Malam Jum’at Pertamaku di Pondok Pesantren

Cerpen

Hari Kamis sudah selesai, senang rasanya ingin aku segera kemas – kemas tas dan laptop, lalu pergi dari pondok cari kebebasan. Namun, kebebasan itu hanyalah semu, nyatanya malam Jumat aku tetep di Pondok Pesantren. Jiwaku yang butuh kebebasan harus tetap ikut kegiatan Pondok Pesantren di malam Jum’at.

Selesai sholat magrib berjamaah, saat aku bersiap menyambut liburan, tiba – tiba saya dihampiri santri satu kamar, dan mengajak ke mushola ponpes untuk membaca surat Yasin. Dengan badan capek dan lelah, terlebih belum mandi aku membaca surat Yasin. Saya kira hanya Yasinan dan bersiap untuk mandi, nyatanya masih ada lagi. Setelah selesai membaca Yasin, tiba – tiba para kang – kang santri ke mushola membawa alat Hadroh, dan taraaaaaaa saatnya kami melantunkan syair-syair yang ada di kitab Al Barzanji atau lebih akrab dengan bahasa ponpes itu berjanjen.

baca juga:Fatwa Dari Televisi

Sedikit rasa rinduku terobati kepada Kebumen, karena Kebumen hampir setiap malam Minggu ada acara sholawatan. Ya kadang aku datang ke acara sholawatan nyempil dengan kader IPNU kalau Ndak dengan kader Ansor, yah itung – itung ngalap berkah sama orang yang nggurip – nguruppi NU, wong aku juga bukan siapa – siapa.

Setelah selesai bersholawat dan melantunkan Al barzanji, hati saya teriris – iris, saya membayangkan bergitu bahagianya mereka yang santri. Saya membayangkan apakah besok kalau aku punya anak bisa membacakan Al barzanji kepada anaku dan memotong rambut serta menyembelih kambing? Itu yang saya pikir membuat hati terenyuh, padahal aku bukan siapa – siapa, boro – boro kambing, untuk sekedar hidup di pondok sajah aku harus menahan lapar.

baca juga: Polisi Samijo dan Pengendara Berpeci

Al barzanji selesai, kami pun melaksanakan sholat isya berjamaah. Bada isya, kami bergeas mengambil sandal dan pergi ke masjid Pathok Negoro yang lokasinya tidak jauh dengan pondok pesantren kami. Kami ziarah ke makam ibu nyai, seraya mendoakan semoga mendapatkan tempat yang baik disisi Allah SWT. Ziarah ini mengingatkan diriku akan sosok Trio Agustin, guru bahasa Indonesia SMK Maligo ini hobinya ziarah, selain hobi mengelola tigongdoso.com beliau juga suka ziarah. Bahkan cerita nya pernah tidur dimakan karena ziaroh tengah malam.

Selain Trio (tuan direktur) ada juga mas Restu Adi Saputro, anak Karangduwur kader IPNU yang juga hobi ziaroh. Hampir tiap hari WhatsApp story’nya penuh dengan acara ziarah. Hari ini di petilasan mana, hari esok di makam siapa. Ya beginilah punya temen yang hobi ziaroh.

baca juga: Selain Sebagai Guru yang Baik, PesantrenJuga Menghasilkan Guru yang Baik

Setelah acara ziaroh kami balik ke pondok dan langsung buka laptop untuk menonton film. Entah film apa yang ditonton para santri, karena aku hanya melihat sekilas, badan ini terlalu capek akhirnya tak tahan menahan kantuk dan akhirnya terlelap. Bisingnya para santri tidak membangunkan ku sampai subuh.

Subuh tiba, selesai sholat subuh, kami melantunkan sholawat Burdah. Sholawat ini yang rutin dilantunkan oleh para santri setiap subuh di hari Jumat. Dan itulah malam Jum’at pertamaku ketika aku berharap bisa keluar dan cari WiFi ternyata masih harus melakukan kegiatan suci.


Ponpes Assalafiyyah Mlangi Yogyakarta
13 Juli 2019
Ditulis saat selesai pelajaran, dan menahan rasa kantuk