Jangankan Beda Pilihan Capres, Beda Cara Makan Bubur Sajah Indonesia Bisa Bubar

Esai



Pertahanan dan keamanan adalah tema debat yang cukup seru malam tadi. Masing-masing kandidat memaparkan visi dan misi dalam bidang tersebut. Namun nyatanya pertahanan dan keamanan yang sejatinya bertujuan untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa, masih fokus pada acaman dari luar negara. Padahal menurut pengamatan saya banyak sekali ancaman dari dalam yang dapat menganggu pertahanan dan keamanan negara. 

Negara tercinta kita berdiri dari banyak sekali perbedaan. Dengan wilayah geografis yang luas dan salah satu wilayah strategis tentu banyak sekali gangguan-gangguan tidak terkecuali gangguan dari dalam negeri. Acaman dalam negeri ini sejatinya adalah akibat dari banyak perbedaan yang menyebabkan konflik horizontal diantara bangsa Indonesia yang melawan bangsanya sendiri.

Jangan jauh-jauh membahas perbedaan agama, suku, ras, dan kepercayaan, beda pilihan pilpres sajah Indonesia menjadi rawan konflik horizontal. Tentu hal ini bisa menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan negara kita, sayanganya jagoan kita tadi malam tidak membahas rekonsiliasi akibat polarisasi yang terjadi selama pemilu.


Selain perbedaan besar yang menyebabkan gesekan dalam masyarakat, ternyata banyak juga perbedaan kecil yang menjadi masalah konflik yang cukup menganggu keamanan dan pertahanan. Perbedaan ini terletak dalam cara makan bubur masyarakat Indonesia. Tuh kan, jangankan beda pilihan pilpres, wong beda cara mangan bubur bisa antem-anteman kok.hehehe. Patut disadari wahai pembaca yang budiman, dalam masyakarat kita ada dua sekte cara makan bubur, yakni mereka yang mengikuti mazhab makan bubur diaduk dan makan bubur tidak diaduk. Makan bubur sejatinya adalah budaya bangsa Indonesia, tentunya selain korupsi dan meng-ghibah yang sudah cukup dikenal. Maka dengan menjadikan budaya, cara makan bubur pun sudah menjadi lifestyle tersendiri bagi kalangan masyarakat kita.

Contoh tragis akibat perbedaan cara makan bubur ini dialami oleh Wardoyo (37) pedagang bubur yang biasa mangkal di wilayah Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Pedagang bubur ayam ini harus iklas melihat gerobak jualanya hancur berantakan karena ulah dari dua orang pelanggannya.

Usut punya usut dua orang yang bertanggungjawab atas hancurnya gerubat Wardoyo adalah JE (23) dan AH (26). Keributan bermula saat keduanya memesan seporsi bubur ayam, saat menerima bubur si JE kemudian mengaduk buburnya. Aksi JE mendapatkan reaksi dan kritikan dari AH bahwa bubur ayam seharusnya tidak diaduk, namun hal tersebut tidak digubris oleh JE. Adu mulut pun tak dapat dihindarkan sehingga mereka menyelesaikan masalah dengan hal yang lebih jantan yakni dengan adu fisik. Adu fisik yang mereka lakukan ternyata berdampak “eksternalitas” terhadap pedagang bubur yang harus ridho kalau gerobak dagangannya rusak berantakan dan terancam gulung tikar.

Menurut Kapolsek Kebayoran Lama AKBP Alam Tribuana mengatakan bahwa pelaku yang sudah diamankan di Polsek ini akan dijerat dengan pasal 170 KUHP tentang perusakan barang umum dan  pasal 406 KUHP tentang perusakan barang milik orang lain. Hal ini jelas karena pedagang bubur mengalami kerusakan dan kerugian akibat kejadian ini (19/04/2015).

Perbedaan pandangan dalam makan bubur ini merupakan timbulnya gejala “radikalisme” dalam makan bubur. Hal ini tentu saja yang mana JE menganggap bahwa makan bubur diaduk adalah tindakan yang tepat. My food, is my rule dimana makan bubur diaduk adalah bagian dari kebebasan alamiah manusia. Sedangkan menurut AH makan bubur tidak diaduk adalah kebenaran yang haqiqi. Mengaduk bubur menurut nya adalah status kehidupan yang lebih rendah.

Hal ini tentunya menggugah kewaspadaan kita terhadap ideologi makan bubur yang terus berkembang. Seharusnya pihak terkait mengawasi perkembangan ideologi makan bubur, jangan sampai radikalisme makan bubur meningkat di kedua pihak. Tentunya bentrokan akibat fanatisme makan bubur tidak terulang kembali.

Kita tidak mungkin menginginkan hal yang sama terjadi kepada Wardoyo yang terancam gulung tikar akibat peristiwa tersebut. Terlebih gerobak yang ia gunakan untuk menyambung hidup tersebut masih belum lunas. Pak Wardoyo berinisiatif meminta ganti rugi kepada kedua belah pihak, dan berharap masih bisa memberikan nafkah kepada anak dan istrinya.

Dengan peristiwa tersebut tentu kita sadar betapa gangguan Kamtibmas ada dimana-mana akibat banyak perbedaan diantara kita. Bahkan perbedaan makan bubur saja bisa membuat negara kita bubar. Itu baru bubur, lantas bagaimana dengan perbedaan pilihan pilpres yang kebenciannya sudah tertanam di masyarakat. Mungkin pilpres hanya berakhir sampai April tapi kebencian yang ditanam belum tentu bisa mereda dan fitnah serta ujaran kebencian masih dipertanggungjawabkan diakhirat kelak. Lagi-lagi demi jabatan masyarakat kecil yang dikorbankan, padahal bibir politikus kita selalu bernyanyi membela wong cilik.