Kisah Jin dan Tiga Orang Pemuda

Esai

Malam itu malam Natal, ketika umat Kristiani sedang merayakan natal di Gereja, saya dan teman saya yang alumni ponpes Lirboyo Kediri tetap istiqomah dengan tugas yang bernama skripsi. Malam itu kami ngopi di Angkringan Anggajaya Condongcatur, iya sekalian ngopi sambil nyari WiFi sampe pagi hehehehe.

Teman saya yang merupakan jama’ah NU tulen tersebut kerap menyodorkan rokok kepada saya, namun saya dengan rendah hati menolak dan selalu diakhiri dengan sedikit berdebat kenapa saya tidak mau merokok. Kata – kata yang khas dari teman saya adalah, “kamu kader NU bukan e koq nggak ngrokok ?” Alasan saya tidak merokok bukan karena alasan kesehatan sejatinya, namun lebih karena alasan finansial. Takut kalau saya merokok kemudian saya akan menjadi pribadi yang boros, padahal sebagai anak kos hidup saya sudah kaya puasa Senin Kamis, iya Sahur hari Senin buka puasa hari Kemis hehehehe.

Perdebatan tentang rokok pun kemudian menjalar, teman saya bersikukuh katanya dengan merokok akan memberikan PAD pada Kabupaten nya yang mana mempunyai pabrik rokok. Selain itu, dia juga bersikukuh katanya dengan merokok bisa meringankan beban defisit BPJS hehehehe.

Perdebatan tentang rokok akhirnya sampai pada cerita yang berjudul Jin dan tiga pemuda. Cerita ini katanya dia dapat saat ngaji dengan seorang Habib. Iya mungkin ini cerita Sufi, dan tak ada keraguan toh teman saya ini alumni Lirboyo Kediri.

Dia bercerita bahwa ada tiga orang pemuda, sebut saja namanya Ndaho, Koplo dan Semplo. Ketiga Pemuda ini memiliki hobi yang tidak terpuji.  Sebut saja si Ndaho, dia sukanya bermain wanita, jika ada rezeki dia akan pergi ke gang kecil di Batas Kota. Apa yang dia lakukan pembaca yang budiman saya yakin sudah paham dan tidak perlu saya jelaskan. Pemuda yang kedua adalah Koplo, pemuda ini terkenal karena suka mabuk – mabukkan. Ketika hari Sabtu habis gajian sebagai buruh bangunan selalu ia gunakan untuk mentraktir minum – minum di Bar yang samar – samar dengan Kafe. Uang sisa mabok malam Minggu ia gunakan untuk makan seadanya sampai hari Sabtu, dan ketika Sabtu dia ulangi kebiasaannya itu setiap minggunya. Pemuda yang ketiga bernama Semplo, hobinya adalah merokok. Benar ia adalah perokok aktif, mulai dari LA (lintingan asli) sampai rokok termahal pernah ia coba.

Suatu saat ketiga pemuda ini jalan bersama, entah ada apa gerangan mereka berjalan bersama begitu akrab. Iya karena mereka bertetangga dan memang teman bebrayan sedari kecil. Tiba – tiba salah satu dari kaki mereka menyandung botol sampai terbuka tutupnya.

Kaget bukan kepalang, mereka menyaksikan mahluk yang besar dengan perut buncit, dandan dengan gaya Timur Tengah dengan gelang dan kalung besar dan sepatu yang lancip. Sambil menahan takut ketiga pemuda tersebut mendengarkan tawa Jin yang sangat menggelegar Ha – Ha – Ha – Ha. Terima kasih wahai pemuda, sudah membebaskan saya dari belenggu yang saya derita ribuan tahun, sebagai gantinya saya akan mengabulkan apapun permintaan kalian satu – satu.

Rasa kaget dan takut masih menyelimuti ketiga pemuda tersebut, sekarang bercampur dengan rasa tidak percaya. Masing – masing pemuda tersebut mendapatkan satu buah permintaan yang akan dikabulkan apapun permintaannya tersebut. Karena ingin membuktikan rasa penasarannya, Ndaho kemudian meminta wanita yang banyak dan cantik – cantik dan dengan ajaib sekali petikan jari om Jin keluarlah wanita cantik – cantik bukan main. Kemudian si Koplo masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat, ia meminta arak yang tidak akan habis, dengan petikan jari “cling” muncullah arak dengan kualitas super yang sangat banyak. Yang terakhir adalah si Semplo, ia meminta kepada om Jin rokok yang tidak akan habis maka dengan petikan jari “cling” muncullah rokok kualitas super yang tidak akan habis.

Untuk menikmati barang tersebut, ketiga pemuda dikurung dalam gua dengan barang permintaannya selama sepuluh tahun. Hal ini kemudian disepakati oleh ketiga pemuda tersebut. Betapa girang dan senang nya mereka menikmati apa yang mereka suka selama sepuluh tahun.

Baca juga:


Sudah sepuluh tahun, Jin kemudian menengok ketiga pemuda tadi dengan segala barang yang ia sukai. Gua pertama ia buka, yang didalamnya adalah si Ndaho. Ketika gua dibuka, ternyata Ndaho sudah loyo dengan badan sangat kurus tinggal kulit membungkus tulangnya. Gua kedua kemudian ia buka, ternyata si Kemplo tidak jauh beda kondisinya dengan si Semplo, hanya kulit yang membungkus tulangnya. Terakhir adalah gua ketiga yang ada di Semplo didalamnya. Om Jin sudah menduga kalau si Semplo bakalan loyo hanya tulang di bungkus kulit. Ketika gua ketiga di buka dengan kaget terheran – heran om Jin melihat si Semplo masih sehat segar – bugar seperti sedia kala. Setelah membuka gua om Jin kena marah oleh si Semplo. Om Jin di caci maki dengan sumpah serapah. “Dasar Om Jin Leng*b ngasih rokok tapi malah nggak ngasih korek, si buat apa” seru kempo dengan nada marah.

Nah, ketika sampai di situ teman saya yang sering saya repotkan ini bertanya, kira – kira apa Eko pesan yang dapat di petik dari cerita tersebut? Lalu dengan analisis mendalam saya sampaikan pendapat ku, bahwa rokok tidak seberbahaya daripada main perempuan dan minum – minuman keras, rokok tidak akan menyebabkan kanker, serangan jantung, gangguan pernafasan atau bahkan rokok tidak akan membunuhmu, namun hal tersebut dengan satu syarat. Apa itu ? Ya kalau koreknya tidak ada 😅✌