Kondisi Kebumen Saat Detik-detik Proklamasi

EsaiSejarah


Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia jatuh pada 17 Agustus 1945 disambut bahagia dan haru oleh seluruh rakyat Indonesia karena selama 3,5 abad dijajah oleh Belanda dan Jepang


Para pemuda yang tergabung dalam Angkatan Muda sangat sibuk mempersiapkan atribut-atribut kemerdekaan. Mereka sibuk membuat bendera, lencana merah putih dengan jumlah yang banyak. Bendera itu mereka buat dengan berbahan kertas, tidak sedikit juga yang terbuat dari bahan kain. Selanjutnya bendera-bendera itu dipasang di kantor-kantor, rumah, kendaraan, tempat umum dll. Nah, setelah itu baru ada perubahan. Atribut merah putih berkibar dan terpasang dimana-mana. 


Angkatan Muda juga melakukan kegiatan keliling-keliling desa, menyebarluaskan informasi tentang proklamasi kemerdekaan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai arti kemerdekaan. Tembok-tembok di gang, di tepi jalan dijadikan media informasi yang mudah dilihat dengan ditulisi semboyan-semboyan kemerdekaan yang bertujuan untuk membangkitkan semangat kebangsaan para pejuang dengan menolak penjajahan. 

Semboyan “Merdeka, Merdeka atau Mati, Sekali Merdeka Tetap Merdeka, Lebih baik mati berkalang tanah daripada dijajah kembali” menyebar luas sampai ke pelosok-pelosok daerah. Tidak hanya itu, bangunan yang semula di kuasai penjajah pun di sita kembali oleh rakyat Indonesia. Berbeda dengan kondisi sekarang yang slogannya sudah berubah, bukan lagi “Merdeka atau Mati” melainkan “ganti presiden atau lanjut dua periode”. Hehe. 

Bagaimana kondisi Kebumen pada tanggal 17 Agustus 1945?
Menurut informasi yang bersumber dari buku dengan judul “Kebumen Pada Masa Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia Pada Tahun 1945-1949”, pada saat 17 Agustus 1945 keadaan di Kebumen tidak berbeda dengan hari-hari biasanya karena perkembangan komunikasi belum maju seperti sekarang. Jadi,hanya segelintir orang saja yang tahu dan belum tersebar luas khususnya di Kebumen. Kalau sekarang mudah, informasi dari pusat sampai ke pelosok negeri cukup duduk manis di depan televisi atau streaming youtube sambil minum kopi. Syaratnya punya kuota. Memang anda  keterlauan.hehe. 


Baru kemudian, rapat umum menyambut Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesian untuk pertama kalinya baru digelar pada tanggal 28 Agustus 1945 di Kota Kebumen. Kemudian kegiatan ini baru bisa merambah ke daerah yang lain. Di Ambal-Kebumen rapat umum diadakan di pasar dan pantai. Mungkin kalau jaman milenial di café ya? hehe. 

Saat itu sambutan rakyat sangat luar biasa, terutama yang dilakukan di pantai sebab saat itu masa Pendudukan Jepang, rakyat dilarang ke pantai. Karena pantai menjadi tempat kubu pertahanan Jepang. Dari hari ke hari semangat kebangsaan di kalangan rakyat khususnya di Kebumen semakin meluas. Mereka menyadari bahwa negara Indonesia Merdeka. Setelah mengalami penderitaan panjang selama ratusan tahun dijajah. Mereka ingin menikmati hidup aman, tenteram sejahtera dan tidak ditindas oleh negara lain. 

baca juga >Napak Tilas Pangeran Diponegoro di Peniron

Setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan  barulah saat itu Angkatan Muda Kebumen melakukan pelucutan milik tentara Jepang. Dalam hal ini Angkatan Muda Kebumen mengambil alih empat truk, dua buah mobil dan satu buah motor. Selain itu hak milik perusahaan-perusahaan Jepang pun diambil alih oleh negara salah satunya; Pabrik Minyak Kelapa Mex Olie (Nabatiyasa), Pabrik Tenun di Sruweng, dan pabrik genteng Brezolle di Kebulusan, Pejagoan. 

Kemerdekaan yang kita rasakan saat ini tentu banyak yang dikorbankan, tak terhitung berapa jumlah nyawa para pejuang kemerdekaan yang gugur dalam memperjuangkan bangsa ini. 

Merdeka! Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!