Kupu – Kupu Bu Nyai

Cerpen

Kaget tidak kepalang dialami Nur, saat menyapu halaman pondok di bawah pohon kedondong. “Bunuh ……., Bunuh ……. Bunuh itu jangan kasih ampun” teriak Bu Nyai dari balik tubuhnya. Lain tidak lain maksud Bu Nyai adalah untuk membunuh ulat bulu yang bergeliat di tanah, bersembunyi dibalik daun dan ranting kering yang akan disapu Mbak Nur. Mbak Nur langsung mengambil sebatang kayu dan mehujam – hujamkan kayu itu ke arah tanah, agar kumpulan ulat bulu itu mati dan kemudian bisa dibersihkan. “Sudah mati semua Bu Nyai, ini saya akan sapu” kata Mbak Nur dengan takdzim. “Bagus … Tolong jangan sampai ada ulat lagi di pondok ini” jawab Bu Nyai.

Bu Nyai memang anti dengan ulat, entah ada kejadian apa yang membuat Bu Nyai sangat anti dengan ulat. Tidak seperti perempuan kebanyakan, kejengkelan Bu Nyai terhadap ulat melebihi perempuan pada umunya, sepertinya ulat telah mengambil hal yang paling berharga dalam hidupnya. Bukan untuk kali ini sajah, namun sejak dahulu Bu Nyai memang sangat anti dengan ulat. Begitu melihat ulat, sontak langsung berniat ingin membunuhnya, namun hal aneh terjadi yakni, sekeras apapun Bu Nyai dan para santri membasmi ulat tetap sajah ulat – ulat masih banyak di sekitar pondok.

Pohon kedondong yang kemarin menjatuhkan ulat akhirnya ditebang oleh Kang Wahid dan para santri putra lainya. Keputusan ini diambil untuk meminimalisir jumlah ulat yang kemungkinan ada di sekitar pondok. Pasalnya pada saat tertentu, pohon kedondong akan kehilangan seluruh daunnya dimakan oleh ulat. Ulat – ulat dari pohon kedondong tersebut seringkali jatuh dan berada di tanah, bahkan sampai ke jemuran para santri sehingga membuat tubuh santri gatal – gatal. Dengan sekuat tenaga, akhrinya Kang Wahid berhasil menumbangkan pohon kedondong, dan membersihkan nya sampai tidak terlihat bekas kedodong pernah tumbuh dan besar disitu.

“Padahal dulu sering saya timpuki ketika berbuah, sekarang sudah tidak bisa lagi” gerutu Kang Wahid dengan menyesal. “Sudah lah kang, yang penting Bu Nyai lega, yang penting pondok kita bebas dari ulat” jawab Mbah Panut berusaha menenangkan Kang Wahid. “Tapi kenapa Bu Nyai sangat benci ulat Mbah, sampai segitunya?” Tanya Kang Wahid dengan penasaran. “Mungkin banyak yang belum tau, hal yang dulu pernah terjadi pada Kyai Karim suami Bu Nyai” jawab Mbah Panut. “Ada apa Mbah ….. Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Wahid dengan penasaran “baik lah, dengarkanlah baik – baik” kata Mbah Panut mulai bercerita.

Sambil duduk di teras, Mbah Panut kemudian menceritakan tentang apa yang dialaminya dulu. “Kyai Karim, memang nama yang tidak asing sedikit cerita tentang Kyai pemberani tersebut sudah banyak diketahui oleh para santri di pondok ini, namun secara lengkapnya belum ada yang tau. Kyai Karim memang Kyai pemberani, saat usia belum genap 30 tahun beliau lah yang memimpin laskar santri untuk melawan penjajah. Masa muda Kyai Karim memang dihabiskan untuk mengaji dan berjuang. Mbah Panut adalah salah satu anggota laskar santri yang dipimpin oleh Kyai Karim, hingga akhirnya kesetiaan Mbah Panut kepada almarhum Kyai Karim diteruskan dengan mengabdi di pondok ini”.

Mbah Panut kemudian melanjutkan cerita bahwa “Perjuangan melawan penjajah tidak hanya dilakukan saat merebut kemerdekaan, namun juga saat mempertahankan kemerdekaan. Pasca Indonesia merdeka Belanda kembali datang ke Indonesia dengan membonceng kepada sekutu. Hal inilah yang cukup genting, ketika Belanda kembali bisa berkuasa di Indonesia, maka kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan dengan susah payah bisa sajah sirna. Dengan senjata rebutan dari Jepang, TNI dan para laskar termasuk laskar santri berusaha sekuat tenaga menghadapi Belanda”.

“Kekuatan para santri memang cukup bisa diharapkan, terlebih pasca terbitnya Resolusi Jihad dari K.H. Hasyim Asy’ari maka keberanian para santri semakin menjadi – jadi, termasuk keberanian para santri di pondok ini. Kyai Karim memimpin para santri untuk melawan Belanda yang kembali datang ke Indonesia. Dari satu tempat ke tempat yang lain, laskar santri bergeriliya agar bisa menghalau Belanda”.

