Jaman Edan, Menurut Ronggowarsito di Serat Kalatidha

Sastra


Sebagai orang Jawa (khususnya)  dan Indonesia, kita patut bersyukur karena telah dikaruniai para leluluh atau nenek moyang yang luhur, budinya, sopan dalam bersosial, halus tutur katanya, luas ilmunya, alim dan kuat tirakatnya. Selain kita berterima kasih pada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan kita juga berterima kasih kepada para leluhur kita. Untuk apa? Yakni untuk ilmu yang telah mereka turunkan sampai pada generasi kita saat ini.

Terus, ilmu apa yang telah diwariskan oleh para leluhur itu? Yaitu, berupa kitab-kitab kuno yang dikarang langsung oleh para leluhur, sebagai contoh adalah Raden Ngabehi Ronggowarsito yaitu seorang filsuf dan sastrawan Jawa yang menulis Serat Kalatidha dengan menggunakan bahasa Jawa yang berbentuk tembang macapat. 

Serat Kalatidha ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Kalatidha merupakan salah satu karya sastra ternama. Bahkan, mbah-mbah di desa masih banyak yang hafal tentang syair dari kitab Kalatidha. 
Menurut Ronggowarsito pengelompokan zaman terbagi menjadi 4 bagian, sebagaimana berikut:
  1. Krtayuga, abad yang keadaanya baik 100% baik. Kejujuran, kebaikan hati, kedermawanan dll.
  2. Thretayuga, abad yang memiliki 75% kebaikan. Orag menjadi jahat dan gemar bertengkar, namun mereka masih menuaikan tugas dengan sungguh-sungguh.
  3. Dwaparayuga, abad ini memiliki 50% kebaikan. Kebohongan, kejahatan, ketidakpuasan, dan percecokan menjadi-jadi. Kebaikan hati dan sikap suka mengampuni turun setengah.
  4. Kaliyuga, abad hanya memiliki 25% kebaikan.  Abad ini adalah abad kemrosotan karena kebaikan tinggal seperempatnya.  Dikisahkan bahwa abad ini, banyak manusia menjadi hamba dan sudra. Manusia menjadi budak harta bendanya, hidupnya dikuasai godaan. Manusia tidak lagi ramah dan kemiskina merajalela. 
Baca juga:
Nah, dari keempat pembagian zaman tersebut, Serat Kalatidha karangan R. Ng. Ronggowarsito ini menggambarkan situasi yang terjadi pada zaman terakhir, yakni kaliyuga. Kalatidha bukanlah satu-satunya karya sastra dari R. Ng. Ranggawarsito masih ada yang lainnya. Menurut latar belakang penulisan kitab ini, konon Ranggawarsito menulis syair ketika pangkatnya tidak dinaikan seperti yang diharapkannya. Lalu ia menggeneralisir keadaan ini dan ia menganggap secara umum bahwa zaman dimana ia hidup merupakan zaman gila karena terjadi krisis. Saat itu Ranggawarsito merupakan pujangga kerajaan di Keraton Kasunanan Surakarta. Ia adalah pujangga panutup ata pujangga terakhir. Sebab setelah itu sudah tidak ada pujangga kerajaan lagi. 

Bait pertama Serat Kalatidha:

Mangkya darajating praja;
Kawuryan wus sunyaruri;
Rurah pangrehing ukara;
Karana tanpa palupi;
Atilar silastuti;
Sujana sarjana kelu;
Kalulun kala tidha;
Tidhem tandhaning dumadi;
Ardayengrat dene karoban rubeda.

Makna dari bait pertama kurang lebih tentang keadaan Negara yang sudah demikian merosot karena tidak ada lagi yang member teladan. Pada bait pertama ini, kelihatan bahwa ki pujangga mencoba melakukan analisis situasi mengapa masalah ini terjadi. Yang diatas tidak memberikan teladan, kebanyakan orang meninggalkan norma , para cendekiawan terbawa arus keraguan. 

Jika saat itu Ranggawarsito saat masih hidup merasa zamannya sudah gila, lalu bagaimana dengan zaman ini? Zaman yang penuh dengan hoax, kejahatan merajalela, pemimpin yang mengumbar kemewahan padahal rakyat menangis. Apakah lebih baik? Lantas, zaman apakah yang pantas untuk disematkan? Wallohu A’lam..

(Tigongdoso)

Daftar Pustaka.
Abimanyu, Sudjipto. 2014. Intisari Kitab-kitab Adiluhung Jawa Terlengkap. Jogjakarta: Laksana.