Ketika Dosenku Merasa Tertipu

EsaiObrolan

Cerpen oleh : Trio Agustin

Dalam perkuliahanku ada satu mata kuliah tentang Filsafat yaitu membahas tentang kajian masalah umum dan mendasar tentang persoalan misal eksistensi, pengetahuan, nilai, akal, pikiran, dan bahasa.  Mata kuliah ini cukup sulit karena kita dituntut berfikir, yah mata kuliah yang lain juga sama kali.hehe. Maksudnya begini, sebagai contoh kalau saya kasih pertanyaan.  Tujuan hidupmu apa? Pasti setiap orang mempunyai jawaban yang berbeda. Kemuidian apakah kamu puas dengan jawaban itu?  maka belajar filsafat adalah sesuatu yang mesti dilakukan. Setidaknya dengan mempelajari filsafat, bisa menemukan metode yang lebih tepat untuk memahami dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar tersebut.

Perkuliahanku
Oke. Dosen mata kuliah Filsafat saya namanya Pak Ganteng (samaran) . Orangnya masih muda. Cara mengajar mudengi  mengasyikan, dan santai. Awal masuk kuliah dihari pertama biasanya ada sesi perkenalan. Karena menurut pepatah yang tidak asing lagi di telinga kita bahkan sangat familiar bagi kaum jomblo yaitu “Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Biasanya jargon ini sering digunakan sebagai modus para remaja untuk  mendekati lawan jenisnya. Terbukti cara ini ampuh karena suasana obrolan akan lebih cair dibandingkan ketika pertanyaannya yang normatif, misalnya; Yuk ,kita kenalan? Atau Nama kamu siapa?  Dengan pertanyaan seperti itu tentu suasana akan terkesan formal dan kaku tur wagu sehingga para dedek-dedek gemes kurang tertarik untuk kenal lebih jauh.  Kok jadi mbahas dedek ya…hee
Dikelasku itu termasuk kelas yang luar biasa, satu kelas berjumlah tiga orang saat itu saya yang cowok sendiri. Jadinya ganteng pun sendirian. Proses perkenalan pun relatif singkat saat itu. Dari ketiga orang tersebut lagi-lagi saya lah yang mendapat urutan terakhir. Apakah memang karena saya anak ragilya? Setelah semua temanku; Mbak Yanti dan Mbak Evi selesai menyampaikan perkenalannya, tiba saatnya giliranku. Saya pun maju ke depan kelas yang saat itu disaksikan oleh dua temanku, satu dosen dan beberapa bangku kosong yag jumlahnya lebih banyak dari jumlah orang yang berada di kelas itu.
“Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabaraakatuh?” salamku.
“Wa’alaikumsalam Wr. Wb” jawab semua yang di kelas.
“Baik saya akan memperkenalkan diri, nama saya Trio Agustin. Biasa dipanggil Trio” ku kenalkan dengan penuh percaya diri. Tiba-tiba dosenku memotong perkenalanku.
“Pasti kamu lahirnya bulan Agustus ya?” Tanya Pak Dosen dengan pedenya.
“Wah Bapak nebaknya salah, saya itu lahir bulan Juli Pak bukan bulan Agustus” jawabku dengan tawa kecil.
“Loh kok bisa?” tambah Pak Dosen dengan raut wajah yang sedikit penasaran.
“Ya bisa, banyak loh Pak yang tertipu dengan nama saya” selorohku sambil ketawa.
Tiba-tiba Pak Dosen balik tanya “Termasuk saya yang ketipu ya”. Saya pun menjawab dengan intonasi pelan. “Iya Pak” sambil senyum.
Baca juga:

Tidak hanya dosenku yang terkecoh dengan bulan kelahiran saya, teman-teman zaman ora enak pun banyak yang menjadi korban. Karena mereka mencoba ingin menjadi peramal, namun selalu gagal. Mungkin harus belajar dulu kepada almukarom Mbah Google, jangan lupa sowan dulu dan jangan lupa bawa linthingan (rokok yang dilinthing sendiri). Tanyalah kepadanya “Tutorial Menebak Tanggal Lahir Seseorang” setelah itu baru dipraktikan, saya pastikan kamu bingung.hehe
Banyak yang menganggap bulan lahir saya adalah Agustus karena nama belakang hampir mirip yaitu Agustin. Padahal lahirnya bulan Juli. Awalnya pun saya bingung, kok bisa ya? Untuk menjawab kebingunganku saya pun inisiatif bertanya kepada sang penciptanya yaitu Bapak saya.
“Pak, anakmu ini kan lahir bulan Juli kok dinamain Agustin si, bukan Julianto atau Julio Caesar sekalian. Maksudnya biar nyambung.” tanyaku dengan bercanda.
“Gini ya, kebiasaan orang dulu itu kalau memberi si jabang bayi nunggu sampai 7 hari atau sering disebut dengan istilah puputan. Karena kebetulan kamu lahir di bulan Juli akhir maka sampai tujuh harinya sudah masuk bulan Agustus. Makanya saya kasih nama Trio Agustin” jawab beliau.
“Oh begitu” jawabku.
Jadi bagi teman-teman yang masih belum plong tentang namaku silahkan protes ke Bapak saya saja ya. Karena Bapak saya lahir di luar negeri namun masih sangat erat memegang budaya Jawa.hehe
Salam Telungpuluh!