Kereta Api dan Surat Sakti

CerpenEsai

Kereta api masih menjadi moda transportasi idaman masyarakat +62. Kenyamanan, biaya yang relatif lebih murah serta ketepatan waktu menjadi alasan utama para pelanggan untuk memilih kereta api.

Begitu pun dengan saya, yang mencoba pengalaman baru naik transportasi model ini. Untuk jarak yang lumayan jauh dari Jakarta sampai Gombong baru yang pertama kalinya. Jan ngetokna nek ra tau lunga-lunga.

Sebelumnya sudah pernah si, saat mengikuti magang kerja tahun 2015 di Jakarta, naik Commuterline menjadi pilihan saya setiap hari, dan itu hanya melintasi wilayah Jabodetabek. Rute perjalanan dimulai dari stasiun Depok sampai Sudirman, sudah itu saja. Yah lumayan lah buat nambah jejak hidup.

Tentu di masa pandemo ini, eh pandemi ini maksud saya, jauh berbeda dengan kondisi dimana sebelum negara api menyerang. Yang awalnya naik kereta api hanya butuh syarat identitas diri dan nduwe duit go tuku tiket, sekarang jadi tambah satu syarat lagi yaitu hasil rapid test. Walah jan mbayar maning.

Dengan kondisi yang seperti ini tentu saya harus berfikir, bagaimana caranya agar tetap bisa naik kereta api tetapi tidak begitu mengeluarkan biaya yg cukup banyak. Syukurlah saya punya temen (tinggal di perantauan) yang cukup pengalaman dibidang ini, namanya Ilun (Loen Thoek), teman yang satu ini agak aneh, namun keanehannya membawa berkah dan dia sebenarnya sangat cerdik untuk mencari celah ketika mengalami keadaan yang cukup sulit. Ya… sekali lagi memang saya perlu berterima kasih kepada teman yang satu ini. Selain sudah menyumbangkan gagasan jalan tikusnya, si doi juga sudah mengorbankan kontrakan beserta isinya untuk saya jajah selama dua hari. Selain itu, juga bersedia menjadi supir pribadi saya selama di Jakarta. Wuenak kan?

“Wis, balike ngereta bae. Mengko tek tukukna tiket. Ora usah rapid, larang. Mendingan gawe surat keterangan sehat aring dokter.” kata Ilun dengan penuh yakin.

“Wah, genah kue? nang kene tekan pira?” tanya saya.
“Tenang bae murah.”
Saya sebenarnya agak yakin dan tidak yakin dengan apa yang disampaikan Ilun, karena selama ini yang saya dengar memang rapid test masih menjadi salah satu syarat mutlak. Pertimbangan lain, perbandingan murah di kota dengan di kampung juga jelas berbeda. Apa salahnya juga jika saya mengikuti apa yang ia sampaikan.

Kami berdua pun akhirnya muter-muter di wilayah komplek Setia Budi Jakarta untuk mencari klinik atau pun dokter umum yang buka praktek, sekaligus bisa memberikan surat keterangan sehat. Alhasil, kami menemukan dokter yang buka praktek di rumah. Tertulis di dinding rumahnya ‘Dr. Bambang (samaran), buka praktek jam 17.00-19.30 WIB’. Saya duduk sebentar di teras rumahnya, tidak lama kemudian seseorang memberikan secarik kertas antrian kepada saya yang bernomor 11. Saya lihat saat itu memang sudah cukup banyak yang duduk di ruang tunggu.

Hampir satu jam menunggu antrian, tiba saatnya giliran saya. Saya langsung masuk, sementara Ilun menunggu di luar. Ruangannya cukup dingin, saya amati ruang kerjanya tidak jauh berbeda dengan ruangan dokter umum lainnya. Dokter Bambang, usianya sekitar 60-an tahun. Dilihat dari wajahnya beliau masih kental berdarah Tiong Hoa.

Saya duduk di kursi pasien. Beliau langsung tanya.

“Sakit apa?” tanya singkat.
“Tidak sakit, Pak. Saya mau minta surat keterangan sehat.”
“Buat apa?”
“Persyaratan untuk naik kereta, ke kampung.”

Saya lihat Pak Dokter mengambil form surat keterangan sehat dan menulisnya sambil menanyakan identitas saya. Dari cara melayaninya terlihat jelas kematangan beliau dalam berkecimpung di dunia medis.
“Alamatnya mana?” tanya beliau.
“Kebumen, Pak.”
“Disini, kamu tinggal dimana?” beliau bertanya dengan intonasi yang berbeda dari sebelumnya. Saya diam sejenak. Kaget. Saya kira tanya alamat rumah, ternyata alamat domisili Jakarta. Sebagai pendatang yang belum genap dua hari ditanya seperti itu jelas saya bingung. Apalagi ditanya RT/RW-nya.

“Waduh, saya lupa. Tinggal dikontrakan depan, Pak. Soalnya disini saya baru.” jawabku spontan.

Pak dokter pun langsung menebak daerah yang saya maksud, entah benar atau tidak lokasinya saya langsung iyain saja, alih-alih untuk mempersingkat waktu saja.

Setiap gerak-geriknya selalu saya amati, termasuk ketika menulis surat. Saya rasa ada yang aneh dari cara penulisannya. Begitu cepat, tanpa kompromi dan pandangan lempeng ke depan. Setelah selesai beliau langsung mengambil gagang cap basahnya dan dicapkan persis diatas tandatangannya. Jebreeettt, jadi.

“Sudah jadi, Mas!”
Saya mbatin, kok tidak diperiksa layaknya cek kesehatan pada umumnya. Sama sekali tidak dicek. Apakah memang seperti itu prosesnya?

Surat yang baru beliau tulis langsung dikasihkan ke saya. Setelah dicermati dari atas sampai bawah blasss saya tidak bisa baca apa yang beliau tulis, yang bisa saya baca hanya kolom nama saja, yang lain saya angkat tangan. Tulisannya mirip sekali dengan sandi rumput, saya rasa dari penampilanku tidak pramuka banget, pakai hasduk juga tidak, apalagi baret. Diusia yang sudah kawak ini baru pertama melihat tulisan seorang dokter yang seperti itu, penuh estetika.

“Berapa biaya administrasinya, Pak?” tanya saya.
“Enggak bayar. Bawa saja.” jawab beliau. Saya semakin heran dengan dokter yang satu ini. Apakah karena wajah saya terlihat begitu melasi, sehingga diberi dengan cuma-cuma? Saya jadi mengingat-ingat kembali amal apa yang sudah saya perbuat sebelumnya. Kok jadi beruntung sekali saya. Memang kalau rejeki anak soleh memang tidak pernah tertukar. Jujur saya jadi tambah bingung, kok di Jakarta masih ada model yang seperti ini. Jadi semakin paham, ternyata Jakarta tidak semahal yang saya kira.

Sekarang saya jadi berani menyimpulkan bahwa di Jakarta yang gratis tidak hanya kentut saja, tetapi surat keterangan sehat pun bisa didapatkan gratis. Memang Jakarta tidak seseram namanya.

Setelah itu saya memutuskan untuk pamit dan keluar ruangan dengan penuh bahagia. Akhirnya, berkat surat yang diberikan Pak dokter serta keyakinan yang saya miliki, saya bisa duduk manis dan menulis cerita ini di kereta api Bengawan gerbong tiga dengan jurusan stasiun Pasar Senen ke stasiun Gombong, tanpa perlu rapid test.
“Terimakasih banyak, Koh!”


Diperjalanan, 13 Oktober 2020.