Kyai Demang Surenggodo Ronodiwiryo

Tokoh


Foto Kyai Demang Surenggodo Ronodiwiryo ketika berusia 68 tahun.

Mendengar kata Demang, tentu kita akan dibawa pada  zaman kolonialisme. Sebenarnya, apa itu Demang? Menurut KBBI Demang adalah Kepala Distrik, Wedana pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Gelar Kepala Daerah.

Kyai Demang Surenggodo Ronodiwiryo adalah Demang ke 2 sekaligus pendekar sakti desa Peniron. Beliau adalah putra dari Mbah Drapasuta ( +- 1792 , dimakamkan di AstanaGede, Krajan). Mbah Drapasuta sendiri adalah putra dari Mbah Drapaita atau lebih dikenal dengan Mbah Pancur ( +- 1700, dimakamkan di TPU Kalipancur) yang menjadi asal usul dukuh Kalipancur.

Demang Surenggodo Ronodiwiryo hidup pada tahun +- 1822 M. Beliau menggunakan ikat kepala parang rusak, sering menggunakan baju beskap berwarna putih dan tinggi badannya +- 170 cm.

Perjuangan Sultan Abdul Hamid Cokro Amirul mukminin Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa atau lebih dikenal dengan Pangeran Diponegoro di Bumi Pandjer membuat para tokoh tergerak untuk ikut berjuang mengusir penjajah.

Salah satunya adalah Demang Surenggodo Ronodiwiryo, berbekal tekad dan semangat, juga pusaka yang dimilikinya yaitu Pusaka Sempana Cinarita. Jalannya cepat bagaikan angin, jari jemarinya tajam seperti gunting. Beliau berjuang habis-habisan bersama pasukannya yang bernama PENATUS ( Pasukan Tentara Seratus).

Makam Surenggodo Ronodiwiryo berada di TPU Kalipancur ,Krajan, satu kompleks dengan Makam Mbah Pancur. Namun sayang, kondisi makam tersebut kurang terawat. Harapannya pemerintah desa dan masyarakat lebih memperhatikan situs-situs sejarah yang masih ada, khususnya di desa Peniron.

Sumber : Tito Ito Winarto (Keturunan Demang Surenggodo Ronodiwiryo)