Kiai Haji Mustofa, Kiai Kampung Sang Pewaris Nabi

Cerpen

CERPEN.

Malam itu habis sholat Maghrib aku sedikit terburu-buru dengan mengendarai motor andalanku walau buthuk. Walau bodinya buthuk gitu, beberapa kali cewe cantik saya bonceng dan nangkring manis di belakangku.

foto hanya ilustrasi. Sumber: danzsquad.wordpress.com 


Terburu-buru karena ada beberapa puluhan surat dari sekolah yang harus saya antar ke beberapa kiai-kiai di wilayah Gombong. Suratnya memang spesial karena ditujukan ke para kiai. Isinya perihal undangan untuk menghadiri acara Halfah Akhirussanah pondok pesantren.

Sengaja saya kirim malam-malam karena siangnya banyak acara seperti halnya seorang pengacara (pengangguran  banyak acara), pulang dari kampus (mahasiswa teladan) hampir maghrib jadi terpaksa surat undangan itu saya kirim setelah sholat Maghrib. Bodohnya, aku nganter surat habis Maghrib, sudah jelas yang namanya kiai pasti kebanyakan masih di masjid atau mushola.

Surat pertama yang saya antarkan untuk Kiai Muhammad. Sesampainya di depan ndalem beliau, kiai sedang mengisi kultum ba’da sholat Maghrib. Saya pun bingung. Ditunggu atau ditinggal aja (berfikir dalam hati). Ditunggu lama, nggak ditunggu sudah jauh-jauh didatangi. Tak disangka (rejekinya anak sholeh) Bu Nyai keluar dari dalam mushola karena beliau mengetahui ada seseorang yang ingin bertemu dengan Pak Yai. Setelah itu saya titipkan suratnya kepada Bu Nyai untuk disampaikan ke Pak Yai.

Surat yang saya antarkan ke beberapa tokoh agama di wilayah Gombong berjumlah sekitar sepuluh pucuk surat. Setelah dari kediaman Kiai Muhammad selanjutnya ke ndalem KH. Mustofa yang jaraknya relatif jauh, karena sudah lain desa.

baca juga: Santri Itu Makhluk Yang Aneh, Walaupun Nakal Tetapi Serba Bisa

Ngeeeeeeng….(suara motor buthuk). Sampailah di depan mushola yang biasa beliau imami. Ku jejek standar motor dan ku cabut kuncinya. Jlegedeg, mesin motor pun mati.

Setelah itu, saya ketuk pintu rumahnya “Tok, tok, tok… Assalamu’alaikum?” salamku. Tak berselang lama ada seseorang menjawab uluk salamku.

“Wa’alaikumsalam…” suara perempuan terdengar lirih dari dalam mushola ternyata itu Bu Nyai Mustofa yang bersebelahan dengan rumah Pak Yai. Tak lama kemudian secara bersamaan tiba-tiba Pak Yai keluar dari balik pintu rumahnya, aku pun langsung menghampiri beliau. Bu Nyai yang semula di dalam mushola akhirnya pun ikut masuk ke dalam rumah.

KH. Mustofa adalah salah satu kiai (kampung) yang biasa mengimami segala bentuk peribadatan di mushola samping rumahnya bersama masyarakat sekitar. Dilihat dari fisiknya beliau kira-kira berusia 65 tahun ke atas. Fisiknya masih sehat dan bugar, begitu pun dengan Bu Nyai.

Monggo mlebet, ngapunten mengkiniki saweg wudlu teng wingking” Saya dipersilahkan masuk oleh beliau. Saat mempersilahkan masuk beliau hanya memakai sarung dan kaos dalam. Kemudian beliau masuk mengambil sehelai pakaian dan dipakainya, setelah itu melayani saya ngobrol dengan sangat ramah.

“Sandale di agem mawon Mas” kata Bu Nyai. Tak disangka sandal Swalow ku dengan pelat berwarna biru nomor 10 di cangking ke dalam rumah oleh Bu Nyai, karena sebelumnya saya lepas di depan pintu masuk. Aku pun merasa terkejut. Rumah beliau berlantai plesteran semen (pelur) seperti kebanyakan orang dulu. Sekarang pun masih ada, namun sudah jarang ditemukan.

