Godaan di Hari Jum’at

Obrolan

Ada yang menggoda kekhusyuan saya saat mendirikan solat Jum’at tadi siang. Bermula seorang pria yang perawakan gemuk berada di barisan depan saya persis. Tak berselang lama, ada segerombolan anak kecil yang mondar-mandir berlarian di antara shaf jamaah sholat Jum’at. Ketika itu sholat sudah memasuki rakaat pertama. Saya anggap itu sudah hal yang biasa, namanya juga anak kecil. Masih sangat untung mereka mau menginjakan kaki di masjid, walaupun cuma main dan berlarian di masjid. Dengan hal seperti itu biasanya tidak mengganggu fokus sholat saya, alhamdulillah iman dan imron saya tidak goyah.

Namun, saat anak tersebut berlarian di depan barisan shaf saya (tepat dibarisan pria gemuk), secara reflek membuat saya kaget, tiba-tiba pria tersebut menjulurkan tangannya dengan gerakan yang cepat, menyetop anak-anak tadi yang sedang berlarian di depannya. Padahal beliau lagi sholat. Persis seperti peragaan Pak Polisi yang hendak menilang pelanggar lalu lintas. Saya amati dari belakang, dari pakaiannya pria tersebut bukan polisi, malah hanya memakai celana olahraga dan kaos. Sepertinya sih guru olahraga, kalau ndak ya instruktur senam, kok bakat gitu ya, mirip polisi.hehe.

Kekhusyuan saya digoyahkan dengan kejadian tersebut. Saya pun jadi tambah penarasan, apa yang menyebabkan pria tersebut menilang anak-anak yang berlarian tadi. Setelah saya condongkan kepala sedikit ke arah kanan, karena pandangan saya tertutup oleh pria tersebut. Ahkirnya, saya menemukan jawabannya, ternyata pria tersebut (sebelum sholat) meletakan hapenya yang bermerek ‘apel kroak’ di depannya, saya tahu harga ponsel itu relatif mahal, jika dibandingan dengan hape butut saya seperti langit dan bumi. Saat solat pun saya berfikir dan berkata dalam hati “pantesan, beliau menahan anak kecil tersebut, dari pada hapenya remuk dipidek bocah cilik mendingan distop aja, kan slamet.” Bajigurrrr…kok saya jadi memikirkan hape orang lain ya, padahal kan lagi sholat. Sial memang, iman saya semurah harga hape tadi, masih mendingan jika hape itu milih sendiri, lah punya orang.

Setelah selesai sholat Jum’at saya pun langsung pulang. Berhubung saya berboncengan bareng Pak Komar kami memutuskan untuk mampir sejenak di warung es, tempatnya masih di kompleks masjid. Cuacanya memang cukup panas, sangat pas lah jika di siang bolong nge-es. Saya dengan Pak Komar sering berdiskusi lintas disiplin ilmu, dari yang paling rumit yaitu kehidupan dan tak luput juga hal yang paling sederhana yaitu babagan es.

Nek semisal ngumbe es mlebu suarga maen, ya?” menanyakan hal tersebut ke saya.

Iya, maen. Nyong tek dodolan lah nang neraka, pasti laris. Tapi aku nengkana kur dodolan tok, penghunine ben wong lia bae. gkgkgk” jawab saya sambil tertawa, karena pertanyaanya ngawur saya pun jawab dengan ngawur.

Kami berdua pun memesan es degan, tapi sayang karena sudah keburu habis, alhasil es dawet pun kami jadikan alternatif pengganti degan. Tak membutuhkan waktu setahun untuk menunggu jadi, es dawet rasah mbayar pun siap di sedot, karena itu traktiran dari bos Komar.

Saat kami sedang menikmati gurihnya es dawet, datanglah ibu-ibu yang hendak membeli es, kami pun cuek. Setelah berselang lama tiba-tiba ibu tersebut bertanya ke saya “Mas, njenengan apa sing adine bakul sayur ya?” saya kaget dan kikuk mendengar pertanyaan si ibu. Saya tak langsung menjawab pertanyaan ibu tadi, diam sejenak dan berfikir dalam hati “apakah karena wajahku mirip sayur ya, atau memang wajahku sudah begitu pasaran, atau bagaimana?”. Saya masih tetap diam. Masih untung bukan tanya “Mas, njenengan adiknya terong-terongan ya?”. Wah, kalau sampai itu terjadi, saya ngguling-ngguling di depan ibu tadi.

Pertanyaan ibu itu pun langsung dijawab cepat oleh penjual es-nya. “Hiss…ya udu, kue sing kerja nang Ma’arif wetan (sebutan untuk SMK Maligo) udu adine tukang sayur, sembarangan rika!” menjawab pertanyaan ibu tadi sambil tersenyum. Secara spontan ibu pembeli es pun meminta maaf ke saya “Aduh,,,sepurone ya Mas, tak kira njenengan adine bakul sayur, mirip soale.” sahut ibu dengan sedikit merasa tidak enak. “Mboten napa-napa, Bu, hee” menjawab perminta maafan dari ibu tadi. Tak lama kemudian kami pun pulang.

Memang hari Jum’at ini begitu absurd, atau mungkin karena bertepatan dengan Jum’at Kliwon ya? Entahlah, bagaimana pun hari Jum’at harus tetap bersabar agar mendapatkan rahmat-Nya, syukur pisan dapat bonus yaitu anaknya Pak Rahmat…