Lele Jumbo Pengungkap Tabir Kebohongan

Cerpen

Sore itu saya sedang duduk manis di depan laptop sambil ngintip time line di twitter. Walau kondisi sedang puasa, namun gonjang-ganjing pilpres tak pernah surut dan terus produktif memproduksi ujaran kebencian. Isu politik jahat berterbangan, lempar sana-lempar sini nggak jelas. Perutnya puasa, tetapi jempolnya tidak. Miris.

Tak terasa jarum jam sudah menunjukan pukul setengah 6 sore, waktu berbuka puasa tinggal beberapa menit lagi. Tentu suara yang paling kita tunggu-tunggu adalah suara merdunya muadzin. Tak berselang lama bukan suara adzan, namun suara deringan handphone. Setelah ku angkat ternyata yang menelpon Kang Hamim, dia teman dekat sekaligus teman ngudud dan ngopi, kebetulan kebiasaan saya dan Kang Hamim lumayan mirip. Bedanya, dia lebih mengenal agama dibandingkan saya. Ya, karena dia lulusan pesantren sekaligus Gus (putera kiai), jadi keilmuaanya tidak diragukan lagi. Walaupun paham tentang ilmu agama, sepintas saya melihat ia seperti orang biasa, gaul tak seperti santri kebanyakan.

baca juga: Polisi Samijo dan Pengendara Berpeci

“Mbah, posisi dimana?” tanya Kang Hamim. “Mbah” adalah sapaan akrab kita.
“Saya di sekolah, gimana Mbah?” aku tanya balik.
“Aku mau buka di tempatmu!” jawab singkat.
“Ya siap, sendirian atau sama siapa, Mbah?” aku sedikit penasaran, karena sebelumnya tak pernah seperti itu.
“Ya ada lah, nanti kan tahu sendiri!” jawab Hamim. Aku pun semakin penasaran, kira-kira siapa yang mau datang.
“Ya siap!” aku pun tak banyak tanya. Nanti juga tahu sendiri, pikirku.

Tak lama kemudian suara adzan berkumandang dari arah timur sekolah. Setelah itu pun Aku langsung berbuka dengan segelas teh manis. Sekitar sepuluh menit, terdengarlah suara motor berhenti di halaman depan. Jlegedeg. Karena aku tahu yang datang pasti Hamim, maka aku bergegas keluar untuk mempersilahkan masuk. Jaket dengan masker bergambar tengkorak turun dari motor. Awalnya aku tak kenal siapa, karena wajahnya tertutup masker hitam itu. Setelah dibuka aku baru tahu ternyata Kang Ilun.

Kang Ilun juga teman dekat. Sekitar satu tahun yang lalu dia berangkat ke Jakarta untuk mengadu nasib disana dan bekerja di sebuah perusahaan. Di momen Ramadan ini kebetulan Ilun mudik. Hamim dan Ilun begitu dekat, seperti halnya saudara kandung, tetapi bukan. Cuma dulunya mereka pernah satu pondok saat di pesantren. Sampai saat ini kedekatannya terpelihara dengan baik. Makannya tak heran jika Hamim yang menjemput Ilun di stasiun. Mereka pun saya persilahkan masuk.

baca juga: Fatwa Dari Televisi

Karena sudah memasuki waktu Maghrib kami bertiga pun berbuka ala kadarnya, dengan segelas teh dan masing-masing satu mangkuk es buah. Setelah itu pun kami bertiga melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Setelah sholat, kami bertiga pun bermaksud untuk melanjutkan makan es buah. Ternyata ada seseorang yang sudah duduk di situ namanya Risky. Dia baru tebluk dari Depok untuk mengikuti diklat Jurnalistik  program dari kampusnya.
Tak berselang lama, kami berempat pun bersepakat untuk mencari makan untuk sekedar mengganjal perut karena seharian puasa. Kami pun beranjak naik motor. Aku dibonceng Risky, sementara Ilun nebeng Hamim. Ngengg…….

Kami berempat pun menyusuri jalan raya utama daerah Gombong dengan pelan sambil tingak-tinguk kanan-kiri mbokan ada makanan yang enak, harga pas di dompet dan pas di perut. Ketemu lah warung makan yang sederhana yaitu “Warung Pecel Lele”. Tentu, warung pecel lele ini makanan yang menjadi idolanya para kaum bebehan masak, musafir dan tentu idolnya masyarakat Indonesia.