Kami pun ngobrol seperti halnya seseorang yang baru kenal. Namun sebetulnya sudah beberapa kali saya sowan ke rumah beliau. Ya, salah satu perantara bertemu dengan beliau saya di suruh untuk mengantar surat. Beliau pun masih ingat dengan saya, walau mungkin beliau lupa namanya. Yang saya herankan beliau selalu berbicara menggunakan bahasa Jawa alus, walau kepada seseorang yang lebih muda sekalipun. 

Beliau sangat sederhana, diruang tamu ada sepeda tua ‘Jangki’ yang terlihat sangat terawat. Sepeda itu merupakan alat transportasi beliau ketika berpergiaan. Termasuk satu tahun yang lalu saat beliau menghandiri acara yang sama seperti isi undangan yang baru saya antar, beliau ke sekolah dengan mengayuh sepedanya tuanya. 

Setiap bertemu dengan seseorang beliau selalu menampakan wajah yang murah senyum, tak sekalipun terlihat seperti orang yang galak. Memandang wajah beliau pun teduh. Sekilas dari KH. Mustofa.
Baru ngobrol sebentar dengan beliau, tak lama kemudian adzan sholat Isya’ berkumandang dari mushola samping rumahnya. Suara adzan yang sangat khas  dari seorang yang cukup dewasa itu dengan langgam kebanyakan orang adzan di kampung-kampung. Akhirnya, saya putuskan untuk pamit pulang. Saya menyadari karena beliau nanti yang akan mengimami sholat. Dengan sedikit tergesa-gesa saya pun menghaturkan untuk pamit pulang.

“Ngapunten Yai kulo badhe pamit, Assalamu’alaikum…?” kataku.

“Wa’alaikumsalam, maturnuwun nggih. Ngatos-ngatos” jawab kiai. “Nggih Yai” jawabku.

Saya pun berjalan keluar dengan mencangking sandal yang awalnya dibawa masuk oleh Bu Nyai dan menghampiri motor yang di parkirkan di belakang mushola. Tiba-tiba Pak Yai mengikuti berjalan di belakangku. Dalam hati kecilku, mungkin beliau mau mengimami sholat Isya bersama jamaahnya kali ya. Eh ternyata, beliau malah mengikuti sampai di parkiran motor. Saya heran betul, beliau mengajarkan bagaimana cara memuliakan tamu. Disitu pun saya benar-benar belajar kepada beliau. Tidak hanya orang yang lebih tua yang dihormati, kepada yang jauh lebih muda beliau pun sampai mengantarkan tamunya sampai halaman.

Menurut Gus Dur kiai kampung itu yang “Perilakunya menjadi contoh bagi kita untuk senantiasa mendekat kepada Tuhan, tidak lain adalah ulama. Walau jaman sekarang ada ulama politik dan sebagainya. Tetapi ulama-ulama yang betul-betul masih ikhlas itulah yang kita pegangi, kalau pakai istilah saya (Gus Dur) ‘Kiai Kampung lah’ yang menghidupi pesantren dan mengisi pengajian-pengajian, mempertahankan madrasah, mengisi masjid-masjid dengan pengajian dan sebagainya. Mereka itulah yang harus kita perhatikan.”

Kiai kampung dengan kiai kota (sebagian) memang berbeda. Kiai kampung benar-benar memberi ketrentraman dan mengayomi masyarakat.

Pak kiai adalah tokoh yang paling kami hormati di desa. Di setiap acara-acara seremonial dan ritual, namanya selalu dipilih pertama kali untuk disebut, dihormati, baru kemudian pejabat, dan tokoh lainnya. Duduknya selalu disilakan di kursi paling depan. Maklum, mungkin karena dialah yang selalu hadir dan paling dekat dengan kami: warga masyarakat.

Kiai kampung memang “is the best…!!!”

lihat juga: Puisi Cinta “AKU BERSAMA DAUN JENDELA” oleh Tigongdoso