Gitar Negeri

PuisiSastra

Oleh: Tigongdoso, 2018
Gus Dur, Cak Nun, Sudjiwo Tejo, Gus Mus


Ketika kulihat bibir senar yang bergetar
Tak kala seperti alunan gitar, membius siapapun yang mendengar
Petikannmu diruang kosong menggema seperti perkataan mama
Senarmu berawal besaran dan berakhiran kecil seolah tak ada sekat namun semua terpikat
Gitarmu itu senarnya kriting tetapi kenapa kok suaramu nyaring
Nada-nada indah bertaburan disaat jadwal dipentaskan
Bukan berati mengharap imbalan tapi itu bukti kecintaan dan pengabdian
Dikala suasana aman kau petik menimbulkan rasa nyaman
Tetapi disaat genting kau kendorkan mereka yang sinting
Sebaliknya, disaat suasana tenang kau putar dengan riang
Pagelaran kau menyesuaikan
Saat yang hadir berpakaian jas kau berirama jes
Saat yang hadir berpakaian seadanya suara akustik menentramkan
Kau tahu kapan harus jreng, jring, jrung dan jrang

Sebenarnya gitar jenis apa ini..?
Mendayung-ndayung seratus telinga terlampaui
Akupun mencari-cari
Sialnya, gitar ini tak dipasarkan
Jikapun aku temukan, itu hanya gitar loakan yang berbunyi tak berirama
Mengaku-ngaku suaranya nyaring padahal garing
Membuat telinga mereka bising
Dimanakah aku harus mencari?
Apakah di pasar layar televisi yang mengejar popularisasi, sehingga banyak dimanipulasi oleh kepentingan pribadi
Oh…Tuhanku…!
Temukanlah aku dengan gitarku, aku ingin menjadi manusia, aku sudah terlalu hina
Terlalu banyak kebencian yang kuperlihatkan
Terlalu banyak caci yang aku utarakan
Aku rindu alunanmu…
Akupun bertanya kepada nada kejujuran
Dimanakah gitarku……………?
Nada pun berkata:
Gitarmu itu berjalan ke pelosok-pelosok negeri!
Menyemai panggung-panggung damai, tanpa haus panggung yang ramai.
Menebar nada menyejukan
Menyebar nada kemanusiaan
Menyuburkan spiritualitas
Itulah gitar yang sesungguhnya.