Jamu Simbol Keagungan Peradaban

BudayaEsai

Bagi masyarakat nusantara tentu tidak asing lagi dengan kata-kata jamu selain telah lekat sebagai obat tradisional, jamu adalah tradisi dan budaya yang telah melegenda di masyarakat, kebiasaan menjamu tidak hanya sebatas kebutuhan tapi sudah seperti keharusan dan kebiasaan, hal inilah yang menunjukan bahwa jamu bukan sekadar obat melainkan sebuah tradisi dan budaya yang harus dijaga dan terus dilestarikan. Jamu juga menjadi cerminan pengetahuan leluhur kita. Dimana warisan ilmu yang terkandung di dalam jamu menjadi khazanah keunggulan peradaban, simbolisme dan kebanggan,hal seperti ini yang semestinya dirawat dan ditanamkan agar generasi mendatangpun tahu bahwa jamu tidak hanya obat tapi dia juga tradisi,budaya dan symbol keunggulan perdaban pengetahuan.

Jamu merupakan sesuatu yang unik, jamu ada mungkin jauh sebelum keilmuwan modern muncul semisal farmakologi ataupun botani,menurut berbagai literatur jamu berasal dari dua suku kata jampi dan usodo yang berasal dari Bahasa jawa kuno, jampi berarti aji aji (doa doa) usodo yang berarti penyembuhan atau pengobatan. Jadi pengobatan dengan berbagai ramuan dan obat obatan menggunakan doa doa secara normatif mungkin seperti itu,tetapi pada perkembangan selanjutnya istilah usodo jarang digunakan, orang lebih terbiasa menyebut jampi. Dan oleh para dukun istilah jamu pada saat itu dikenalkan sehingga populerlah penyebutan tersebut.

BACA JUGA: Kebumen Termiskin di Jateng dan Beragam Respon dari Netizen Plat AA

Jamu diyakini telah lama menjadi bagian yang melekat pada kehidupan masyarakat Nusantara pada  relief candi Borobudur ada sebuah pahatan yang menceritakan kebiasaan orang zaman itu meracik dan meramu jamu sebagai minuman. Dari sejarahtergambarkan  juga bahwa jamu (jampi jampi) doa -doa memiliki aspek spiritual ,dan makna  osodo lebih menunjukan tentang kesehatan. Orang Nusantara yang terkenal memiliki berbagai sisi kehidupan magis agaknya menjadi pembenar bahwa hal itu sah adanya dan jamu merupakan bagian kecil sisi spiritual tersebut dan ketika kita datang ke masyarakat Jawa yang masih punya tradisi sesaji sebagian besar sesaji yang digunakan adalah tumbuhan jamu-jamu an.

Kalau ditelisik lebih lanjut sebenarnya menjamu bukan hanya sebagai pengobatan tetapi upaya menjaga kesehatan,  selama ini,orang-orang meminum jamu tidak hanya pada saat ketika mereka butuh saja,bisa dilihat semisal dari jenis delapan minuman jamu (beras kencur,kunyit asam cabe puyang dll.)dari resep-resep tersebut lebih kepada menjaga dan memelihara kesehatan tubuh, dan juga masyarakat jawa percayapada resep jamu ituyang mampu memelihara kesehatan, tentu berbagai resep dan olahan jamu telah melalui berbagai seleksi secara tradisional,Jamu mampu berperan sebagai detoks mengurangi berbagai resiko penyakit degeneratif seperti yang mulai diresahkan sekarang ini.

