Kisah Asmara antara Ketua IPNU dan IPPNU

Esai

Prof. Dr. KH. Tholchah Mansoer dan Hj. Umroh Machfudzoh pasca melangsungkan pernikahan
Bagi pelajar Nahdlatul Ulama nama Prof. Dr. KH. Moh. Tholchah Mansoer dan Hj. Umroh Machfudzoh sudah tidak asing di telinga para  kader penerusnya. Terlebih karena kedua tokoh tersebut merupakan pendiri dari orgasisasi keterpelajaran serta badan otonom dari Nahdlatul Ulama yaitu Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Sebagai salah satu founder dan Ketua Umum pertama PP IPNU, sosok dan kehidupan Tholchah Mansoer menjadi sangat penting bukan saja bagi roda organisasi perjalanan IPNU, melainkan juga bagi masyarakat luas.
Banyak yang belum mengetahui bahwa sosok KH.Tholchah Mansoer adalah pribadi yang unik yaitu seorang santri, akademisi, dan politisi. Dibidang agama, beliau adalah santri dan kiai muda kala itu, biasa mengisi kuliah shubuh di masjid kampus IAIN Sunan Kalijaga dan masjid Syuhada’ Yogyakarta. Di bidang Akademis beliau adalah  sarjana dan profesor doktor pakar hukum tata Negara lulusan pertama dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM). Beliau merupakan hukum tata Negara generasi ke dua yang di miliki bangsa ini setelah generasi Prof. Muhammad Yamin, dkk. Dibidang politik beliau saat itu ialah anggota BPH DIY bidang Ekonomi mewakili unsur partai NU. Dengan berlatar belakang santri dan intelektual kharismatik membuat KH. Tholchah Mansoer begitu menjadi idola oleh aktivis mahasiswa kala itu, bahkan garasi rumahnya biasa digunakan sebagai tempat diskusi oleh kader IPNU dan PMII. 
Oke, demikian tadi adalah sedikit background dari KH. Tholchah Mansoer. Membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk mengupas tentang pengabdian, perjuangan, dan peran serta beliau di NU umumnya untuk bangsa ini. 
Menjalin Asmara
Kisah asmara yang terjadi antara anggota IPNU dengan IPPNU bukan menjadi rahasia umum lagi. Mulai dari tingkatan pengurus ranting sampai tingakatan Pimpinan Pusat ternyata soal perjodohan antara keduanya bukan sesuatu hal yang baru. Ternyata kasus ini sudah dicontohkan oleh pendirinya yaitu KH. Tholchah Mansoer dan Hj. Umroh Machfudzoh, beliau berdua sama-sama ketua umum yang pada akhirnya menjadi pasangan secara organisatoris dan pasangan sehidup semati. Please, untuk yang masih jomblo jangan baper.hehe. Ya, Hj. Umroh Mahfudzoh merupakan perintis dan ketua umum pertama dari IPPNU  berselang satu tahun setelah IPNU berdiri yaitu pada tahun 1955. Hj. Umroh Mahfudzoh merupakan cucu pendiri NU yang begitu dihormati, yaitu KH. Wahab Chasbullah. 
KH. Tholchah dan Hj. Umroh  bertemu pertama kali pada forum Konferensi Segi Lima di Solo pada 1954, sebuah forum konsolidasi pertama setelah organisasi IPNU berdiri. Kala itu pelajar putri bermaksud ingin bergabung, namun Tholchah menolak. Akhirnya, IPPNU berdiri sendiri. Perbedaan ini yang ternyata menjadi titik awal kisah asmara keduanya. Hihi. Kesan romantis ditunjukan oleh keduanya dengan sering berkirim surat. Tholchah agak minder karena anak orang biasa, sedangkan Umroh merupakan anak dari Menteri dan tokoh NU. Karena ledekan teman-temannya akhirnya Tholchah memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanya. Singkat cerita mereka berdua pun melangsungkan pernikahannya pada 5 Desember 1957 di Jombang.
Sangat penting bagi pengurus untuk menjaga keharmonisan dalam berorganisasi, sejatinya antara IPNU dan IPPNU merupakan satu keluarga (walaupun saya belum berkeluarga) hehe. Tidak mungkin dalam satu keluarga kedepan akan mengalami probematika layaknya beumah tangga. Saling tidak puas dan merasa kurang sejalan, saling tuding dan menyalahkan, saling merasa benar pasti akan mengalami masalah yang demikian. Harapannya mampu bersikap bijak dan dewasa. Begitulah pentingnya kita beroganisasi. Jika kedekatan emosional harmonis makan tujuan organisasi akan membuahkan hasil yang manis. Seperti halnya Tholchah dan Umroh.
Berjuang di IPNU atau IPPNU memang manfaatnya sangat  banyak. Selain ilmu yang kita dapatkan juga pengalaman berorganisasi bisa kita peroleh. Bonusnya dapat jodoh,hehe. Menurut salah satu senior IPNU Kebumen Pak Shodikun, “Dari pada nggolet jodo nang pasar mendingan nang IPPNU genah apik, gelem nguri-uri NU, tapi di niati sing nggo temenanan” begitu penuturannya. Karena beliau juga dapat istri anggota IPPNU.hehe. Tetapi kemudian jangan di salah niatkan mengikuti kegiatan IPNU-IPPNU hanya untuk sekedar mencari pacar, kalau memang itu yang menjadi tujuan utama sangat tidak dibenarkan. 
Dan, yang paling utama adalah bisa berkhidmat dan ngalap berkah kepada NU, kiai, dan bangsa ini. Bangsa Indonesia bisa utuh sampai sekarang salah satunya adalah peran serta dari Nahdlatul Ulama, secara konsisten menjaga keutuhan dan persatuan jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka.
Dhawuh dan harapan dari pendiri IPNU yang sudah sangat familiar yaitu “Cita-cita IPNU-IPPNU adalah membentuk manusia berilmu yang dekat dengan masyarakat, bukan manusia calon kasta elit dalam masyarakat.”  Semoga kita semua istiqomah dalam menjalankan amanah menjadi pionir-pionir NU. InsyaAlloh selamat dunia akhirat. Aamiin.
Salam Berjuta???
(Trio Agustin)