Ketika “Scabies” Datang Menyerang

Esai

Pembaca yang budiman, mungkin sudah lama sekali saya tidak menulis di web yang mungkin tidak berfaedah ini. Ya semoga sajah tuan direktur Mas Tigongdoso tidak memotong gaji saya. Ini banyak sekali agenda dan padatnya jadwal di Pondok saya menjadi jarang menulis untuk sekedar berbagi pengalaman yang juga mungkin tidak berfaedah.

baca juga: Untuk Jomblo, Tips Memilih Wanita Yang Baik

Pembaca budiman, saya baru sajah terkena sebuah virus yang sangat menganggu aktivitas saya. Ini bukan virus Corona yang viral di media masa. Namun, lebih parah lagi ini adalah sebuah virus, dimana bagian yang terkena virus bagaikan terkena bisul, gatal kemudian bengkak dan mengeluarkan nanah. Ngeri tho? Waduh pokoknya sakit banget deh lur. Virus ini banyak menyerang di tangan, sikut, lutut, selangkangan dan bagian tubuh yang lembab lainya. Bahkan keparahan jari saya tidak bisa menekuk, untung yang sebelah kanan tidak begitu parah sehingga saya masih bisa menulis. Ditambah sekarang untuk mencegah itu, saya mengurangi makanan yang amis – amis, takut nanahnya tambah banyak dan tumbuh lagi penyakitnya. Nah penyakit itu adalah Scabies atau bisa di sebut dengan gudik.

baca juga: Rekomendasi Tempat Ngopi dan Nongkrong di Gombong

Anda yang sudah merasakan menghuni pondok pesantren terutama pesantren salaf pasti sudah paham dengan Scabies. Scabies pada dasarnya adalah tungau bukan virus. Jadi tungau atau hewan yang sangat kecil ini dapat hinggap ke tubuh manusia terutama tubuh yang lembab dari benda sekitar yang kotor seperti matras, handuk, baju, selimut dll. Tungau ini kemudian bertelur di jaringan bawah kulit dan ketika menetas jumlahnya dibuat dan menghasilkan air yang rasanya gatal. Gatal inilah yang ketika di garuk akan menjadikan infeksi hingga bisa bengkak seperti bisul serta mengeluarkan nanah.

baca juga: Anak SMK Wajib Baca!

Lantas cara menyembuhkan nya bagaimana? Iya pasti yang pertama jaga kebersihan pondok maupun badan, yang kedua jaga pola makan, mandi dengan sabun antibiotik dan kalau sudah terlanjur jangan lupa oleskan scabimate. Ada pula yang ekstrim menyembuhkan nya mulai dadi di rendam air garam, mandi di pantai, mandi di air panas belerang, dan yang paling ekstrim adalah di gosok atau di sikat pakai deterjen.

Kata senior sih kalau terkena gudik itu katanya sudah di cap sebagai santri, taua ilmunya sudah masuk, tapi bagai saya itu cuman kata – kata penghibur. Ya karena kena gudik itu rekasa nya bukan main, sakit, gatel, jijik, ngapa – ngapain susah dll. Daripa mencaci dengan kata jorok, jaga kebersihan dll, maka lebih elegan jawaban seperti itu hehehhee. Nah kalau saya juga demikian tapi ya bagaimana omongan orang tidak bisa saya dengarkan karena kadung sakit di tangan, sampai jari Ndak bisa nekuk periksa dua kali ke puskesmas pun masih sakit.

baca juga: Susahnya Menikah Dengan Orang Bugis

Malu itu yang terjadi ketika aku harus kerja dengan tangan gudikgen. Siswa – siswa pun sebenarnya tau dan mungkin ingin ketawa tapi tidak berani di depanku. Dewan gurulah justru yang paling senyum – senyum melihat aku gudikgen. Iya inilah santri baru, di cap santri oleh Allah SWT.

Tapi ya itu lah gaes pengalaman gudik saya, ya Alhamdulillah masih bisa nulis heheheh