“Kekuatan Belanda yang besar menjadi halangan utama ketika terjadi agresi militer Belanda I. Pertempuran yang dahsyat itu akhirnya mengugurkan Kyai Karim dan para santri yang lain. Gugurnya Kyai Karim membuat Belanda lebih leluasa untuk menaklukkan Indonesia hingga bisa menduduki kota Gombong. Kali Kemit menjadi saksi ketika saat itu menjadi batas kekuasaan wilayah Indonesia dan Belanda. Disebelah timur Kali Kemit yakni Kota Karanganyar menjadi wilayah Indonesia dan Belanda disebelah barat Kali Kemit, mulai kota Gombong ke Barat menjadi daerah dudukan Belanda. Berhasilnya Belanda dalam agresi militer I membuat pertahanan Indonesia mulai kendor, banyak tekanan yang dilakukan Belanda agar perlawan rakyat mereda salah satunya adalah membakar pondok pesantren hingga akhirnya harus boyong dan menempati lahan yang sekarang” pungkas Mbah Panut menutup cerita.

“Lantas apa hubungannya dengan ulat – ulat itu Mbah? Tanya Kang Wahid masih penasaran. “Oiya, jadi begini” jawab Mbah Panut melanjutkan cerita. Kata Mbah Panut bahwa Kyai Karim pada saat kekalahan laskarnya jenazahnya tidak ditemukan. “Maka para santri ditugaskan untuk mencari jenazah Kyai Karim dan para pejuang yang lain. Jenazah Kyai Karim dapat ditemukan di salah satu hutan yang tidak jauh dari kota Gombong, namun hal aneh terjadi ketika jenazah Kyai Karim penuh dengan ulat. Kondisi yang mengenaskan ini membuat Bu Nyai sangat terpukul, terlebih pihak Belanda yang menjadikan keadaan Kyai Karim untuk mempropaganda masyarakat agar tidak ada perlawanan lebih lanjut terhadap Belanda”.

“Hal aneh tidak berhenti sampai disitu. Kamar Bu Nyai yang memasang foto Kyai Karim juga sering didatangi ulat. Sudah berkali – kali dibersihkan tetap sajah banyak yang datang. Hal ini yang membuat Bu Nyai sangat benci dengan ulat. Seakan – akan ulat sudah mengambil sebagian hidupnya”. “Sekarang paham kan Kang? Mohon bijaksalah dalam menyimpan cerita ini.” Pungkas Mbah Panut. “Baik Mbah ….. Saya paham.” Jawab Kang Wahid.

Percaya tidak percaya, namun cerita itu ada benarnya juga. Semakin mengusir ulat dari pondok pesantren ini, semakin banyak ulat yang berkeliaran. Hal mengagetkan kembali menjumpai Kang Wahid ketika dia diberi amanah untuk membersihkan kamar Bu Nyai dari ulat. Ulat yang datang semakin banyak justru setelah pohon kedondong yang di pondok pesantren ini ditebang. Biasanya yang membersihkan kamar Bu Nyai adalah Mbak Nur, tapi ketika jumlah ulat semakin banyak akhirnya terpaksa meminta bantuan Kang Wahid.

Cerita Mbah Panut tempo lalu harus dipercaya oleh Kang Wahid ketika dia menyaksikan sendiri apa yang ada di kamar Bu Nyai. Meskipun akal sehat Kang Wahid berkata tidak mungkin, namun inilah kenyataanya ketika banyak sekali ulat yang ada di kamar Bu Nyai. Ulat seakan berusaha menjangkau foto Kyai Karim, yang terpasang gagah di didinding kamar Bu Nyai. Pagi dan sore dengan rutin Kang Wahid membersihkan kamar Bu nyai dari ulat – ulat, mengganti seprai dan mencuci selimut. Serapat apapun menutup jendela, tetap sajah ulat – ulat itu berhasil masuk dan berkeliaran di kamar Bu Nyai.

Semakin hari ulat semakin banyak yang masuk ke kamar Bu Nyai. Seperti biasa ulat – ulat tersebut berusaha menjangkau foto Kyai Karim. Mereka berbaris – baris layaknya santri yang ingin bertemu dengan Kyai Nya. Fenomena aneh ini semakin membingungkan Kang Wahid dan beberapa santri yang tau akan fenomena ini. Terlebih, Kang Wahid diminta untuk menyimpan cerita ini agar tidak diketahui pihak luar.

