Kuliah Salah Jurusan, Kok Bisa?

Esai

Oleh: Tigongdoso

Bagaimana rasanya jika kamu kuliah salah jurusan? Diibaratkan seperti makan roti tetapi rasanya gethuk, atau bahkan punya pacar baru namun masih ingat mantan. Pikirannya melayang-layang, terombang ambing terbawa kenangan. Asyek.

Ketika kamu kuliah apa yang menjadi tujuan utamamu? Kuliah di kampus yang besar atau kuliah di kampus biasa namun sesuai dengan jurusanmu? Atau hanya menuruti kehendak orang lain?
Saya adalah salah satu mahasiswa yang kuliah di kampus swasta di daerah Kebumen yang mengambil S1 jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra. Sekarang sudah memasuki semester 5. Sebelum mendaftar dikampus yang sekarang ini sebelumnya sudah mendaftar di kampus swasta di daerah Jogja mengambil jurusan yang memang saya idam-idamkan yaitu desain grafis. Namun akhirnya tidak saya ambil karena ada sesuatu hal yang prinsip.
Kuliah mengambil jurusan pendidikan memang salah satunya diproyeksikan untuk menjadi guru. Dalam pepatah jawa guru itu “Digugu lan ditiru” artinya guru harus menjadi figur penting yang mampu menjadi inspirator dan menjadi tauladan yang baik bagi peserta didiknya. Selain menjadi figur di kelas seorang guru juga harus piawai dan kompeten sesuai mata pelajaran yang diampunya. Bagaimana jika seorang guru mengajar tetapi tidak sesuai jurusan dan tidak sesuai hatinya, hanya asal mengajar? Bagaimana nasib peserta didiknya?
Saya mengambil jurusan Bahasa Indonesia awalnya sedikit kurang sreg. Mengapa? Alasanya yang pertama karena bukan passion saya. Hobiku adalah menggambar, ngedit foto pakai Corel, Illustrator dll. Ingin sekali kuliah jurusan Desain Komunikasi Visual. Misal kalau sudah lulus, jadi guru seni itu enak. Ketika masuk kelas tinggal kasih tugas ke siswa “Silahkan menggambar apapun sesukamu, yang terpenting jangan menggambar mantan. Hehe. Saya tungguin sampai kalian selesai. Bapak nungguin kalian sambil tidur ya. Wkwk”. Enak kan jadi guru seni. Bercanda ges,hehe. Tampilannya pun gak harus rapi. Karena seorang seniman itu tidak perlu rapi yang terpenting karyanya keren. Iya nggak?
Yang kedua, pelajaran bahasa Indonesia itu membingungkan buat saya. Bagaimana tidak, misalnya saat ujian nasional soal yang paling banyak dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengerjakan soal. Bagaimana tidak satu soal saja bisa satu halaman penuh. Mbatinku ini soal apa koran. Hehe. Belum lagi jika soalnya adalah pilihan ganda, jawabanya hampir semua benar. 
Ibarat “nasi sudah menjadi bubur” bagaimanapun romantika di perkuliahan harus dilalui. Pastinya mengalami pergolakan hati yang cukup parah. Penolakan hati berkali-kali aku paksakan. Sekali lagi ini soah hati ges, tidak bisa dibohongin. Bukan hanya hati, lidah pun tidak bisa dibohongi. Kok kaya iklan mie instan ya.hehe. 
Jadi, sebelum anda kuliah dan mentukan jurusan apa yang mau diambil tanyakan dulu ke lubuk hatimu yang paling dalam. Harus tahu dan mengerti diri sendiri. Sudah jangan ngertiin dia terus, belum tentu dia ngertiin kamu. Ngenes. 
Memilih jurusan sama  halnya memilih pasangan hidup, kamu pun harus memilih sesuai hati dan kriteria yang kamu inginkan. Memang jodoh sudah ada yang mengatur tetapi kita sebagai manusia wajib berusaha. Apapun hasilnya terserah biar Tuhan yang menentukan. Ndalil.
Sekali lagi passion itu penting. Bukan berarti pelajaran Bahasa Indonesia tidak menyenangkan. Ini tergantung masing-masing individu. Banyak temen kuliahku yang sangat menikmati jurusan Bahasa Indonesia. Ngobrol saja puitis, mau boker pun masih sempat-sempatnya berpuisi. Hehe.
Banyak yang salah kaprah dalam menyikapi minat dan bakat. Karena setiap orang mempunyai bakat minat tersendiri. Banyak dari orang tua yang memaksakan kehendak anaknya untuk menjadi A ataupun B. Jika demikian itu tidak dibenarkan. Biarlah anak yang menentukan keputusannya sendiri selagi itu masih dalam koridor yang benar. Jika itu terus dipaksakan maka akan menggangu psikologi dan kesungguhan anak dalam melakukan segala hal. Bahkan, ada juga ada yang mengambil jurusan kuliah karena ikut teman, khawatir nantinya nggak punya teman di kampus. Perjuangkan bakat dan potensi yang dimiliki, yang tahu itu kita.
Saya berharap pendidikan di Indonesia bukan hanya untuk mendapatkan legalitas pendidikannya. Namun, benar-benar ingin mendalami pendidikan sesuai dengan minat dan bakatnya. Sehingga bukti legalitas pendidikan dan kompetensinya bisa seimbang dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tetapi, setelah berlangsung lama ketertarikan dengan jurusan yang saya ambil pun mulai terasa nyaman. Memang untuk menikmati apa yang awalnya tidak disukai cukup berat, lakukanlah secara kontinyu. Menurut pepatah Jawa “Wiwiting Tresna, Jalaran Saka Kulina”, memang betul cinta itu berawal dari kebiasaan melakukan segala sesuatu, bukan karena ujug-ujug melakukan sekali langsung dug serr. Dan akupun sekarang sudah move on dari kegalaun yang pernah saya alami. Sebagai bukti sekarang saya sedang berusaha membangun rumah kontrakan di Google yang beralamat di jalan www.tigongdoso.com tepatnya di gang Tigongdoso. Monggo bagi njenengan-njenengan untuk sering mampir di gubug kami. Semoga bermanfaat!

Salam telungpuluh!