Ketika Buruh Tani Meminta Barokah kepada Kaum Santri

Esai

Bangsa kita memang masih kurang memperhatikan kaum buruh tani. Kendati banyak penduduk yang berprofesi sebagai petani, namun nyatanya kita masih kurang perhatian dengan pahlawan pangan negeri ini. Mungkin ini sudah menjadi budaya, karena masyarakat menganggap petani adalah profesi yang kurang bergengsi daripada profesi lainya.
Benar juga apa yang tertulis dalam novel “jejak langkah” karya Pramoedya Ananta Toer. Ketika percakapan antara Raden Mas Minke sang tokoh utama dengan ibundanya. Minke yang merupakan anak bupati ini telah tumbuh jadi pencerah bagi bangsanya, ketika dengan kekuatan penanya melalui koran Medan Priyayi mampu membela keadilan bagi “wong cilik”. Pembelaa Minke terhadap kaum terpinggirkan memunculkan perhatian, terutama saat beliau membela para petani yang tanahnya direbut oleh perusahaan gula.

Dalam percakapan itu, bundanya mengatakan bahwa tidak ada yang peduli dengan kaum tani, semakin dekat dengan tanah profesi seseorang semakin tidak dihargai. Hal ini dicontohkan dengan tokoh pewayangan yang seringkali mengkisahkan kaum pandita, santria, bangsawan, raja dan sekitarnya. Tidak ada yang mengkisahkan kaum tani, karena ya memang tidak menarik menurutnya. 

 

Hal tersebut tentu dapat kita aminkan, nyatanya masyarakat kita cenderung profesi yang kerja dengan tangan bersih daripada tangan kotor. Petani dan profesi lain yang dikerjakan dengan memeras keringat banyak tidak dihargai di mata masyarakat. Mulai dari gengsi sampai dengan pendapatan, menjadi alasan mengapa tani tidak dihargai. 

Jangan bandingkan petani di Indonesia, dengan di luar negeri karena hal ini terlalu naif. Petani luar negeri yang cenderung menggunakan lahan besar, teknologi yang canggih dan sistem pertanian yang modern tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia yang kebanyakan petaninya adalah petani kecil. Petani di Indonesia lebih kebanyakan buruh tani, karena lahan yang mereka miliki kecil bahkan tidak memiliki lahan. Maka dari itu tidak heran jika penghasilannya pun kecil, tidak seperti petani luar negeri yang dijadikan patokan. Hal ini juga yang akan berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan kaum tani yang cenderung mendominasi dibawah garis kemiskinan. 


baca juga: Kiai Haji Mustofa, Kiai Kampung Sang Pewaris Nabi

 
Kaum tani yang miskin ini, kerap kali hanya sebagai komoditas politik. Mereka hanya dieksploitasi kemiskinannya untuk kepentingan elektoral. Foto di sawah, dengan memegang seikat padi, dengan senyum mekar dan berkata pro petani dan swasembada pangan menjadi narasi dari pemilu ke pemilu. Sebagai seorang anak buruh tani saya sudah hafal dengan hal itu, jadi tidak kaget jika musim pemilu banyak timses yang datang ke rumah Mbah ku untuk meminta dukungan. Tak jarang, orang yang dulu ada di kalender, kaos atau apapun yang menjadi atribut kampanye yang diserahkan kepada keluarga kami, harus berakhir di bui karena korupsi. 

Lantas siapakah yang harus peduli dengan kaum tani seperti kami ini, karena mungkin sudah jenuh dengan golongan yang pura – pura peduli. Harapan besar kaum tani seperti kami ini sebenarnya ditujukan kepada mereka yang disebut sebagai kaum santri. Mereka yang setiap harinya bersentuhan dengan Al Qur’an dan Hadits diharapkan dapat memberikan petunjuk yang benar bagi hidup kami. Selain itu kami juga memohon barokah dari kalangan santri, dengan mendoakan kami bisa menjalankan tugas bertani. 
 
 
Ketika kami yang kerja dengan arit dan cangkul, bisa menyediakan makanan kepada kaum santri, sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami. Lantas, kami pun memohon akan kaum santri bisa mendoakan kami. Bukan kami meminta anak cucu buruh tani seperti aku harus berjodoh dengan santri, karena terlalu banyak perbedaan, toh bisa jadi merusak masa depan santrinya. Namun kami memohon setidaknya jika tidak bisa memberikan manfaat kesejahteraan bagi kaum seperti kami, setidaknya doa dan barokah dari kaum santri yang kami nantikan. Mungkin kami harus menunggu ratu adil, agar keadilan bisa benar-benar didapatkan oleh golongan seperti kami.