Gelisah, mungkin itu yang dirasakan Kang Wahid dalam menghadapi fenomena ini. Inikah yang diterima oleh pejuang, pejuang yang berjuang untuk bangsa dan agamanya? Sudah semuanya diberikan oleh Kyai Karim dalam berjuang, ilmu, harta, benda bahkan nyawanya, namun ketika sudah gugur, bukan wangi bunga yang ia dapat namun seperti hidupnya terkena azab. Betapa tidak, jenazah yang penuh dengan ulat dan kumpulan ulat yang berusaha menjangkau foto Kyai Karim di kamar Bu Nyai. Tidak ada imbalan atas pengorbanan Kyai Karim, tidak dijadikan pahlawan nasional ataupun namanya menjadi nama jalan.

Hanya hari santri yang menjadi sedikit penghibur lara bagi Bu Nyai dan para santri yang dulu pernah berjuang. Setidaknya dengan hari santri, santri – santri masa kini bisa mengambil hikmah dari kisah Kyai Karim untuk bekal berjuang di bidang yang berbeda. Jelas seperti itu, ketika Kyai dan santri dulu berjuang dengan senjata Kyai dan santri saat ini harus berjuang dengan karya.

Hari santri seperti biasanya, diisi dengan berbagai acara dan agenda mulai dari pembacaan satu milyar sholawat nariyah, upacara hari santri, pawai sampai lomba – lomba untuk memeriahkannya. Dalam acara hari santri sering kali dijumpai penumpang gelap. Merekalah para politikus – politikus yang mengaku paling santri dan mengaku paling peduli pesantren, sehingga tidak ada kata lain selain memilihnya dalam pemilu. Namun, kenyataan mereka yang berbaju serba hijau saat menghadiri hari santri nyatanya harus berompi orange saat sudah menjabat. Entahlah, mungkin sudah tidak ada politikus jujur lagi, bahkan bagi mereka yang mengaku paling santri, hal ini juga yang menjadikan Bu Nyai dan para santri geram, seakan mereka hanya menjadi sapi perahan dan lumbung suara. Seakan kemerdekaan yang diperjuangkan oleh Kyai Karim dan para santri lainya menjadi sia – sia dengan perilaku tidak terpuji para politikus itu.

Usia Bu Nyai sudah semakin senja, berbagai penyakit pun bergantian hinggap di tubuh Bu Nyai, hal inilah yang membuat beliau keluar masuk rumah sakit. Ada permintaan aneh ketika Bu Nyai sedang sakit keras, yakni beliau ingin melihat kupu – kupu. Permintaan ini segera diusahakan Kang Wahid dan para santri lainya untuk mencari kupu – kupu, sampai di hutan utara Kota Gombong. Usaha yang dilakukan para santri tidak kunjung menemukan hasil, tidak ada satupun kupu – kupu yang berhasil mereka dapatkan. Jangankan kupu – kupu, ulat pun tidak ada, bahkan ulat – ulat  yang dulu sering berkeliaran di pondok pesantren bahkan sampai di kamar Bu Nyai sekarang tidak ada. Entah kemana ulat – ulat itu, apakah habis dibasmi para santri ? dan kemanakah kupu – kupu nya? Apakah bunga sudah tak manis lagi?

Sampai akhir hayat Bu Nyai, keinginan Bu Nyai untuk melihat kupu – kupu tidak bisa dikabulkan. Hal inilah yang membuat penyesalan yang sangat mendalam bagi para santri yang tidak bisa memenuhi keinginan kecil Bu Nyai di akhir hayatnya. Setelah meninggalnya Bu Nyai, foto Bu Nyai dipasang bersebelahan dengan foto Kyai Karim di dinding kamar beliau. Perjuangan pondok pesantren diteruskan oleh anak, menantu dan cucunya. Seperti biasa, Mba Nur selalu membersihkan kamar Bu Nyai pagi dan sore, kamar Bu Nyai dibiarkan kosong, tidak ada anak atau cucunya yang berani menghuni kamar tersebut.

Mbak Nur sangat terkejut ketika ia menjumpai kupu – kupu yang sangat indah masuk di kamar Bu Nyai. Ketika membuka pintu kamar, dan membuka jendela kupu – kupu tersebut sudah ada di kamar. Entah darimana kupu – kupu itu masuk ke kamar Bu Nyai. Warna kupu – kupu yang sangat indah, kuning dengan garis merah dan bintik biru, diperhatikan kupu – kupu itu hinggap di foto Kyai Karim. Mbak Nur membiarkan sajah fenomena tersebut, dan fokus membersihkan kamar Bu Nyai. Saat ia kembali melihat ke arah foto Kyai Karim, ternyata kupu – kupu yang hinggap sudah lenyap bersama foto Kyai Karim pun ikut lenyap. Sontak Mbak Nur takut dan berteriak “Bu Nyai ……….

Sebuah fiksi ……

Untuk Kang dan Mba Santri, yang sedang memperingati hari santri, dari saya yang baru ikut nyantri.

Ditulis oleh Eko Siam Muwardi