Tiap akhir tahun Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan merilis data terkait riset kesehatan dasar (Riskesdas)dalam lima tahun terakhir penyakit degeneratife selalu tumbuh,penyakit degenerative adalah penyakit tidak menular atau dikarenakan fungsi organ tubuh yang melemah, penderita penyakit seperti stroke,ginjal,kanker,diabetes melitus,hipertensi menglami kenaikan, kanker yang pada 2013 hanya 1,4 persen pada 2018 menjadi 1,8 persen,ginjal kronis dari 2 persen menjadi 3,8 persen,begitu pula dengan stroke yang awalnya 7 persen menjadi 10,9 persen. Ini menunjukan angka kesehatan yang mengkhawatirkan pola hidup masyarakat sekarang yang tidak teratur mengonsumsi berbagai macam bahan makanan dan minuman ditengarai menjadi penyebabnya. Masyarkat Indonesia yang lebih banyak mengonsumsi makanan tinggi gula dan garam yang itu memang enak di lidah menjadi persoalan namun ketika hal itu dijadikan alasan tentu menjadi kurang objektif tidak seimbangnya konsumsi yang berat dengan yang sehat lebih dititik beratkan, warisan tradisional mengkonsumsi jamu harusnya kembali digencarkan di masyarakat, karena kembali lagi bahwa jamu bukanlah obat semata tetapi juga merupakan prevention dan preventation (pencegahan) resiko berbagai penyakit yang bisa sewaktu waktu menyerang tubuh.Dan ini adalah tradisi yang diajarkan oleh nenek moyang kita, bahkan dalam prasasti Madhawapura peninggalan kerajaan Majapahit dijelaskan saat itu sudah ada para peracik jamu ini menjadi fakta jamu telah eksis dan dikenal kalangan bangsawan dari zaman dulu.

BACA JUGA: Saya Bukan Warga Kebumen Yang Misquen

Persoalan sekarang adalah ketika jamu itu digambarkan sebuah hal yang kuno dan merupakan konsumsi orang tua saja, sama seperti batik dulu yang sudah terlupakan kemudian lewat berbagai kampanye dan edukasi masyarakat kembali sadar bahwa batik perlu dilestarikan alhasil sekarang batik menjadi trend dan gaya hidup yang orang Indonesia bangga memakainya. Ini juga harus diterapkan juga pada jamu dalam rangka menyelematkannya dari ambang kepunahan karena kalah dengan obat kimia dll. Ketika jamu ini tumbuh pasti akan menumbuhkan berbagai sector di sekitarnya namun sebelum berpikir hal lain paling tidak kita memulai dari hal sederhana alasan klasikal lain adalah “jamu itu pahit dan kurang keren” padahal sekarang jamu sudah berbagai macam variasi tidak hanya pahit tidak hanya minuman, dan yang masih menjadi tantangan adalah sulit mencari jamu yang dekat dengan kita justru oat obat yang tidak diketahui dari mana rimbanya.

Berbicara jamu juga berbicara perihal sumber ketersedian bahan baku di Alam dan bumi Nusantara di Indonesia sendiri baru sekitar 200 spesies tumbuhan yang digunakan sebagai ramuan jamu padahal Indonesia memiliki 30 ribu tanaman obat dari sekitar 40 ribu yang ada di dunia. Ini adalah suatu kekayaan tersendiri bangsa Indonesia namun belum bisa dikelola dengan baik, menjaga eksistensi jamu berarti menjaga warisan budaya dan pengetahuan pendahulu cermin perdaban yang tinggi bisa dilihat dari jamu yang membina kesehatan secara preventif bukan hanya mengobati setelah terkena sakit. Namun berdasarkan rangkuman dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam kurun 2008-2018 orang dikota kota besar cenderung lebih banyak mengonsumsi obat-obat modern.

Ada tantangan besar yang harus dijawab pemerintah dan elemen masyarakat tentang bagaimana mempertahankan eksistensi jamu dan mengembangkannya sehingga memiliki daya Tarik dan kembali dikonsumsi masyarakat secara luas. Jamu bukan hanya milik pembuatnya,penjualnya,atau orang yang membelinya tapi jamu adalah milik bangsa Indonesia yang kita semua punya tanggung jawab mempertahankan dan mengembangkannya.

BACA JUGA: Yang Penting Makan, Urusan Lain Belakangan