Mak, Anak-anakmu Masih di Negeri Ini

CerpenEsai

Awan putih itu bergerak ke arah barat, arak berarak Andi lihat. Andi sendirian tanpa teman. Apalagi kekasih pujaan. Andi tidak mau diganggu wanita. Mimpi Andi semoga mengikuti awan itu. Andi merehatkan diri di teras rumah, sehabis mencari rumput untuk peliharaan kambing kita, Mak. Bekal celengan guna keperluan yang membutuhkan pengeluaran banyak. Mak, sengaja Andi tulis ini agar jejak tetap ada. Meski kelak kita tiada.

Andi tidak tau kapan berhenti menulis dan Andi tidak memperoleh kesempatan menyimpan perasaan apa pun, Mak. Andi tidak mampu menghentikan tinta yang bergerak. Andi memperhatikan pergantian antara malam dan siang. Perubahan cuaca yang tak menentu seperti Mak, yang hanya gambaran tulisan. Andi sangka Mak tersenyum, ternyata bayangan saja. Beginilah Andi sekarang ini, lebih banyak berdiam diri, melamunkan waktu yang kian berlalu.

Mak, maksud dengan apa yang Andi tulis ini?

Andi rindu belaian Emak. Di kala rembai tak mampu melihat rinai. Ramai mengguyur tak kasihan di wajah semakin panas. Baju Andi yang tipis hujan masih bengis. Andi kedinginan tanpa adanya Emak. Walau banyaknya wanita di negeri ini Andi tidak melihat sosok se-emas Emak. Kelembutan yang Emak punya untuk buah hati sepenuh kesucian diri. Selimut Emak selalu andi harapkan. Tapi Emak kini di mana? 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka benderanya masih berkibar. Warna merah dan putih di tiang atas sana. Emak lebih muda kenapa pergi begitu cepat? Negeri ini belum mati, Mak. Rabb, berikan surga untuk Emak. Hamba sangat menyayanginya. Hamba sungguh menggebu ingin bertemu denganya di surgaMu Rabb. Jikalau Engkau mengijinkan. Tingkah laku hamba seperti ini dan begini. Engkau sendiri sudah tau. Hamba hanya sering menghayal menatap langitMu  yang biru.

Mak…

Masih teringat apa yang mak bilang. “Nak, serahkan semuanya kepada Allah. Sabar, banyak istighfar. Jadilah orang jujur yang dapat dipercaya” Tapi, Mak! Andi tidak bisa diam. Sekarang Andi melihat Mak. Andi tak kuat menahan benak, petani keluh gagal panen. Nelayan bukan di lautan di jalan. Guru tak bisa beli sepatu. Banyak yang belum Andi tau, kalau saja Emak bisa hidup kembali. Terlihat realita negeri di sini anakmu, Mak.

baca juga : Susahnya Menikah dengan Orang Bugis

Dulu Andi minta uang ke Emak buat jajan. Tiga ratus perak bekal istirahat di SD. Andi belikan gorengan satu, buras, sama bihun. Perut kenyang. Sekarang seratus perak Andi tidak bisa beli apa-apa. Malah Andi sering nemu geletak di jalan, Mak. Tangan Andi tidak mengambilnya. Andi takut! “Kata Emak barang punya orang jangan di ambil” kapan Emak mau mengingatkan Andi untuk tidak mengambil milik punya orang lain? Andi rindu Emak…

Maafkan Andi…

Piring sehabis makan pecah, sebab Andi bermain-main. Kaki Andi terkena pecahan dan menangis. Emak mengelap darah, mengobati luka Andi. Sambil menenangkan Andi. “sudah Andi berhenti menangis” Andi tak jua berhenti saking terasa sakit, Mak. Perlahan Andi pun repeh. Emak membersihkan pecahan. Andi hanya diam saja dengan menahan sakit yang tersisa tak membantu Emak. Sekarang tidak ada lagi yang mengobati luka Andi, Mak.

