Langen Ujung Buayan, Tempat Salto Biar Lupa Mantan

CerpenEsai

Salah satu tempat yang menyimpan sejuta kenangan bagi diriku adalah Langen Ujung. Pemandian yang merakyat, hanya membayar parkir ini dulu mungkin tidak sebagus sekarang, yang mulai peremajaan dan pelebaran pemandian, namun tetap saja pemandian itu menjadi kenangan bagi kami muda-mudi Buayan.

Langen Ujung, katanya dulu adalah sebuah rumah, karena air keluar tidak kunjung berhenti maka rumah itu ditinggalkan pemiliknya. Rumah itu akhirnya menjadi sumber air bagi masyarakat Buayan, sekaligus sebagai tempat pemandian gratis. Air murni yang keluar dari bebatuan kars Gombong Selatan ini tidak di ragukan lagi kualitasnya.

baca juga: Menyemai Mimpi di Kapuas Hulu

Untuk kualitas air memang jernih, kalau di Wedomartani Ngemplak Sleman Yogyakarta ada Umbul Saren. Nah, mungkin Langen Ujung adalah Umbul Sarennya Buayan dengan ukuran yang lebih luas. Kalau pembaca budiman ingin kualitas air jernih, datanglah pas musim kemarau dan jangan pas ramai, maka air jernis berwarna biru dengan ikan-ikan kecil berenang didalamnya. Akan tetapi jika datang pas rame, ya airnya akan hijau seperti kolam renang Assalafiyyah Mlangi hehehehe.

Langen Ujung yang masuk hanya bayar parkir memiliki kenangan sendiri bagiku. Dulu zaman SMP tempat ini adalah “meet point” yang cukup strategis bagi para remaja yang kandung akan cinta monyet. Zaman SMP ketika HP belum secanggih sekarang, sering kali kenalan lewat HP, untuk meredam rasa penasaran, maka dipilihlah ketemuan dan akhirnya tempat ini yang di tuju. Tempat ini juga menjadi saksi muda mudi Buayan dalam merajut asmara, dalih renang bareng menjadi alibi mereka dalam memecahkan celengan rindu.

Lantas bagaimana dengan diriku? Wahahahaha pacaran zaman segitu cuman mimpi gaes. Dari dulu aku emang buluk sih, dan gampang saya ini cukup mengganggu kamtibmas maka nggak ada cewe yang mau deket dengan saya. Dulu aku cungkring, item, kecil dan nggak punya motor, zaman segitu yang punya pacar biasanya mereka yang HP nya bagus dan motornya lancar. Jadi ketika kawanku pada yang-yangan nang kono aku mung bisa njagong nang pit jengki karo dolalan ula sing nang HP 3310.

baca juga: Ketika Bisnis Lebih Ganas daripada Virus Corona

Lain dulu lain sekarang, saat ini Langen Ujung sudah direvitalisasi lebih menarik lagi. Pelebaran sebelah barat dengan membendung parit memang langkah yang tepat. Adanya kamar mandi baru, tempat sampah dan tamanisasi menambah kesan asri dan indah. Lokasi ini menjadi lebih rame dari dahulu. Tidak tau kapan aku terakhir kali mandi disitu, tahun 2018 ketika Damas mampir ke rumahku karena membantuku dalam pengambilan data skripsi, Ia katakan ingin lihat Langen Ujung. Suasana bulan Agustus yang kemarau harapannya airnya akan bersih, eh malah kami kecewa karena airnya kotor penuh dengan sampah dedaunan.

Sebenarnya aku juga males kalo di suruh mandi di situ. Karena kalau mandi di tempat umum terbuka aku malu, karena tubuhku seperti cowok Prenagen, jauh dari bodygoal atau sixpack. Entah kenapa kemarin aku mau mandi, biasanya kalau Damas mengajakku renang di hari Jumat aku males kalau diajak ke Umbul Saren. Minimal adalah kolam renang FIK UNY aku baru mau karena standar nasional dan masuknya murah. Dan akhirnya aku kemarin mandi, ya walaupun tubuh udah mirip om-om, nggak kaya zaman SMP yang cungkring setidaknya nggak malu-malu amat lah toh disana banyak mamah muda yang mandi juga uppps ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ

Ketika Mas Ali Fajar, Desain grafis yang keren dari Argopeni Ayah itu mengechatku mengajak mandi saya tidak percaya kalau Langenlujung lah yang di pilih. Aku pikir mau mandi di Bintang Sport Center (BSC) eh malah milih tempat ini. Seketika itu pula aku ajak Mas Direktur Tigongdoso dan Mas Rizky TGS. Setelah melewati drama Minggu pagi yang susah bangun, akhirnya kami bisa sampai ke Langen Ujung . Kami berangkat dari tempat kerja Mas Ali Fajar, ditambah dengan Mas Budi, dedengkot Maligo ini mandi di Langenlujung. Dalam mandi yang unik adalah Mas direktur ini mempraktekkan bagaimana caranya salto agar lupa mantan. Mungkin vidionya ada di sini, moga mas direktur mau meng upload.

baca juga: Profesi yang Paling Kuat Menghadapi Pandemi Ialah Petani

Setelah puas mandi, kami lanjut makan pagi yang dirapel dengan makan siang ke Mangli Kwarasan. Ketika warung makan SBY yang terkenal itu habis, bahkan di cabang-cabang nya, kami akhirnya makan di warung tengah pasar kebrek. Nasi rames + mendoan kami lahab karena sudah kencot dan melalui banyak drama memilih – milih warung. Apes bagi kami ketika makan, bareng sama orang yang kurang waras ikut makan dan tidak membayar. Ibu warung pun hanya bisa ikhlas.

Setelah puas makan mendoan dan ramesnya kami berlima mengikuti kemana langkah mas direktur. Hobi bermain burung dara, sampai lupa pada burungnya sendiri membuat mas direktur berjalan – jalan ke kompleks perdaraan yang ada di pasaran kebrek. Dara dilihat, dipegang dan dianalisis kemampuan nya dalam terbang. Mas direktur juga ketemu dengan bakul dara yang mungkin sudah menjadi guru nya karena saat bertemu ia respon salum plus cium tangan dan curhat soal dara nya yang hilang satu jodo di Maligo ini. Setelah selesai dengan dara mas direktur akhirnya pulang ke Maligo bersama kami setelah selesai membeli jagung. Nah sesampainya di Maligo ndilalah Mas Nur masak dan membeli pecel serta mendoan, akhirnya kami pun makan siang ronde kedua hari ini hehehehe.