengasosiasikan keakraban dan keterbukaan. Dan, istilah ini dipopulerkan oleh budayawan kondang, penulis, dalang, pelukis, dan pemusik yaitu Sudjiwo Tedjo. 
Beginilah cara kami menjalin rasa dengan sahabat sekaligus guru saya yaitu Gus Eko Siam, bertukar pikiran dan rasa melalui tulisan-tulisan ringan. Dan, saya berharap bisa menginspirasi teman-teman semua. Begitupun yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pendiri bangsa ini, budaya literasinya sangat kuat. Semata-mata yang saya lakukan hanya ingin meniru cara atau kebiasaan yang sudah dicontohkan oleh founding father bangsa ini. Walaupun tulisan ini tidak penting untuk dibaca, semoga saja bisa bermanfaat.  
Salam Jancukers..!