Kami pun turun dari motor dan Ilun yang memesan menunya ke Mas-mas penjual pecel lele.
“Kamu pesen apa? Lele apa Ayam?” tanya Ilun kepadaku.
“Ayam, minumnya es jeruk saja!” pesenku tanpa ribet.
“Aku juga iya!” sahut Hamim.
“Aku, pesen Lele Kang!” tambah Risky ke Ilun.
Tiba-tiba penjual pecel lele menimpali Risky. “Mohon maaf Mas, lelenya habis!”
“Ya sudah Pak, saya Ayam saja!” jawab Risky dengan kurang semangat.

Karena stok ikan lelenya habis akhirnya kami berempat pesan menu yang sama yaitu ayam goreng. Walau Risky sedikit kecewa karena tak sesuai dengan harapan. Kami pun duduk sambil menunggu pesanan datang. Hampir sepuluh menit kami menunggu belum juga datang.
Penjual pecel lelenya berjumlah dua orang, semuanya pria. Memang jarang, biasanya penjual makanan kalau nggak wanita semua ya pria wanita. Tetapi menurut buah bibir masyarakat masakan pria itu lebih enak, untuk kebenarannya sih belum terbukti.

Setelah sekian tahun menit ayam goreng pupu beserta sambel khas lamongan pun hadir didepan mata. Dengan wadah cobek menambah selera makan. Belum lagi dengan sepiring nasi hangat dan lalab daun kemangi yang khas. Tak sabar untuk segera melahapnya.

baca juga: Ketika Buruh Tani Meminta Barokah kepada Kaum Santri

Tak menunggu waktu lama, hidangan yang sudah terpampang di depan mata langsung dilahap tanpa ampun. Tangan kanan maupun tangan kiri saling berlomba-lomba mencabik daging pupu ayam yang empuk. Saking enaknya, suasana menjadi angker karena tak satu pun orang yang berbicara. Memang kalau untuk urusan makan, kami tidak ada lawannya. Tak mau ketinggalan segelas es jeruk juga menjadikan ’empat sehat lima kenyang’ sebagai paripurna menu buka puasa.

Setelah semuanya selesai menguras isi gelas dan piring. Tinggal mengatur posisi perut. Akhirnya, kami pun saling slonjoran itung-itung menunggu proses turunnya makanan ke usus. hehe.

Ditengah PeWe-nya duduk, tiba-tiba kami pun terkaget-kaget mendengar teriakannya Risky. 
“Lelene ucul Pak!” reflek Risky saat melihat Ikan Lele uget-uget di bawah kolong meja penjual Lele. Sontak, semua yang disitu kaget. Tanpa menunggu waktu lama, Mas penjualnya pun mengambil Lelenya dan kembali memasukan ke dalam ember. Herannya, si penjual tak berkata sepatah pun, ditambah ekspresi yang datar. Dengan ekspresi penjual yang demikian, kami se-tim tertawa diatas penderitaan si bakul. 

“Kena azab,wani-wanine nglomboni aku!” kata yang dilontarkan Risky dengan lirih. Kami mendengarnya pun tambah tertawa. hahaha..

Baru tahu, ternyata “Warung Pecel Lele” banyak intriknya. Dilihat dari namanya juga sudah sangat jelas, bertuliskan ‘pecel lele’ ternyata tak pernak menjual pecel yang ada malah menjual ayam goreng dan bebek goreng. Itu juga sudah sangat untung reputasi pecel lele masih terjaga baik dengan menu lele gorengnya. Coba kalau nggak ada, habis sudah. hehe.

baca juga: Tradisi Ramadan, Berburu Tanda Tangan

Saya tak semata-mata menyalahkan sepenuhnya kepada penjualnya, mungkin karena yang pesen lele hanya satu orang saja. Jadi repot, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menggoreng lele, dari proses nyembelih dulu sampai digoreng. Berbeda dengan menu ayam goreng, tinggal nyemplungkan saja ke dalam wajan. Praktis kan.

Ada benarnya juga sih, mungkin ini alasan yang mendasari penjual lele mengatakan lelenya habis (saya yakin tidak semuanya seperti itu sih). Jadi kami pun tidak perlu berlama-lama menunggu. Dimananpun kita berada dan beraktifitas, kejujuranlah yang paling utama. Kata Pak Kiai biar berkahhhh……………