Sebenarnya Andi membenam segumpal pertanyaan kepada Emak. Terngiang kembali tentang Indonesia subur. Emak bangga dilahirkan di bawah sayap garuda yang sedang terbang mengangkasa. Emak bilang begitu. Kalau Emak mau tau, pohon jati yang di tanam bapak semua mati. Andi terheran di musim penghujan negeri ini mak. Apa tanahnya sudah terlalu tua? Andi juga tidak melihat ada garuda terbang. Andi sehabis dari mana saja menengadah ke langit. Sudahlah… Andi terlalu sering mengganggu tidur Emak yang nyenyak. Biar pertanyaan yang ada waktu menjawabnya.

baca juga: Jamu Simbol Keagungan Peradaban

Suara merdu Emak melantunkan ayat-ayat Al Quran. Cara Emak menidurkan Andi agar cepat terpejam. Andi masih hafal juz tiga puluh yang biasa Andi setorkan kepada Emak, sehabis subuh waktu kecil dulu kelas tiga SD. Alhamdulillah, bisa mengaturnya setiap hari ada jam untuk murojaah, Andi tidak mau berdosa karena sengaja melupakan begitu saja Mak. Andi yang mengajarkan Aldi dan Rani. Mereka berdua rajin tak perlu disuruh ketika sudah waktunya duduk rapi di mushola keluarga, Nak. Ba’da magrib Andi mengajar ngaji mereka, Mak. Aldi sekarang menghafalnya sudah sampai surat Al-Balad yang artinya Negeri, Mak. Rani masih penguasaan makhorijul huruf dan sifatul huruf. Belum menghafal.

Mak…

Bapak sibuk mencari sesuap nasi untuk kami. Jika Andi tidak repot dengan tugas sekolah Andi membantu Bapak ke sawah, kebun, pasar dan mencari rumput. Enam tahun silam Emak tidak di tengah-tengah kami. Andi bebenah rumah menggantikan peran Emak. Andi tidak tau esok dapat melanjutkan keperguruan tinggi atau tidak. Andi tidak terlalu memikirkanya. Andi lebih memilih mengurus adik adik, Mak.

Andi punya pesan untuk negeri, tolong Emak baca.

“Semuanya sodara saya sebangsa. Saya bangga di negerin ini, jangan kita terpecah belah dengan hasutan belaka. Pertahankan NKRI demi cinta. Kita manusia yang berdab untuk kemanusiaan. Hormati segala agama di negeri kita. Bila kita saling mencemooh Tuhan pun akan marah. Hiduplah kita berdampingan jangan saling mengganggu. Apa masih ada yang mau mengalah untuk menang? Kita semua tadinya tidak ada menjadi ada. Teruskan, kibarkan bendera merah putih bangsa Indonesia. Saya sangat bersyukur di sini tidak menyesali. Sekalipun rupiah turun paling bawah. Alam yang akan menghidupkan kita dari Tuhan. Maka, jaga dan rawat alam kita. Petinggi negara tolong tepatkan amanah Anda. Apa yang di butuhkan di dunia ini? jabatan pesta perebutan masal. Bergelimang uang menyenangkan keluarga. Setelah itu berfoya-foya. Mengapa mengsengsarakan rakyat jelata? buang pikiran demikian itu. Mari bentuk agar kiat makan bersama. Negeri ini alamnya untuk dunia. Mengapa tidak kepada kita juga? Gotong royong kita mengangkat indonesia ke ujung tiang monas sana. Penghuni dunia cangak indonesia sakti mandraguna. Di jalan kemanusiaan Tuhan tersenyum menyayangi kita. Perut sama kenyang. Kita bisa lebih terbang jauh. Kita terapkan menolong orang. Kelak anak-cucu kita banyak membaca dan menulis, berkarya sejarah kebudayaan indonesia. Mereka mempertahankanya. Sopan santun kita yang ramah harus menempel mendarah daging. Indonesia merah putih gagah memperjuangkan kemaslahatan hidup. Semoga…”

Mak, Apa Andi terlalu menghayal jauh? Sayang sekali Emak tidak bisa membalas surat yang Andi buat. Andi sudah menulis panjang bertanya tentang negeri ini. hah, maaf Mak. mengganggu tidur Emak lagi.

baca juga: Untuk Jomblo, Tips Memilih Wanita Yang Baik

Sekarang teknologi semakin maju, Mak. beberapa bulan lagi akan berganti tahun. ada Revolusi Mental, mak. Walau Emak jauh tak tau di mana itu. Andi mengikuti Revolusi Mental. Andi pasti bisa! Do’a kan Andi bercita-cita membuat teknologi baru (belum ada di dunia) untuk negeri. Tapi emak sudah tiada, apa bisa berdo’a untuk Andi di sini?

Andi belum pasti mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Apakah akan ada keajaiban untuk Andi, Mak? dengan cita-cita yang begitu tinggi. Andi tulis rangkaian kata-kata ini demi perubahan. Senja perlahan mulai lambai kan tanganya. Andi dan adik adik masih berdiri di sini, Mak.

Ditulis oleh Sugiarto Kasirin

Kebumen, 24 November 2015