Kebumen Termiskin di Jateng dan Beragam Respon dari Netizen Plat AA

Esai

Huh… akhir-akhir ini santer diperbincangkan tentang status kabupaten Kebumen tahun 2019 menduduki pemuncak klasemen sementara kabupaten termiskin di Jawa Tengah. Sepintas kok ngenes banget ya mendengar diksi ‘termiskin’. Saya sebagai warga Kebumen gel merasa geli-geli gimana gitu mendengarnya. Yah walaupun saya miskin beneran, tetapi saya berusaha agar semua kebutuhannya yang saya inginkan tercukupi.hee. Jujur saya tidak ingin menjadi orang kaya, hanya ingin menjadi orang yang cukup saja. Mau beli pesawat dan rumah lantai sembilan ya ndilalah duitnya cukup. Saya mah simpel, yang terpenting kebumen harus kaya. “Semua  saya lakukan  tidak lain demi bangsa dan negara” walah bajigurrr.

“Berdasarkan prosentase penduduk miskin yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kebumen memiliki angka indeks kemiskinan tertinggi yakni 16,82%. Dengan luas wilayah sekitar 1.281 km², kabupaten Kebumen memiliki penduduk sekitar 1,3 juta jiwa dan tercatat ada sekitar 201.000 rumah tangga atau sekitar 700.000 jiwa masuk dalam kategori warga miskin dengan penghasilan per bulan kurang dari Rp 363.000. Padahal, Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) Kebumen 2020 ditetapkan sebesar Rp 1.835.000′” sumber dari detik.com. Wowww…..

Indeks tersebut menjadi pro dan kontra di kalangan netizen plat AA khususnya Kebumen. Ada yang merespon dengan penuh syukur ada pula yang mengolok-olok dengan kinerja pemerintah, tidak sedikit juga ada masyarakat yang merespon dengan dijadikan bahan lelucon semata, dan tidak sedikit juga masyarakat bersikap selow dengan pelabelan yang melekat sebagai kabupaten termiskin.

Misalnya muncul reaksi dari netizen, ada yang memuji  dengan kinerja pemerintah “Kerja cerdas, naik peringkat dari 2 menuju 1 wkwkwk”, wah kalau menurut saya si bangga ya kalau mendapat peringkat satu di sekolah. Kok kalian pada protes si…heee.

Disoroti dari kaca mata spiritual agama, pencapaian pemerintah Kebumen dirasa sudah berhasil memberikan harapan kepada masyarakat untuk masuk ke surga lebih cepat tanpa hisab, karena tujuan satu-satunya manusia tentu tiada lain bisa masuk surga. Apa gunanya jika hidup bermewah-mewahan terus ujung-ujungnya masuk neraka, kan nggak lucu.

Dengan pencapaian tersebut mampu memberikan angin segar kepada masyarakat  untuk mendapatkan tujuan hidupnya setelah kehidupan di dunia. Inilah fasilitas VIP yang diberikan oleh pemerintah.

Bahkan pencapaian itu disamakan seperti mengikuti ajang pencarian bakat Indonesian Idol dengan mendapatkan Golden Ticket yang pasti diharapkan semua kontestan. Kira-kira golden ticketnya  dapat dari siapa ya? apakah Ari Lasso atau Luna Maya, eh maksudnya Bunda Maya Estianti, hehe. Coba kalau menjadi orang kaya, mesti menunggu waktu lama menunggu proses hisabnya, apakah hartanya halal atau tidak. Mungkin saya kasih catatan ya, kalau jadi miskin asal jangan ndresula. heee.

Selain itu juga ada yang merasa Kebumen mendapatkan status kabupaten termiskin tidak berpengaruh karena kekayaan belum tentu membuat masyarakatnya menjadi bahagia, sebaliknya kemiskinan belum tentu membuat orang menjadi menderita karena kebahagian tidak bisa diukur dengan jumlah materi. Asyekkk….

Pemerintah selayaknya mendengar aspirasi dari masyarakat terkait kemiskinan yang menimpa Kebumen dengan lapang dada, bagaimana pun rakyat lah pemegang otoritas kekuasaaan sesungguhnya. Sebetulnya pemerintah adalah pelayan rakyat dan rakyat adalah rajanya. Harapan masyarakat sangat simpel, yang penting bahagia.

Maka saya apresiasi betul dengan langkah yang dilakukan kabupaten Kebumen (miskin ora papa sing penting bahagia) dengan membangun air mancur di depan pendopo rumah dinas bupati yang indah, berwarna merah, kuning, hijau di langit yang biru, pelangi-pelangi ciptaan Tuhan. Loh kok saya jadi nyanyi yak,hee.

Biaya yang digelontorkan untuk membangun air mancur tersebut menelan harga Rp 1,1 milyar dari APBD 2019 disaat yang sama mendapatkan predikat kabupaten termiskin di Jawa Tengah. Kalau miskin kan ndak mungkin membangun air mancur semahal itu kan. heee.

Sehingga mampu menjawab pertanyaan bahwa Kebumen tidaklah miskin, potensi alam, budaya, dll yang dimiliki Kebumen sangatlah kaya. Tinggal kreatif dan tahu saja apa yang diperlukan masyarakat. Toh, mendapatkan status termiskin juga tidak berpengaruh yang berarti, untuk saya tapi.

Ndak apa-apa miskin yang penting bahagia, tetapi kalau miskin mencoba untuk bergaya yang ada kedangkrak-dangkrak setelahnya. Mari kita dukung pemerintah Kebumen agar mampu keluar dari segala pelabelan yang negatif dengan berkontribusi dengan apa yang kita bisa dan mampu. Karena pemerintah tidak bisa berjalan dengan baik tanpa dukungan dari masyarakat.

Ndresula ulih ning aja kesuwen..heee.